LOVE – [3]

LOVE – [3]

Im Yoona – Oh Sehun

Bae Irene – Kim Jongin/Kai

Standard Disclaimer Applied

KAIGERL’s Present

-OoO-

 

 

Yoona terdiam dan tidak berkedip ketika jemari Sehun menyentuh pipinya. Ia baru tersadar ketika Yein memekik kencang karena ice cream nya jatuh ke lantai. Buru-buru ia mengambil selembar tissue di meja dan membersihkan wajahnya. 

 

 

“Ice creamku jatuh.” Rajuk Yein dengan mata berkaca-kaca.

 

 

“Kau bisa memakan ice cream milikku.” Ujar Kai.

 

 

-OoO-

 

 

“Sampai bertemu lagi, Yein-ah.” Irene menyamakan tingginya dengan gadis kecil itu kemudian mengacak rambutnya pelan.

 

 

“Sampai bertemu lagi Irene unnie.” Ujar Yein, kemudian bocah itu berbalik ke arah Kai dan memegang tangan kakaknya.

 

 

Oppa ~ aku mau digendong.”

 

 

M-Mwo? Tidak mau!” Ujar Kai ketus.

 

 

Oppa ~ “ Bocah itu merengek.

 

 

Yak! Jangan bersikap seperti itu pada anak-anak.” Yoona memukul belakang kepala Kai membuat namja itu mengaduh pelan. Kemudian Yoona berjongkok dan meraih kedua bahu Yein.

 

 

“Yein digendong oleh unnie saja, ne?” Bocah itu mengangguk dengan cepat.

 

 

Kai dan Yoona berjalan duluan kembali ke mobil, kini tinggallah Sehun dan Irene. Gadis bertubuh mungil itu melambaikan tangannya pada Yein sambil tersenyum. Sangat berbeda dengan Sehun yang sejak awal terus menampilkan raut wajah super dinginnya.

 

 

Aigoo ~ mereka tampak seperti keluarga bahagia.” Ucap Irene. Kemudian ia baru sadar bahwa Sehun sudah tak di sampingnya. Ia melihat namja itu telah berjalan menuju ke mobil, Irene terpaksa berlari kecil menyusul namja itu.

 

 

“Keluarga yang bahagia, huh?” Gumam Sehun setelah menutup pintu mobilnya.

 

 

Ya! Kenapa kau meninggalkan aku?”

 

 

-OoO-

 

 

Karena masa hukuman sudah berakhir, Sehun bisa kembali bermain bersama timnya. Ia baru saja datang dan langsung menuju ke ruang ganti. Tanpa diduga, ia menemukan Yoona berada di sana sendirian. Entah kemana anggota tim yang lain.

 

 

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Sehun.

 

 

Yoona gelagapan ketika menyadari bahwa hanya mereka berdua di ruangan ini. Ia berada di ruangan ini untuk membawakan Kai baju basketnya. Tapi ia sendiri tidak menemukan siapa-siapa di ruangan ini termasuk Kai.

 

 

“Aku membawakan ini untuk Kai.”

 

 

“Jadi sekarang kau ini apa? Pelayan namja itu atau pengasuh adiknya?” Maafkan Sehun yang tidak bisa mengontrol perkataannya. Ucapan sinis itu meluncur begitu saja ketika mendengar alasan gadis itu berada di sini.

 

 

Yoona menggigit bibir bawahnya, ia merasa direndahkan oleh Sehun. “Itu bukan urusanmu.” Ujarnya tak kalah dingin. Kemudian ia beranjak dari tempatnya hendak keluar dari ruangan itu, tapi seseorang mencegatnya.

 

 

“Apa yang kau lakukan?” Yoona menatap namja itu sinis.

 

 

“Sebenarnya apa yang terjadi padamu?” Sehun balas bertanya dengan nada suara yang meninggi.

 

 

“Apa yang terjadi padaku? Aku baik-baik saja, seperti yang kau lihat.”

 

 

“Bohong.” Ujar Sehun cepat. “Kau kenapa mau disuruh-suruh oleh namja itu, huh? Im Yoona yang kukenal tidak akan mau diperlakukan seperti itu.”

