LOVE – [1]

LOVE – [1]

Im Yoona – Oh Sehun

Bae Irene – Kim Jongin/Kai

Standard Disclaimer Applied

KAIGERL’s Present

-OoO-

 

 

Im Yoona—putri dari pasangan pebisnis terkemuka di Korea yang saat ini berusia 18 tahun dan berada di tahun terakhir sekolah menengah atas. Gadis dengan tinggi 168 cm, bertubuh kurus, dan berwajah cantik itu sangat terkenal di Seoul High School. Sayangnya, ia terkenal dengan predikatnya sebagai gadis tidak baik. 

 

 

Sombong. Angkuh. Pemarah. Itu adalah sederet sifat buruknya yang seringkali dirasakan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Meski keluarganya berpengaruh, tapi tak ada yang ingin berteman dengannya, kecuali seorang gadis kutu buku bernama Jieun. Entah bagaimana ceritanya gadis kutu buku itu bisa berteman dengan Yoona.

 

 

-OoO-

 

 

Setelah memarkirkan kendaraannya, Yoona turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam gedung sekolahnya yang sangat besar. Ini masih pagi tapi ditangannya terdapat bungkusan kerupuk kentang dan mulutnya yang tak berhenti mengunyah. Gadis itu tampak sangat mempesona, tentu saja tak ada yang meragukan kecantikannya. Tapi mengingat perangainya yang buruk, para pria harus berpikir banyak untuk mendekatinya.

 

 

*bruk

 

 

“Awh!”

 

 

Seseorang menabrak gadis itu membuat cemilannya jatuh berhamburan ke lantai. Yoona mengumpat kesal, ia mengangkat wajahnya dan menemukan sesosok namja bertubuh tinggi berkulit tan sedang nyengir ke arahnya.

 

 

Omooo! Aku tak sengaja, mianhae.” Ujar namja itu dengan nada dibuat-buat.

 

 

“Kau akan mati, Kim Kkamjong!”

 

 

Tanpa menunggu lagi, Yoona berlari mengejar namja itu dengan sekuat tenaga. Ia berteriak di sepanjang koridor tak mempedulikan tatapan aneh yang mengarah padanya. Memang bukan rahasia lagi kalau Yoona sering terlibat percekcokan dengan namja bernama Kai itu.

 

 

YA! BERHENTI KAU, KKAM—“

 

 

Tiba-tiba Yoona menghentikan larinya ketika mata rusanya menangkap sesosok namja tampan berkulit putih dan berwajah datar. Gadis itu meraba rambutnya yang dikuncir satu dan mengibaskan seragamnya. Senyum manis terpasang diwajahnya ketika namja itu semakin dekat.

 

 

“Selamat pagi, Sehunie.” Sapanya ramah.

 

 

Tapi namja itu melewatinya begitu saja tanpa berucap apapun. Yoona mendengus kesal, ia berlari kecil menghampiri namja itu dan mengapit lengannya.

 

 

“Minggu ini kau ada waktu tidak? Bagaimana kalau kita berkencan?” Tanya gadis itu antusias.

 

 

“Maaf. Bisakah kau melepas tanganmu?” Namja bername-tag Oh Sehun itu menatap Yoona dengan tatapan dinginnya.

 

 

“Tap—“

 

 

“Dan aku tidak ada waktu untuk berkencan, Yoona ssi.”

 

 

Gadis itu menatap sendu punggung Sehun yang semakin menjauh. Ia tersenyum pahit setelah menerima penolakan entah yang keberapa kalinya.

 

 

-OoO-

 

 

Oh Sehun—pria tampan yang menurut siswi perempuan nyaris mendekati sempurna. Ya, nyaris. Jika saja wajahnya lebih ramah dan dihiasi senyuman, mungkin ia akan dicap sempurna. Tapi justru dengan wajahnya yang stoic menjadi salah satu daya tariknya.

 

 

Sehun digilai oleh seluruh gadis di sekolahnya, tak terkecuali Im Yoona. Gadis itu bahkan terang-terangan menyatakan perasaannya pada Sehun, bahkan ia mengklaim Sehun sebagai miliknya. Yoona tak akan segan-segan berlaku keras kepada gadis yang berani mendekati Sehun.

 

 

Sayang sekali, namja itu tak pernah menanggapi segala pernyataan cinta Yoona padanya. Ia sangat cuek bahkan sering memarahi gadis itu. Jika orang lain yang melakukan hal seperti itu pada Yoona, maka dia tak akan selamat. Tapi karena itu Sehun, Yoona tak pernah berbuat apapun padanya.

 

 

-OoO-

 

 

Yoona baru saja pulang dari sekolah, dengan wajah lesu ia merebahkan tubuhnya di sofa. Kemudian seorang wanita yang merupakan satu-satunya pelayan sekaligus pengasuh datang dari dapur sambil membawa segelas minuman dingin.

 

 

“Nona sudah pulang?”

 

 

“Iya, baru saja.”

 

 

Wanita itu duduk di samping nona mudanya. “Tadi, nyonya menelepon dan menanyakan kabar nona.” Mendengar itu, Yoona langsung menegakkan tubuhnya. Ia menghadap wanita itu dan memegang kedua bahunya.

 

 

“Be-benarkah? Eomma menelepon?” Tanyanya tidak percaya.

 

 

“Iya, nona.”

 

 

“Lalu, kapan eomma dan appa pulang?”

 

 

“Nyonya tidak mengatakan apapun tentang itu.”

 

 

Raut wajah bahagia itu berubah sendu. Pelayan wanita—yang dipanggil Han ahjumma oleh Yoona—memeluk nona mudanya dan mengusap-usap punggungnya. Ini adalah sisi lemah seorang Im Yoona yang tidak diketahui orang lain.