 

 

“Apa maksudmu dengan diperlakukan seperti itu? Kai sahabatku, dan tidak ada salahnya kalau aku membantunya. Tidak seperti dirimu yang tanpa sebab yang jelas tiba-tiba saja memusuhi Kai.”

 

 

“Apa?”

 

 

“Jangan pura-pura bodoh, aku memperhatikanmu waktu itu.” Yoona merujuk pada pertandingan hari pertama dimana Sehun tidak pernah memberi bola pada Kai. “Dan satu lagi, apa benar kau mengenalku Oh Sehun ssi?” Yoona menghempaskan tangan lelaki itu.

 

 

Namja itu mendengar pintu ruangan dibanting dengan cukup keras. Hal itu menyadarkan Sehun bahwa Yoona telah pergi. Sehun mengacak rambutnya kesal kemudian menendang sebuah botol minuman di lantai.

 

 

-OoO-

 

 

“ARRGHHH. . .”

 

 

Sehun meninju cermin toilet dengan keras, cairan merah terlihat di sekitar kepalan tangannya. Sehun menatap pantulan dirinya di cermin. Ia merasa begitu menyedihkan sekarang. Ia merasa seperti pecundang.

 

 

*brakk

 

 

Seseorang membuka pintu toilet dengan keras membuat Sehun cukup terkejut. Melalui cermin, namja itu melihat seorang gadis masuk dan menatap tajam ke arahnya. Dia adalah Im Yoona.

 

 

Di pertandingan tadi, Sehun tampil sangat baik dengan mencetak banyak point. Namun ia seringkali menabrak Kai dengan keras sehingga membuat namja itu terjatuh. Bagi yang lain, itu tampak seperti ketidaksengajaan. Namun tidak untuk Yoona, ia tahu lelaki pucat itu sengaja menabrak Kai. Karena itu, ia berada di sini untuk berbicara dengan Sehun dan meminta penjelasan namja itu.

 

 

“Kenapa kau melakukan itu, huh?”

 

 

“Karena dia menyebalkan.” Ujar Sehun enteng dan tanpa rasa bersalah sama sekali. Hal itu membuat Yoona semakin marah.

 

 

Menyebalkan? Dia bahkan berusaha sangat keras saat kau tidak ikut bermain.”

 

 

“Aku tidak peduli.”

 

 

*plak

 

 

Yoona menampar Sehun dengan keras, ia tidak terima Sehun menganggap perbuatannya pada Kai adalah hal yang tidak perlu dipedulikan. Sedangkan Sehun, namja itu tampak terkejut dan tidak menduga bahwa Yoona akan menamparnya.

 

 

“Kai itu sahabatmu.”

 

 

Yoona memang gadis yang kejam, tapi ia tidak pernah menyakiti Jieun sedikitpun. Aneh memang, mengingat sikapnya yang sangat buruk. Sebenarnya, beberapa sifat buruk yang disematkan kepadanya tidak sepenuhnya benar. Seperti Yoona dicap sombong, padahal ia hanya tidak terlalu bisa bersosialisasi dengan orang sekitarnya. Dan karena itu pulalah, ia juga dicap sebagai orang angkuh. Tapi mengenai kebiasaannya yang suka membully gadis-gadis yang dekat dengan Sehun memang tidak bisa dimaklumi.

 

 

“Apa setelah gagal mendapatkanku, kau mengincar Kai?” Sehun tersenyum meremehkan. Perlahan ia berjalan ke depan dan memojokkan gadis itu di dinding toilet.

 

 

“Minggir! Aku mau pergi.” Yoona menatap tajam tepat di mata Sehun yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya.

 

 

“Kalau aku tidak mau?” Tantang Sehun.

 

 

“Aku akan memaksamu.”

 

 

Yoona mendorong dada Sehun, bersamaan dengan itu Sehun memajukan tubuhnya dan menempelkan bibirnya di bibir Yoona. Sehun semakin merapatkan tubuhnya ketika merasakan pergerakan dari yeoja itu.

 

 

“Mhhh. . .”