 

 

Sejak kecil, Yoona sudah ditinggal oleh orang tuanya. Selama ini pula, ia diasuh oleh Han ahjumma dan seorang supir, tapi sekarang sudah berhenti. Yoona kecil tumbuh dalam rasa kesepian dan haus akan perhatian. Karena itu ia berbuat hal-hal tidak wajar untuk menarik perhatian orang-orang di sekitarnya, terutama orang tuanya sendiri.

 

 

-OoO-

 

 

Yoona menghela nafas, sudah 8 kali ia menelepon namun tidak diangkat oleh ayah maupun ibunya. Ia bisa menebak bahwa ayahnya terlalu sibuk bekerja dan ibunya sibuk mengurusi saudaranya. Ya, Yoona memiliki seorang kakak perempuan bernama Im Yuri. Yuri menderita gagal ginjal dan melakukan pengobatan di Amerika. Karena hal itu, nyonya Im memilih untuk tinggal di Amerika agar bisa lebih maksimal menjaga putrinya.

 

 

Tak ingin terlarut dalam kesedihan, gadis itu mengganti piyama tidurnya dengan dress ketat berwarna hitam. Ia mengoleskan bedak tipis di wajahnya, juga eyeliner untuk mempertegas garis matanya. Ia sedang bersiap untuk ke klub.

 

 

Gadis di bawah umur tidak diperbolehkan masuk ke klub, tapi dengan sedikit paksaan ia bisa masuk ke sana dengan bebas. Yoona meneguk minuman dengan kadar alcohol yang rendah, ia tidak gila untuk mabuk berat dan pulang mengemudikan mobilnya.

 

 

Yoona turun ke lantai dansa dan menggerakkan tubuhnya bersama yang lain. Kemudian ia dikejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba menariknya keluar dari kerumunan, bahkan sampai ke luar klub. Yoona mengumpat kesal dan berusaha melepas cengkraman orang itu di pergelangan tangannya.

 

 

“Lepas! Lepaskan aku!”

 

 

“Dasar bodoh! Apa kau ingin ditangkap polisi karena ketahuan mengunjungi klub malam, huh?”

 

 

“Aku. Tidak. Peduli.”

 

 

Gadis itu bersiap kembali ke dalam, namun ia kalah cepat dengan orang yang menyeretnya tadi. Kai. Pria itu mencengkram pergelangan tangan Yoona dan memaksanya masuk ke mobil. Kai mengambil kunci yang ada di tas kecil Yoona dan mengemudikan kendaraan gadis itu menjauh dari klub.

 

 

“Aku membencimu, Kkamjong!”

 

 

“Aku juga membencimu, bodoh!”

 

 

-OoO-

 

 

Yoona menebak-nebak kemana Kai akan membawanya. Tanpa diduga, namja itu membawanya ke kediaman keluarga Oh. Rumah Sehun. Yoona hendak bertanya mengenai hal ini, namun ia urungkan. Jika boleh jujur ia tidak ingin bertemu Sehun dalam keadaan kacau seperti ini.

 

 

Kai memegang pergelangan tangan Yoona dan membawanya masuk ke dalam mansion mewah itu. Setelah berjalan cukup jauh, keduanya tiba di sebuah ruangan yang terlihat seperti bar kecil. Yoona menatap sekitarnya, ada beberapa orang di sana. Kris, Chanyeol, Tao, dan Johnny. Mereka semua adalah teman-teman Sehun.

 

 

“Nah, di sini kau bisa melakukan apapun sesukamu.”

 

 

Yoona menatap Kai sebal, setelah membawanya ke sini namja itu malah bergabung dengan teman-temannya dan meninggalkan ia sendirian. Tak ingin ambil pusing, Yoona mendudukkan dirinya di sofa dan meminum minuman yang entah milik siapa.

 

 

“Itu minumanku.”

 

 

Gadis itu menoleh ke samping dan mendapati seorang namja pucat menatap dingin ke arahnya. Biasanya ia akan bersikap manis pada Sehun, tapi kali ini suasana hatinya tidak mendukung. Ia memilih mengacuhkan pria itu dan kembali meneguk minumannya.

 

 

Sehun mendudukkan dirinya di samping gadis itu, ia mengambil botol minuman dan menuangkannya di gelas berisi es batu. Pandangannya menatap lurus pada teman-temannya yang sedang bermain biliar, kemudian melirik gadis di sampingnya yang terus meneguk minumannya tanpa henti.

 

 

“Cukup!” Sehun merebut gelas di tangan Yoona.

 

 

“Kembalikan! Kembalikan gelasku.” Gadis itu berusaha meraih kembali gelasnya. Tapi Sehun tidak membiarkan itu terjadi, kondisi gadis itu sudah sangat memprihatinkan.

 

 

“Kau sudah mabuk berat, nona.” Sehun segera merebut botol minuman yang hampir dijangkau oleh Yoona.

 

 

“Kembalik—hik. . .kembalikan.”

 

 

Yoona berdiri ketika Sehun berdiri, namun karena ia sudah kehilangan separuh kesadarannya, gadis itu terjatuh namun segera ditahan oleh Sehun. Namja itu berdecak pelan, ia mengangkat gadis itu ke bahunya dan membawanya keluar dari ruangan itu tanpa mempedulikan panggilan teman-temannya.

 

 

“Akan dia apakan gadis itu?” Tanya Kris tidak mengerti.

 

 

“Entahlah.” Ujar Tao.

 

 

Sedangkan Kai, namja itu hanya menatap kepergian Yoona yang terkulai lemah di bahu Sehun. Ia baru tersadar setelah Johnny menepuk bahunya. “Ada apa?” Tanya namja blasteran itu.

 

 

“Tidak. Tidak ada apa-apa.”

 

 

-OoO-

 

 

Sehun menurunkan Yoona di atas tempat tidur. Gadis itu masih saja meracau tidak jelas, sesekali ia menangis kemudian mengumpat entah kepada siapa. Sehun berkacak pinggang melihat kondisi gadis itu, ia seperti melihat sisi lain dari Yoona.

 

 

Sehun mendudukkan tubuhnya di pinggir tempat tidur, dan ia begitu terkejut ketika Yoona langsung memeluknya. Samar-samar ia mendengar suara isakan dari mulut gadis itu. Tanpa sadar, tangannya tergerak untuk mengusap punggung rapuh itu.

 

 

“Sebenarnya kau ini orang seperti apa?” Gumamnya pelan.

 

 

-OoO-

 

 

Pagi ini Yoona terbangun dengan kepala yang berdenyut nyeri. Ia menatap sekelilingnya, dan gadis itu bersyukur bahwa ia berada di kamarnya sendiri. Ia tak tahu bagaimana bisa ia kembali ke sini, karena seingatnya ia diseret Kai ke rumah Oh Sehun.

 

 

Tak ingin buang-buang waktu, gadis itu segera bergegas dan menuju ke sekolah. Hari ini ia sangat tidak bersemangat, Jieun yang melihat ekspresi sahabatnya tentu sudah mengerti. Ya, hanya Jieun yang tahu tentang masalah Yoona.

 

 

“Jangan memasang wajah seperti itu. Sama sekali bukan Im Yoona yang sombong dan kejam.” Ujar Jieun.

 

 

Yoona hanya mengedikkan bahunya pelan, ia mengeluarkan bukunya dan mulai menyalin tugas yang tidak sempat ia selesaikan. Beruntung, Park saem masuk tepat setelah ia menyelesaikan acara menyalinnya.

 

 

Kini semua perhatian tertuju pada seorang siswi yang masuk bersama dengan Park saem. Seorang gadis cantik bertubuh mungil yang membuat beberapa siswa laki-laki bersiul, dan siswi perempuan yang mulai berkomentar dari jung rambut sampai ujung kaki.

 

 

“Perkenalkan, dia adalah teman baru kalian.”

 

 

Anyeong haseyo, Bae Irene imnida.” Gadis itu tersenyum manis kemudian membungkuk beberapa derajat.

 

 

“Irene ssi, silahkan duduk di manapun yang kau mau.” Ujar Park saem.

 

 

Tanpa berpikir lama, gadis itu menghampiri sebuah bangku yang berada di urutan kedua dari depan. Siswi baru itu tersenyum pada namja yang mulai sekarang akan menjadi teman sebangkunya.

 

 

-OoO-

 

 

Yoona melotot tak percaya ketika Sehun dengan mudahnya membalas senyuman siswi baru itu. Yang lebih mengherankan lagi, Sehun membiarkan gadis itu duduk di sampingnya. Bahkan Yoona tak pernah diperbolehkan untuk duduk di tempat itu.

 

 

“Tidak bisa dipercaya, berani sekali gadis itu duduk di samping Sehun.” Ujar Yoona sambil mengepalkan tangannya. “Lihat saja, aku akan membuat perhitungan dengannya.”

 

 

“Jangan seperti itu, memangnya kau mau kejadian itu terulang lagi?”

 

 

“Memangnya aku peduli?”

 

 

Jieun hanya menggelengkan kepala mendengar penuturan Yoona. Gadis berkacamata itu hanya bisa berharap agar siswi baru itu bisa selamat, karena jika Yoona sudah memutuskan maka ia benar-benar akan melaksanakannya.

 

 

Selama pelajaran berlangsung, Yoona tak pernah sekalipun mengalihkan pandangannya pada sosok Sehun. Ia heran bagaimana bisa Sehun cepat akrab dengan siswi baru bernama Irene itu. Yoona mengakui bahwa Irene sangat menarik, tapi Sehun tidak semudah itu untuk tertarik dengan gadis manapun.

 

 

*Deg

 

 

Tiba-tiba ia merasa nyeri pada organ hatinya ketika melihat Sehun mengacak rambut gadis itu. Yoona mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia merasa tidak sanggup melihat interaksi keduanya.

 

 

-OoO-

 

 

Saat jam istirahat, Yoona segera menghampiri Sehun dan mengajaknya ke kantin. Tapi seperti biasa, namja itu menolaknya. Yoona sudah terbiasa dengan penolakan Oh Sehun, tapi kali ini ia merasa sakit yang berkali lipat karena Sehun menolaknya dengan alasan ingin mengajak Irene berkeliling sekolah.

 

 

Lagi, Yoona hanya menatap sendu punggung Sehun yang semakin menjauh. Ia mengepalkan kedua tangannya ketika Sehun merangkul bahu gadis itu dengan akrab. Tapi ia mencoba untuk tersenyum, tak ingin memperlihatkan sisi lemahnya pada orang lain.

 

 

“Sepertinya pangeranmu menemukan putri lain.”

 

 

Entah sejak kapan Kai ada di sana, oh tentu saja Kai ada di sana karena mereka berada di kelas yang sama. Laki-laki berpenampilan urakan itu menarik blazer Yoona dan menyeretnya keluar dari kelas.

 

 

“Kau ingin membawaku ke mana?” Tanya Yoona.

 

 

“Kantin. Aku lapar sekali.” Ujar Kai sambil mengusap perutnya.

 

 

-OoO-

 

 

Yoona menarik pergelangan tangan Irene dengan kasar, membuat gadis bertubuh mungil itu mengaduh kesakitan. Yoona menyeret gadis itu ke toilet kemudian menguncinya.

 

 

“Si-siapa kau?” Tanya Irene.

 

 

“Kuperingatkan kau untuk tidak mendekati Sehun, karena di adalah milikku.”