 

 

Yoona berusaha melepaskan diri dari Sehun. Ia tidak ingin terbuai oleh ciuman yang selama ini sangat diinginkannya. Terlebih ketika mengingat Irene, Yoona mengerahkan tenaganya untuk mendorong namja itu.

 

 

“Mhhhh.. .”

 

 

Akhirnya Yoona berhasil mendorong namja itu, ia menatap Sehun dengan nafas tak beraturan. Kedua bahunya naik turun dan tatapan mata yang menyiratkan kekesalan luar biasa.

 

 

“Kau pikir apa yang baru saja kau lakukan?” Bentak Yoona.

 

 

“Jangan naif, kau menginginkan ini sejak dulu Im Yoona.”

 

 

“Ya, tapi itu dulu.” Ujar Yoona sendu.

 

Raut wajah gadis itu membuat Sehun melunak, ia kemudian berjalan ke arah wastafel dan membasuh wajahnya, tidak peduli dengan tangannya yang terus mengeluarkan darah. Yoona yang baru sadar akan hal itu langsung panik dan menghampiri Sehun. Ia juga baru sadar bahwa cermin toilet pecah.

 

 

“Ya Tuhan, tanganmu.” Yoona meraih tangan Sehun dan bergidig ngeri melihat luka itu. “Ikut aku.” Tanpa persetujuan Sehun, Yoona membawa namja itu ke ruang kesehatan.

 

 

-OoO-

 

 

Sehun terus menatap gadis yang sedang mengobati lukanya. Sesekali ia meringis pelan ketika Yoona tak sengaja menekan lukanya. Setelah selesai, Yoona menyimpan kembali kotak P3K di dalam lemari.

 

 

“Tampaknya kau tidak bisa ikut pertandingan lagi.” Ujar Yoona. Kemudian suasana hening menyelimuti keduanya. Tak tahan lama-lama di sana, Yoona berinisiatif untuk pergi terlebih dahulu.

 

 

“Baiklah, aku pergi.”

 

 

“Jangan!” Ujar Sehun cepat. “Jangan pergi dulu.”

 

 

Yoona menghela nafas pelan, dengan terpaksa ia menuruti perkataan Sehun untuk tidak pergi. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia menurut pada namja itu. Jujur saja, Yoona mulai lelah dengan semua ini. Ia ingin memperbaiki semuanya.

 

 

Gadis itu mendudukkan dirinya di kursi dan menghadap ke arah Sehun. Yoona ingin membiasakan diri untuk berhadapan dengan Sehun tanpa rasa gugup.

 

 

“Maaf, aku berbuat kasar padamu.”

 

 

Yoona menghela nafas lagi, ia menatap Sehun dengan pandangan yang lebih lembut. Gadis itu meraih tangan Sehun yang tidak dibalut perban.

 

 

“Ayo perbaiki semuanya.”

 

 

“A-apa?” Tanya Sehun tak mengerti.

 

 

“Aku memang menyebalkan, tapi aku akan berusaha memperbaiki diriku.” Sehun menunggu Yoona melanjutkan kalimatnya. “Hubungan kita tidak begitu baik, karena itu aku ingin mengajakmu berteman atau setidaknya jangan menatapku dengan pandangan sinismu.”

 

 

Sehun masih bungkam, seharusnya ia merasa senang karena Yoona ingin memperbaiki hubungan mereka. Tapi, berteman? Sehun tidak terlalu menyukai status itu.

 

 

“Oh ya, kau tidak perlu khawatir. Mengenai kejadian tadi, aku tidak akan memberitahu Irene.”

 

 

“Apa maksudmu?” Tanya Sehun tak mengerti ketika gadis itu menyebut nama Irene.

 

 

“Tsk! Jangan pura-pura bodoh, dia ‘kan kekasihmu.” Yoona meninju pelan lengan namja itu.

 

 

Kekasih?”

 

 

“Tidak usah malu-malu mengakuinya, satu sekolah juga tau.”

 

 

“Bukankah kau menyukaiku?” Pertanyaan Sehun tidak ada hubungannya sama sekali dengan perkataan Yoona barusan. Dan itu membuat Yoona salah tingkah, gadis itu menggaruk kepalanya dan tersenyum aneh/?