 

 

“A-Apa?”

 

 

“Apa perkataanku kurang jelas? Baiklah. Kukatakan padamu untuk segera menjauh dari Sehun kalau kau ingin hidupmu tenang.”

 

 

“Tapi—“

 

 

Irene tidak menyelesaikan kalimatnya karena Yoona segera pergi dari sana. Jujur saja ia cukup takut melihat ekspresi gadis cantik tadi, tapi sayangnya memiliki sikap yang sangat kasar. Ia bahkan merasa nyeri di pergelangan tangannya.

 

 

“Siapa dia? Seenaknya saja menyuruhku menjauhi Sehun.”

 

 

-OoO-

 

 

Yoona merapikan buku-bukunya kemudian memasukkannya ke dalam tas. Ia memakai ranselnya dan bersiap keluar dari kelas yang sudah sepi. Selama pelajaran terakhir, Yoona ketiduran di perpustakaan dan baru kembali beberapa saat yang lalu saat kelas sudah selesai.

 

 

“Apa yang kau katakana pada Irene, huh?”

 

 

Yoona terkejut mendapati Sehun tiba-tiba mencegatnya di koridor. Namja itu menatapnya tajam, berbeda dari tatapan dingin yang sering ditujukan kepadanya.

 

 

“A-Apa yang kau bicarakan?” Yoona mencoba untuk tersenyum.

 

 
“Jangan berpura-pura bodoh, Im Yoona!”

 

 

Gadis itu menghela nafas pelan, dalam hati ia memaki Irene karena telah menceritakan kejadian itu pada Sehun. Tentu saja Irene bercerita, kalau tidak mana mungkin Sehun mengetahuinya.

 

 

“Jadi, gadis itu mengadu padamu, huh? Menyebalkan sekali.”

 

 

“Dengarkan aku Im Yoona—“

 

 

“Kau yang harus mendengarkan aku, Sehunie. Aku mencoba untuk menjauhkanmu dari gadis genit itu, okay? Jadi seharusnya kau berterima kasih padaku.”

 

 

“Im Yoona!” Ujar pria itu sedikit keras. “Kau tidak berhak melakukan itu. Kau tidak berhak melarangku untuk dekat dengan orang lain.”

 

 

“Tentu saja aku berhak melakukannya. Kau itu hanya milikku, tidak ada yang boleh dekat denganmu kecuali aku.”

 

 

“Dengar! Jika aku mendengar kau melukai Irene, aku tidak akan memaafkanmu.” Ujar Sehun dengan penuh intimidasi. “Jangan sampai kejadian itu terulang lagi.”

 

 

-OoO-

 

 

Yoona menumpukkan kepalanya di stir mobil. Beberapa kali gadis itu menghela nafas, kini pikirannya dipenuhi oleh banyak pertanyaan mengenai hubungan Irene dengan Sehun. Yoona sangat menyukai Sehun, bahkan namja itu adalah cinta pertamanya. Sehun adalah orang yang mampu membuatnya melupakan sejenak tentang masalah keluarganya.

 

 

Banyak yang berkata bahwa ia hanya terobsesi pada Sehun, tapi Yoona sangat tahu bahwa perasaannya untuk namja itu benar-benar tulus. Ia tidak peduli dengan sikap Sehun padanya, ia tidak bisa berhenti mencintai namja itu meski terkadang ia harus menerima perlakuan menyakitkan darinya.

 

 

Yoona rela melakukan apapun untuk Sehun, meski ia harus membully siswi yang mencoba untuk mendekatinya. Karena itu pulalah, Sehun tidak menaruh simpati pada Yoona.

 

 

Setelah menenangkan pikirannya, Yoona menstarter mobilnya meninggalkan area parkir sekolah. Ia sudah memutuskan untuk memberi pelajaran pada Irene sebelum gadis itu semakin dekat dengan Sehun.

 

 

-OoO-

 

 

“Aku tidak menyangka Irene pindah ke sekolah kita.”

 

 

“Ya, kukira dia tidak akan kembali.”

 

 

Sehun hanya diam, tidak bergabung dengan teman-temannya yang sibuk membicarakan kepindahan Irene. Ia telah mengenal Irene sejak kecil, mereka selalu berada di sekolah yang sama. Hingga saat tamat SMP, Irene memilih untuk melanjutkan sekolah di luar negeri.

 

 

“Mungkin saja gadis itu akan menjadikan Irene sebagai korban selanjutnya.” Ujar Tao memperingatkan.

 

 

“Tenang saja, aku yakin kali ini Sehun tidak akan tinggal diam.” Timpal Kris sambil melirik Sehun.

 

 

-OoO-

 

 

Yoona tidak bisa menahannya lebih lama lagi, kedekatan Sehun dan Irene membuatnya tidak bisa tenang. Akhirnya, saat jam pelajaran terakhir selesai, Yoona menyeret Irene ke gudang sekolah yang sangat sepi. Ia bisa melakukan itu karena sekolah sudah sepi, terlebih lagi Sehun tidak masuk pelajaran terakhir karena ada urusan dengan klub basket.

 

 

*bruk

 

 

“Awh!”

 

 

Tanpa rasa kasihan sedikitpun, Yoona mendorong tubuh mungil gadis itu ke gudang. Irene meringis pelan ketika sikunya tergores benda tajam di ruangan berdebu itu. Ia tidak berani menatap wajah Yoona yang tampak sangat menakutkan di matanya.

 

 

“A-apa yang akan kau lakukan padaku?” Tanya Irene.

 

 

“Apa kau sebegitu bodohnya sampai tidak mengerti perkataanku waktu itu?.” Yoona berjongkok dan menyamakan tingginya dengan Irene yang jatuh terduduk di lantai. “Irene ssi, aku akui kau memiliki wajah yang begitu menawan, tapi tetap saja kau tidak pantas untuk Sehun.”