 

 

“A-aku sudah sering mengatakannya.” Seperti yang dikatakan Yoona, Sehun bahkan tidak perlu bertanya karena ia sudah tahu jawabannya. “T-Tapi tenang saja, aku akan segera melupakan perasaanku.”Yoona beranjak dari tempatnya. “Aku pergi dulu, anyeong Sehun ssi.”

 

 

Tanpa basa-basi Yoona segera keluar dari ruangan itu dengan langkah tergesa-gesa. Entah kenapa ia salah tingkah ditanya langsung seperti itu oleh Sehun. Sepertinya yeoja itu sudah memiliki rasa malu(?). Benar ‘kan? Selama ini Yoona dengan tidak tahu malunya mendekati Sehun dan mengklaim bahwa namja itu miliknya.

 

 

“Tu-tunggu, Yoona-ya.” Sehun buru-buru menyusul Yoona keluar dari ruang kesehatan. Namun langkahnya terhenti ketika melihat Yoona telah pergi bersama Kai.

 

 

Ia menatap sendu punggung gadis itu. Mengingat perkataan Yoona tadi membuat Sehun merasa begitu sesak. Terlebih melihat yeoja itu pergi dengan laki-laki lain. Ia seperti baru saja kehilangan sesuatu yang berharga. Ya, Sehun baru menyadari bahwa sesuatu itu sangat berharga setelah ia kehilangannya.

 

 

-OoO-

 

 

Yak! Kau harus berjalan pelan seperti ini.” Yoona memperagakan cara jalan pelan yang menurutnya benar.

 

 

“Terlalu lambat, lagipula aku tidak apa-apa.” Kai mengacak rambut gadis itu.

 

 

“Tidak apa-apa bagaimana? Kau terjatuh cukup keras.”

 

 

“Lebih baik kau diam, karena suaramu membuat telingaku sakit.”

 

 

Yak! Sudah bagus aku mau membantumu.” Yoona memukul keras lengan Kai dan membuat namja itu meringis.

 

 

“Kau kasar sekali padaku.” Ujar Kai dengan raut wajah yang membuat Yoona ingin sekali menonjok namja tan itu.

 

 

“Ckckck! Sehun yang membuatmu jatuh kau bilang tidak apa-apa, giliran aku memukulmu pelan kau bilang aku kasar sekali. Bela saja terus sahabatmu itu!”

 

 

Yoona mengambil langkah lebar-lebar dan meninggalkan Kai. Namja itu berteriak memanggil Yoona namun tak diindahkan, Kaipun berlari meski harus terseok demi mengejar yeoja itu.

 

 

-OoO-

 

 

Tak terasa hari demi hari berlalu hingga tiba saatnya pertandingan final. Tim basket Seoul SHS keluar sebagai pemenang setelah mengalahkan tim basket SMA Shinwa. Untuk merayakan kemenangan ini, Seoul SHS akan mengadakan prom nite sekaligus sebagai penutupan. Semua sekolah yang berpartisipasi dalam turnamen juga diundang dalam acara penutupan.

 

 

“Untukmu.”

 

 

Kai yang sedang menyalin catatan Yoona terkejut dengan kedatangan gadis itu yang baru saja kembali dari kantin. Di atas mejanya terdapat minuman kaleng dan camilan keripik kentang yang diletakkan oleh Yoona. Kai membuka minuman tersebut kemudian meminumnya. Kemudian, ia meraih bungkus camilan yang sudah terbuka.

 

 

“Astaga, aku lupa mengambil buku di perpustakaan.” Yoona bangkit dari tempat duduknya kemudian berlari keluar dari kelas.

 

 

Kai hanya melongo, kemudian memusatkan perhatiannya pada isi camilan. Ya, camilan. Ada sesuatu yang aneh di dalam bungkusan camilan itu. Kai merogoh sesuatu yang aneh itu kemudian mengeluarkannya. Sebuah gelang karet yang dibungkus plastik.

 

 

“Apa ini berhadiah?” Kai berujar bingung. “Tapi sejak kapan keripik tentang seperti ini berhadiah?” Kai membuka plastik yang membungkus gelang tersebut. Setelah diperhatikan lebih terliti, ternyata ada tulisan ‘kkamjong’ di sana.

 

 

“Im Yoona, ini bukan perbuatanmu ‘kan?” Ujarnya tak percaya. Ia pun memakai gelang karet berwarna hitam itu. “Tidak buruk.”

 

 

Beberapa saat kemudian, Yoona masuk kembali ke kelas dan membawa beberapa buku di tangannya. Gadis itu mendudukkan bokongnya di kursi dan mulai membuka bukunya satu persatu. Tak sengaja, pandangannya menangkap benda di pergelengan tangan Kai.

 

 

Omo! Dari mana kau mendapatkan gelang jelek itu?” Tanya Yoona.

 

 

“Dari seseorang yang jelek.” Dalam hati Kai terkekeh melihat tingkah Yoona. Ia tahu gadis itu terlalu gengsi untuk mengakui bahwa gelang itu adalah permberiannya, meski dengan menggunakan kedok ‘kerupuk berhadiah’.

 

 

“Yah, untuk orang yang jelek.” Yoona memeletkan lidahnya.

 

 

Gomawo.” Ujar Kai sangat pelan, namun masih bisa didengar Yoona. Gadis itu hanya tersenyum dan kembali sibuk dengan bukunya.

 

 

Fokus keduanya kembali terganggu oleh kehadiran Irene. Gadis itu menarik kursi dan duduk lebih dekat dengan Yoona. “A-Ada apa?” Tanya Yoona.

 

 

“Begini, sepulang sekolah nanti aku dan Sehun oppa akan mencari kostum untuk promnite. Kalian mau ikut tidak?”

 

 

Yoona menatap Kai dengan tatapan bertanya. “Memangnya kenapa kami harus ikut?” Yeoja itu bertanya balik.

 

 

“Tentu saja, kalian akan berpasangan untuk promnite nanti ‘kan?”

 

 

“Pasangan? Aku berpasangan dengan si Kkamjong ini? No.” Yoona menggelengkan kepalanya.

 

 

“Memangnya aku mau berpasangan denganmu? Ya Tuhan, masih banyak gadis cantik di luar sana.” Kai ikut menggelengkan kepalanya.

 

 

“Eiyyy, kalian berpasangan saja.”

 

 

Kai dan Yoona bertatap-tatapan, saling meneliti dari ujung rambut hingga ujung kaki. Setelah Yoona pikir-pikir lagi, sepertinya tidak ada namja yang mau berpasangan dengannya. Dan Kai adalah satu-satunya orang yang bisa ia paksa.

 

 

“Baiklah, aku berpasangan dengan Kai saja.”

 

 

Yak! Aku ti—“

 

 

“Aku tidak meminta pendapatmu!” Ucap Yoona cepat, tak mengizinkan Kai melanjutkan kalimatnya. Namja itu mendengus sebal, namun ia tak berkutik lagi setelahnya.

 

 

“Baiklah, ingat ya. Pulang sekolah.”

 

 

-OoO-

 

 

Seperti rencana, mereka berempat menuju sebuah butik yang sangat terkenal. Giliran pertama adalah para namja yang melakukan fitting baju. Sungguh, mereka terlihat seperti pasangan calon pengantin, hanya saja masih ada seragam sekolah yang mereka kenakan.

 

 

“Tidak. Itu tidak cocok untukmu, lengannya terlalu pendek.” Kritik Yoona untuk pakaian yang dicoba oleh Kai.

 

 

“Dari tadi kau selalu mengkritik apa yang aku kenakan.” Ujar Kai, ia sudah mencoba beberapa macam model pakaian namun tak ada satupun yang mendapat persetujuan dari Yoona.

 

 

“Habisnya aku terbiasa melihatmu dengan pakaian berantakan. Kau yang berpakaian resmi seperti ini membuatku geli—aaaaaa.”