 

 

“Atas dasar apa kau berkata seperti itu? Memangnya kau siapanya Sehun?” Irene mencoba untuk melawan.

 

 

“Aku mencintai Sehun, dan hanya aku yang pantas untuknya.”

 

 

“Lucu sekali, memangnya kenapa kalau kau mencintai Sehun?” Irene tersenyum meremehkan. “Sekarang aku tanya padamu, apa Sehun mencintaimu?”

 

 

Yoona tertegun, ia merasa tertohok dengan perkataan Irene. Jika dipikir lagi, Sehun tidak pernah berkata apapun mengenai perasaannya pada Yoona. Selama ini, hanya Yoona yang terus-menerus mengklaim Sehun adalah miliknya.

 

 

“Asal kau tahu saja, aku dan Sehun sudah saling kenal sejak kecil.” Irene bisa melihat perubahan raut wajah gadis di depannya. “Kau bukan siapa-siapa, kau hanya orang baru yang seenaknya mengklaim Sehun adalah milikmu. Memangnya kau pikir Sehun senang dengan sikapmu padanya ?”

 

 

“Ta-tapi aku mencintainya.”

 

 

“Sayangnya Sehun tidak mencintaimu.”

 

 

*plakk

 

 

Yoona menampar pipi gadis itu sangat keras hingga menimbulkan warna kemerahan di pipi putih Irene. Gadis itu meringis sambil memegang pipinya yang terasa perih. Yoona berdiri dan memaksa Irene ikut berdiri.

 

 

“Coba katakan sekali lagi.”

 

 

“Sehun. Tidak. Mencintaimu!”

 

 

Kalimat itu membuat pertahanan Yoona melemah, ia seperti kehilangan percaya dirinya. Perlahan ia melepas sentuhannya di seragam Irene.

 

 

“Kau hanya gadis tidak berperasaan yang selalu mengganggu Sehun. Kau dan perasaan menyedihkanmu itu hanya menjadi parasit dalam hidupnya. Kau—“

 

 

“CUKUP!”

 

 

*brukk

 

 

Tanpa sadar Yoona mendorong Irene sangat keras hingga kepala gadis itu terbentur benda keras. Yoona terkejut melihat cairan merah merembes dari kepala gadis itu. Dengan tubuh bergetar, Yoona mendekati Irene dan menggoyangkan tubuhnya.

 

 

“A-Apa kau bisa mendengarku?” Kedua mata gadis itu berkaca-kaca.

 

 

*brakk

 

 

Yoona terlonjak kaget ketika pintu gudang dibuka dengan keras. Matanya membesar ketika mendapati sosok laki-laki muncul dengan nafas terengah-engah. Yoona bertemu pandang dengan lelaki itu, dan ia bisa melihat raut kemarahan tergambar jelas di wajah lelaki itu.

 

 

“IRENE!”

 

 

Laki-laki itu—Sehun—mendorong Yoona dan menghampiri Irene yang tergeletak tak sadarkan diri. Ia begitu panik mendapati cairan merah di belakang kepala gadis itu. Ia menatap Yoona seperti meminta penjelasan atas apa yang terjadi.

 

 

“Se-Sehunie aku—“

 

 

“DIAM!” Ujar Sehun keras membuat Yoona terlonjak.

 

 

“Ja-jangan tinggalkan aku.” Ujar Yoona ketika Sehun hendak pergi.

 

 

“Jangan menyentuhku!” Ujar Sehun kasar.

 

 

“Ta-tapi Sehunie—“

 

 

“Berhenti memanggilku Sehunie.” Sehun melayangkan tatapan tajamnya membuat Yoona ciut seketika. “Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiranmu.”

 

 

“Aku mencintaimu, ku-kumohon jangan tinggalkan aku.” Yoona memohon dengan sangat, bahkan air matanya mulai membanjiri pipinya.

 

 

“Mencintaiku?” Sehun tersenyum meremehkan. “Lupakan saja perasaan menjijikkanmu itu.”

 

 

Yoona jatuh terduduk seiring dengan air matanya yang mengalir semakin deras. Sehun pergi dan meninggalkannya di ruangan itu. Yoona menangis keras dan menumpahkan semua rasa sakitnya. Ia benar-benar hancur karena Sehun menganggap perasaannya adalah sesuatu yang bodoh.

 

 

Dengan tatapan kosong, gadis itu keluar dari gudang. Tubuhnya bergetar dan ia berjalan sempoyongan seperti orang yang kehilangan tenaganya. Hal terakhir yang ia ingat adalah seseorang menghampirinya sebelum pandangannya berubah gelap.

 

 

-OoO-

 

 

Entah sudah berapa lama Kai menunggu, namun gadis itu belum menunjukkan tanda-tanda akan siuman. Ya, Kai yang menemukan Yoona ketika gadis itu pingsan dan memutuskan untuk membawa Yoona ke apartemennya.

 

 

Kai menebak-nebak apa yang menyebabkan gadis itu pingsan. Tapi ia bisa memastikan bahwa ini ada hubungannya dengan Sehun. Di sekolah tadi, Kai bertemu Sehun berjalan terburu-buru sambil menggendong Irene yang tidak sadarkan diri. Bisa dipastikan bahwa itu adalah perbuatan Yoona. Kai sudah menduga sebelumnya bahwa cepat atau lambat pasti Yoona akan berbuat sesuatu yang buruk terhadap Irene.

 

 

Eungh. . .”

 

 

Ia terlalu larut dalam pikirannya hingga tak menyadari bahwa Yoona sudah siuman. Kai mendekat ke arah tempat tidur dan memastikan keadaan gadis itu.