 

 

Karena tidak tahan dan gemas dengan gadis itu, Kai menarik kedua pipi Yoona keras-keras. Gadis itu tidak tinggal diam, ia mencengkram lengan Kai dan berusaha membebaskan pipinya. Ketika melihat pipi putih itu mulai memerah, Kai akhirnya menghentikan aksinya.

 

 

Aigoo, pipimu jadi merah.” Kai mengusap-usap pipi putih itu.

 

 

“Kau menariknya kuat sekali bodoh!” Yoona menginjak kaki Kai dengan keras membuat lelaki itu mengaduh pelan.

 

 

Pemandangan berbeda diberikan oleh Irene dan Sehun. Jika Yoona dan Kai selalu ribut dan tidak menemukan kecocokan, maka Sehun dan Irene tampak tenang. Setelah Sehun dan Kai menentukan pilihan mereka, kini giliran para gadis.

 

 

Sambil menunggu, Kai dan Sehun duduk tenang. Tak ada yang bersuara, tampaknya hubungan kedua sahabat itu belum terlalu baik, padahal turnamen sudah selesai. Selama beberapa menit menunggu, kedua tirai terbuka dan menampilkan kedua gadis cantik dalam balutan gaun yang sangat indah.

 

 

Irene tampak manis, elegan, dan mengeluarkan aura seorang wanita yang lemah lembut. Gadis itu memakai gaun panjang berwarna putih tanpa lengan, dan renda yang menutupi sebagian dada hingga lehernya. Sedangkan Yoona, ia memakai gaun panjang berwarna hitam yang menampilkan sebagian dadanya. Berbeda dengan aura lembut Irene, Yoona tampak misterius, keras, namun elegan.

 

 

Yak! Jangan hanya melihatku seperti itu, berikan pendapatmu.”

 

 

Kai terlonjak kaget ketika mendapati Yoona telah berada dekat di hadapannya. Lelaki itu bangkit dari sofa dan berputar-putar mengelilingi gadis itu sambil berpikir.

 

 

“Kau tampak seperti malaikat pencabut nyawa.”

 

 

Yak!” Yoona memukul Kai dengan keras, padahal ia sengaja memilih gaun berwarna gelap agar matching dengan kostum Kai yang juga berwarna gelap.

 

 

“Kau ambil yang itu saja.”

 

 

“Kau tidak ingin memberikan pendapatmu? Mungkin ada yang kurang dari gaun ini?” Yoona berputar-putar berharap Kai mengomentari gaunnya.

 

 

“Tidak. Itu sudah pas.”

 

 

“Tap—“

 

 

“Tunggu! Ibuku menelpon.” Kai merogoh ponselnya dan keluar dari ruangan itu dan menerima telepon dari ibunya.

 

 

Irene yang juga telah mendapat persetujuan dari Sehun langsung memilih gaun yang dikenakannya tadi. Kemudian ia permisi untuk ke toilet. Kini tinggallah Sehun dan Yoona berdua di ruangan itu. Yoona menatap sekelilingnya, dan menyadari bahwa hanya ada mereka berdua.

 

 

Tak sengaja tatapannya bertemu Sehun, gadis itu salah tingkah. Ia berjalan tergesa-gesa hendak menuju ke sofa, namun ia menginjak gaunnya sendiri. Yoona hampir saja terjatuh, namun seseorang memegang pinggangnya dan mencegahnya jatuh menyentuh lantai

 

 

“Te-terima kasih.” Bertambah sudah kegugupan Yoona. Perlahan gadis itu menegakkan kembali tubuhnya.

 

 

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Sehun.

 

 

“Ya, aku tidak apa-apa.”

 

 

Yoona menjilat bibirnya yang terasa kering, ia mengedarkan tatapannya ke segala arah namun kembali lagi menatap Sehun. Ia gugup sekali, dan untuk menghilangkan itu ia tertawa aneh.

 

 

“A-Apa benar aku terlihat seperti malaikat pencabut nyawa?” Tanya Yoona pada akhirnya. Ia hanya berusaha untuk menghilangkan suasana canggung di tempat itu.

 

 

Gadis itu mempoutkan bibirnya ketika melihat namja di depannya terkekeh pelan. Dan dengan itu, suasana canggung di antara mereka mencair. Setelah berhenti tersenyum, ia menyisir rambutnya ke belakang kemudian memperhatikan Yoona dari atas sampai bawah.

 

 

“Aku rasa yang dikatakan Kai benar. Kau seperti malaikat pencabut nyawa dengan gaun hitam itu.”

 

 

Yak! Kalian sama saja. Menyebalkan.” Ujar Yoona kesal, dan Sehun tertawa kembali melihat ekspresi kesal gadis itu. “Tapi jangan senang dulu Tuan Oh, kau juga tampak seperti mayat dengan jas putih itu asal kau tahu.” Tak ingin diejek, Yoona mengejek balik Sehun.

 

 

“Tapi aku tampan.” Sehun membela diri.

 

 

“Aku juga cantik.” Ujar Yoona tak mau kalah.

 

 

“Ya, kau cantik.”

 

 

“Aku memang can—“ Gadis itu tak melanjutkan kalimatnya. Ia menatap Sehun seperti ingin memastikan bahwa lelaki itu baru saja menyebutnya cantik. Yoona merasa pipinya akan memerah, tapi ia meyakinkan dirinya bahwa namja itu hanya ingin menghiburnya.

 

 

“Maksudku, aku memang seperti malaikat pencabut nyawa.” Yoona tersenyum tipis namun menyiratkan kesedihan. Kemudian ia berbalik hendak menyusul Kai. “Di mana kau, Kkamjong? Atau aku akan mencabut nyawamu sekarang juga.” Teriak Yoona.

 

 

Sementara Sehun , ia menatap punggung gadis itu dengan sendu. Sehun tidak bersungguh-sungguh mengatakan bahwa Yoona seperti malaikat pencabut nyawa. Ia memuji Yoona cantik tulus dari hatinya, tapi ia bingung kenapa tiba-tiba Yoona pergi dan meninggalkannya.

 

 

-OoO-

 

 

Kai turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah Yoona. Han ahjumma menyambutnya di luar dan memberitahu Kai bahwa Yoona masih bersiap-siap. Malam ini, Kai terlihat sangat tampan dan jauh dari kata urakan seperti kesehariannya. Rambutnya disisir rapi (up) , dan setelan jas hitam yang sangat pas di tubuh tingginya.

 

 

Beberapa saat kemudian, Yoona keluar dari kamarnya dan menghampiri Kai yang menunggu di ruang tamu. Gadis itu tampak garang dengan eyeliner menghiasi mata rusanya hingga tampak sangat tajam dan menusuk siapa saja yang menatapnya.

 

 

“Bagimana? Aku semakin mirip dengan malaikat pencabut nyawa bukan?” Yoona merangkul lengan Kai.

 

 

“Kau hanya memerlukan sayap sekarang.” Kai menampilkan smirknya.

 

 

-OoO-

 

 

Pesta diadakan di sebuah hotel berbintang, tidak mengherankan jika mengingat bahwa Seoul SHS adalah sekolah elit yang dipenuhi oleh siswa-siswi kalangan atas. Kedatangan Kai dan Yoona menjadi pusat perhatian. Pasangan itu tampak sangat mencolok dengan kostum hitam dan kompak menampilkan wajah tanpa ekspresi.

 

 

“Tersenyumlah, kalian membuat orang-orang di sini takut.” Canda Irene.

 

 

Dan dengan itu, Yoona tersenyum membuat kesan garangnya luntur begitu saja. “Yak! Kkamjong, hentikan itu. Kau tampak menggelikan.” Ujar Yoona ketika melihat Kai dan namja itu masih saja memasang wajah datarnya.

 

 

“Kau cantik sekali dengan gaun itu Irene ssi.” Puji Yoona.

 

 

Jinjja? Ini gaun yang dipilihkan Sehun oppa untukku.” Irene tersenyum sambil menatap Sehun.

 

 

Yoona memperhatikan Sehun dan Irene bergantian. Apa ia cemburu? Jangan ditanya. Ia sangat cemburu melihat kedekatan mereka. Melihat bagaimana Irene merangkul lengan Sehun, dan bagaimana Sehun tersenyum lembut kepada Irene.