 

 

“Apa kau butuh sesuatu?” Tanya Kai.

 

 

“Sehun!” Yoona memegang tangan Kai secara tiba-tiba membuat namja itu cukup terkejut. “Sehun marah padaku. Apa yang harus kulakukan?”

 

 

“Sudah sepatutnya ia marah padamu. Kau telah melukai seorang Bae Irene.”

 

 

“Apa maksudmu?”

 

 

“Bae Irene. Dia tidak seperti gadis lain yang biasanya kau bully, dia adalah teman dekat Sehun sejak kecil. Bisa dibilang Irene adalah gadis yang istimewa bagi Sehun.”

 

 

Tatapan Yoona berubah sendu. “Apa karena gadis itu Sehun selalu menolakku?” Tanyanya.

 

 

“Mungkin saja.” Kai melirik gadis itu melalui ekor matanya. “Sepertinya aku harus memberitahumu sesuatu.”

 

 

“Apa itu tentang mereka?”

 

 

“Irene dan Sehun sudah berteman sejak kecil, sama seperti aku. Tapi Sehun bahkan lebih dekat dengan gadis itu. Sejak dulu sampai sekarang, Sehun tak pernah menaruh perhatian khusus pada gadis lain kecuali Irene. Saat tamat SMP, Irene bersama keluarganya pindah ke luar negeri, dan itu membuat Sehun menjadi lebih tertutup dan dingin seperti sekarang, ia sangat kehilangan Irene pada waktu itu.” Kai memberi jeda sejenak. “Sekarang Irene kembali, dan aku pikir kau telah membuat kesalahan besar dengan mengganggu gadis itu.”

 

 

-OoO-

 

 

Malam itu Yoona tidak bisa tidur dengan tenang, ia menangis terus-menerus. Perkataan Sehun begitu menyakiti hatinya. Sehun sudah seringkali menolaknya, tapi kali ini penolakan Sehun begitu menyakitkan.

 

 

“A-apa perasaanku padamu—hiks. . .menjijikkan bagimu?”

 

 

Gadis itu memeluk boneka rillakuma besar pemberian ibunya saat ulang tahunnya yang ke-7. Dalam tangisnya, ia menyebut-nyebut orang tuanya. Di saat seperti ini, ia sangat membutuhkan sosok ibu yang bisa memeluknya dengan hangat dan menenangkannya. Namun apa daya, bahkan dalam setahun ia hanya 2 kali bertemu orang tuanya.

 

 

“Hiks. . .eomma—hiks. . .” Yoona menangis hingga lelah dan akhirnya tertidur.

 

 

-OoO-

 

 

“Pulanglah, kau sudah menjaganya seharian.” Kai memegang bahu Sehun.

 

 

“Aku tidak akan pergi sampai dia siuman.” Sehun menatap Irene yang masih terbaring lemah dengan perban yang membalut kepalanya.

 

 

“Apa kau tahu, Yoona—“

 

 

“Jangan menyebut nama gadis itu sekarang.” Sehun berkata dengan tenang, namun terselip amarah dalam kalimat itu.

 

 

Kai menghela nafas pelan, ia terkadang bingung dengan sikap sahabatnya yang satu itu. Tapi yang ia tangkap sekarang adalah Sehun sedang dilemma. Kembalinya Irene membuat sesuatu yang telah tersimpan rapi dalam hati Sehun muncul kembali. Kai hanya berharap semoga Sehun bisa mengatasi masalahnya.

 

 

-OoO-

 

 

Pagi ini Yoona bangun dengan mata bengkak dan wajah sembab. Han ahjumma terus mencekcokinya dengan banyak pertanyaan , namun hanya ditanggapi dengan gelengan kepala dan jawaban ‘aku baik-baik saja’ oleh Yoona.

 

 

“Oh iya, semalam nyonya menelepon dan memberitahu ahjumma agar nona menelepon nyonya pagi ini.”

 

 

Begitu mendengar Han ahjumma menyebut kata ‘eomma’ Yoona langsung bereaksi. Cepat-cepat ia mengambil ponselnya dari dalam saku blazernya dan mencari nomor kontak ibunya.

 

 

“Halo, Yoona-ya.”

 

 

Eomma.” Yoona hampir menangis ketika mendengar suara ibunya.

 

 

“Yuri, kakakmu—“

 

 

“Kenapa dengan Yuri unnie?”

 

 

“Kakakmu kritis, dia membutuhkan bantuanmu sayang.”

 

 

-OoO-

 

 

Semuanya serba mendadak, Yoona dibantu Han ahjumma menyiapkan segala keperluannya untuk berangkat ke Amerika. Mengenai tiket, orang kepercayaan keluarganya telah mengirim seseorang untuk menjemput Yoona di bandara.

 

 

“Hati-hati nona, sampaikan salamku untuk tuan, nyonya, dan nona Yuri.”

 

 

“Iya, ahjumma jaga rumah baik-baik. Mungkin aku akan seminggu di sana, jadi lebih baik ahjumma kembali ke Busan saja.” Yoona segera memasuki taksi dan menuju bandara Incheon. Mengenai sekolah, kata orang tuanya mereka telah mengurus masalah itu.

 

 

-OoO-

 

 

Sudah 3 hari Kai terus menanyakan keberadaan Yoona pada Jieun, namun gadis berkacamata itu tidak tahu sama sekali tentang Yoona. Ia juga telah bertanya kepada pihak sekolah, namun tidak ada jawaban yang memuaskan baginya. Ia heran, gadis itu seperti menghilang begitu saja tanpa kabar.

 

 

“Kau terlihat sangat gelisah.”

 

 

“Bagaimana tidak gelisah? Yoona sudah tidak masuk selama 3 hari.”

 

 

“Mungkin dia sedang mengasingkan diri di gereja dan merenungkan perbuatannya.” Jawab Sehun tak acuh. Meski sebenarnya, namja itu ikut mempertanyakan keberadaan Yoona. Tentu saja ia menyimpan rasa ingin tahunya dalam hati.

 

 

“Sehun oppa!”

 

 

Irene mendudukkan dirinya di sebelah Sehun setelah menarik Kai agar bangkit dari sana. Kai hanya mendengus sebal dan memilih untuk menjauh dari dua sejoli itu.

 

 

“Jangan banyak bergerak dulu, kepalamu belum benar-benar sembuh.”

 

 

“Tidak. Aku sudah merasa baikan.” Jawab Irene sambil tersenyum manis.

 

 

Sehun ikut tersenyum melihat wajah Irene. Ia menatap lekat sosok gadis yang dulu mampu membuat hatinya berdegup tidak karuan. Ya, dulu. Karena entah kenapa ia tidak merasakan perasaan itu lagi sekarang.

 

 

-OoO-

 

 

Perlahan kedua kelopak mata itu terbuka, iris madu itu menangkap sosok wanita yang sedang duduk di kursi roda sambil tersenyum. Yoona kembali menutup matanya ketika merasakan genggaman hangat di tangannya.

 

 

“Yoona-ya.”

 

 

Sudah berapa lama Yoona tidak mendengarkan suara itu. Yoona membuka kembali matanya dan menatap Yuri yang sudah berkaca-kaca. Matanya ikut berkaca-kaca ketika menyadari bahwa bukan hanya Yuri yang ada di sana, tapi juga ibu dan ayahnya yang sangat ia rindukan. Entah kapan terakhir kali mereka berkumpul seperti ini.

 

 

Yoona mengedipkan mata membuat cairan bening menetes dari sudut matanya. Tangan Yuri bergerak untuk menghapus cairan bening itu, kemudian mengusap lembut surai adiknya.

 

 

“Bagaimana keadaanmu?”

 

 

“A-Aku baik unnie.” Ujar Yoona dengan suara yang agak serak.

 

 

Setelah koma selama 3 hari pascaoperasi, akhirnya Yoona siuman. Ia begitu bahagia mendengar bahwa operasinya sukses dan keadaan Yuri semakin membaik meski tetap harus mendapat perawatan lebih lanjut.

 

 

Meski keadaannya masih lemah, tapi Yoona sangat bahagia karena bisa berkumpul kembali dengan keluarganya. Ia senang bisa mendapat perhatian orang tuanya tanpa harus membuat masalah—seperti yang ia lakukan selama ini.

 

 

“Apa tidak boleh aku tinggal di sini saja dan tidak usah kembali ke Korea?” Tanya Yoona dengan nada merajuk pada Yuri.

 

 

“Tidak bisa, sayang. Kau harus menyelesaikan sekolahmu.”

 

 

“Aku bisa menyelesaikannya di sini.”

 

 

“Oh ya, bukankah kau menyukai seseorang di sekolahmu?”

 

 

Pertanyaan Yuri membuat Yoona kembali teringat pada Sehun, padahal selama di sini Yoona berusaha tidak memikirkan namja itu. Untuk sekarang, ia hanya ingin menikmati kebersamannya dengan keluarganya.

 

 

“Ya, tapi dia tidak menyukaiku.”

 

 

“Bagaimana bisa? Siapa yang berani menolak adikku yang cantik ini?”

 

 

“Cantik saja tidak cukup.”

 

 

Yuri tersenyum lembut pada adiknya, meski tidak tinggal bersama tapi ia tahu bahwa adiknya adalah pembuat onar di sekolah. Ia juga sempat menerima kabar bahwa Yoona selalu membully siswi yang mendekati lelaki yang disukainya. Hal itu membuat Yuri merasa sangat bersalah, ia tahu adiknya bersikap seperti itu karena ingin mendapat perhatian, terutama dari orang tua mereka.

 

 

“Yoona-ya, dulu kau adalah gadis yang sangat baik dan manis. Kau selalu membuat orang-orang disekitarmu merasa bahagia dengan tingkahmu yang lucu. Unnie merindukan adik unnie yang manis.” Yuri memeluk Yoona dengan segenap perasaannya.

 

 

“Belum terlambat untuk memperbaiki semuanya.”

 

 

-OoO-

 

 

Setelah satu minggu berada di Amerika, akhirnya Yoona kembali ke Korea. Hal pertama yang ia lakukan ketika tiba di Korea adalah mengubah warna rambutnya yang tadinya hitam menjadi coklat madu. Selama perjalanan kembali ke rumahnya, Yoona berpikir sangat banyak, terutama tentang serentetan kejadian yang menimpanya akhir-akhir ini.

 

 

Di tengah jalan, Yoona singgah ketika melihat kedai ice cream. Ia memesan satu porsi besar ice cream rasa vanilla, menikmati makanan itu dengan sangat lahap. Beberapa saat kemudian, ia baru sadar bahwa ada seorang bocah perempuan yang menatapnya.

 

 

“Kau mau?” Tanya Yoona yang dijawab anggukan oleh gadis kecil itu.

 

 

“Baiklah, pesan saja, nanti unnie yang akan membayarnya.” Yoona mengacak gemas rambut gadis kecil itu.

 

 

Setelah dari kedai ice cream, Yoona melanjutkan perjalanannya kembali ke rumah. Sekitar 15 menit, mobil yang ditumpanginya berhenti di sebuah rumah besar, terlihat seorang wanita paruh baya sedang berkutat dengan selang air.

 

 

Yoona melangkah keluar dari mobil, senyum mengembang di wajahnya ketika melihat Han ahjumma sedang menyiram tanaman. Untuk sejenak, Yoona memejamkan mata sambil menghirup udara banyak-banyak.

 

 

“Selamat datang kembali, Im Yoona.”

 

 

.

Maaf, judulnya gak banget. Serius, gue paling gak bisa nentuin judul #slaped

and, sorry for typos

Advertisements

143 thoughts on “LOVE – [1]

  1. baru kali ini baca ff yoona unnie jadi jahat 😁
    ff nya daebak chingu ^^
    Di sini sehun oppa kaya gimana gitu sama yoona eonni :”
    kasian yoona eonni di sini tersakiti T.T

    annyeong chingu aku readers baru di sini ijin bongkar ” bolg kamu ne chingu 😁😁
    sekian gumawo ^^

  2. ffnya deabak ching ^^
    jadi gak sabaran baca ff selanjutnya
    di sini yoona jahat banget :”
    sehun kenapa benci banget ya sama yoona :”

    aku readers baru di sini ^^

  3. ffnya bagus thor ^^
    yoona di sini jahat sekali 😁😁
    sehun di sini benci banget sama yoona :”
    jadi gak sabaran baca selanjutnya ^^

    akubreaders baru di sini
    ijin baca ff di sini ya thor ^^

  4. ff nya keren thor ^^
    sehun benci banget kayanya sama yoona
    jadi gak sabaran baca selanjutnya ^^

    aku reradrs baru di sini ^^

  5. Recently aku mulai jarang nemuin fanfic cast yoonhun. Entah kenapa padahal dulu menjamur bgt ya. Setelah berjuang ngubek mbah gugel akhirnya aku ketemu wordpress ini. Walaupun udh lama di publish ini ff aku kenapa baru nemuin sekarang sih hiks bgt. Di chapter 1 ini aku agak kesel sekaligus kesyan sama yoona. Knp sih yoong sayangku cintaku kamu sampai menjatuhkan harga dirimu demi sehun si cowo ga peka. Hiks oke ini lebay. Anw aku mau lanjut baca part 2 kalo gt. Heheheh

  6. Yaampun kasian banget yoong sudah dimarahin sehun pingsan masih tidak ada yang peduli. Orangtuanyapun kurang perhatian

  7. Wow…. yoona pasti sakit banget mau digituin sama kai.
    Gimana ya reaksinya sehun ama kai ketika tau yoona balik dari amrik?

  8. wah ak baru tau ni ad ff cast yoona n exo selain tempat yg ak biasa baca. ternyata ff nya bagus yaaah… ak br baca yg ini sm the devil baby.. dan ak suka banget ceritanya.. buat baperan. mau lanjut lagi baca aah…
    ohya. salam kenal buat author nim! 😘🙆

  9. gila keren banget 😍😍
    sumpah seriusan yoona sikapnya buat kesel tp entah kenapa aku suka wkwk
    sehun jg ih nyebelin bangett –”
    ini bakal yoonhunkan?? entaah kenapa suka aja gitu sm yoonkai moment 😂
    walaupun suka irene tp ga terlalu suka sm dia disini, yoonhun juseyeoo >_<
    btw aku readers baru ini, suka baca ff yoona eh malah nyasar keblog ini dan gila sumpaj keren, izi buat baca chap selanjutnya lagi yaa ehehe
    fighting adminim

  10. astaga udah komen panjang kali lebar ga kekirim 😭😭
    sumpah baru tau ada blog ff yooja ini padahal suka banget bacaan ff yoonaa, seriusam aku sula banget thor sm ceritanya beda giti dari biasanya sm sifat yoona kalo di ff yg lain, suka yoonkai momeng tp lebih dukung yoonhun aku tuhh 😍😍
    irene mengapa kau datanggg??!!
    izin buat baca lanjutannya ya seru sunpah dan berharap sehun ada rasa sm yoona :”)

  11. aku teh ga tau salah apa sampe komennya ga bisa ke post kalo sampe ini tetep ga bisa daebak 😭😭
    udah 3x :((
    sumpah ya thor ceritanya kerene, nyesel baru ketemu sm ini blog padahal aku tuh yoona biased banget
    apalagi kalo pairing yoonhun paling addicted >_<

  12. ff yoonhunnya keren bagt chingu
    yoona kasian bgt dia nakal gtu gra” kurang perhatian dr ortunya
    sebel jg sama si sehun.gra” ngabaiin si yoona gtu
    please buat sehun nyesel chingu

  13. Yoona antagonis di sini suka siih soalnya jarang” yoona jd antagonis kebanyakan jd cwek yg di bully trus..
    Tp spertinya yoona harus bisa merubah sikapnya…
    Kereenn ceritanyaa thor…

  14. Kereenn thor…
    Tumben” yoona jd antagonis disinii tp ttep aja yoona jd yg trsakitii..
    Sehun masa ga punya perasaan sdikitpun yaa sm yoona..
    Nice ff thor

  15. Uwaaa udh lama bgtt kyanya aku ga mampir ke blog ini, ehh udh bnyk ff baru aja. Ya ampun seruis yoona jahat ternyata pke bgt disini, dan yah aku udh bca ampe. Part 3 ny dan bru sadar klo part 4 ny dprotect, dan sekarang aku tinggal ninggaln komentar but. Heheheee

  16. hai kak aku new reader
    dan aku suka banget ceritanya and plus couplenya
    hihi
    ceritanya keren
    semoga bakal lebih bagus lagi ya kak

  17. wah…sehun dingin bgt sma yoona.sehun mlh lebih syng sma irene.semoga nnti sehun busa ngerasin sakit hati kya yoona
    ditunggu kelanjutanya thor ^_^ semangat

  18. Wahh ff nya aku suka… Lagi ngorek ngorek ff yoonhun ehh ketemu ff ini daebakk.. Aku suka banget sama ff Yoona nya tersakiti fell nya dapat banget

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s