 

 

“Kalian sangat serasi, seperti pasangan pengantin.” Yoona tidak berbohong mengatakan itu meski hatinya teriris-iris. Irene tersenyum dengan rona merah di kedua pipi putihnya.

 

 

“Sudahlah, lebih baik kita tinggalkan pasangan kekasih ini.” Kai menarik lengan Yoona dengan cukup keras membuat gadis itu hampir kehilangan keseimbangan.

 

 

Kai tidak tahan melihat senyum palsu gadis yang sedang ia genggam tangannya. Ia tahu Yoona sedang berusaha melupakan Sehun dan ia senang dengan itu. Tapi ia tidak suka melihatnya bersikap seperti mendukung dan senang atas hubungan Sehun dan Irene.

 

 

“Apa kau ini masokis?” Tanya Kai dengan sedikit emosi setelah membawa gadis itu jauh dari keramaian pesta.

 

 

Yoona tidak menjawab, ia hanya tertunduk tak berani menatap Kai. Sebenarnya ia bersyukur Kai membawanya pergi, karena ia sendiri tidak sanggup melihat Sehun bersama gadis itu. Yoona sudah bertekad akan melupakan Sehun, tapi setiap kali berhadapan dengannya ia tak bisa mencegah jantungnya berdetak dengan keras.

 

 

“Maaf, tapi tidak semudah itu aku melupakannya.”

 

 

Kai mengacak rambutnya kesal, ia kembali menatap Yoona dan menemukan bahu kedua gadis itu naik turun. Bisa dipastikan Yoona sedang menangis. Kini kekesalannya semakin memuncak, ia benci melihat gadis itu hancur.

 

 

Kai menangkup kedua pipi gadis itu dan tanpa basa-basi langsung menempelkan bibirnya di atas bibir tipis Yoona. Kai menahan kepala gadis itu ketika ia memberi lumatan-lumatan kecil di bibir yang terasa asin itu. Yoona yang terbuai mengalungkan lengannya di leher Kai dan membiarkan lelaki itu terus mencumbu bibirnya.

 

 

-OoO-

 

 

Oppa, kau dari mana sa—“

 

 

Irene tertegun ketika Sehun mengabaikannya dan melewatinya begitu saja. Ia menatap lelaki itu keluar dari ruang pesta, segera saja ia berlari menyusul Sehun. Namun ia terlambat, karena pria itu telah pergi dengan mobilnya.

 

 

“Ada apa denganmu?” Tanyanya dengan wajah sendu.

 

 

-OoO-

 

 

Sehun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sangat tinggi. Tidak peduli bahwa ia bisa saja menabrak dan membahayakan pengguna jalan lainnya. Ia tidak peduli, ia terus menginjak pedal gas dan mengemudikan mobilnya entah ke mana.

 

 

“Brengsek kau, Kim Jongin!”

 

 

Flashback On

 

 

“Oppa, pesta dansanya sudah dimulai. Ayo.”

 

 

“Mm, tunggu sebentar.”

 

 

Sehun berjalan menjauh dan meninggalkan Irene di sana yang menatapnya bingung. Sehun tidak mengatakan akan pergi ke mana, dan mau tidak mau Irene hanya bisa menunggu namja itu selesai dengan urusannya.

 

 

Sehun pergi mencari Yoona, ia merasa harus menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi. Sehun menyadari sikap Yoona padanya. Ia menyadari bahwa gadis itu sedang berusaha menjauhinya, dan ia tidak akan membiarkan itu terjadi. Terlebih lagi, kedekatan Yoona dan Jongin yang semakin menjadi.

 

 

Akhirnya Sehun menemukan Yoona, namun tidak dalam situasi yang bagus. Tangannya terkepal ketika melihat sepasang laki-laki dan wanita bericuman . Rahangnya mengeras melihat lelaki itu mencium si wanita dengan intim. Dan ia tak sanggup berdiri lebih lama ketika melihat si wanita mengalungkan tangannya di leher lelaki itu.

 

 

Flashback Off

 

 

Setelah pergi tanpa tujuan, akhirnya Sehun memilih menepikan mobilnya di area sungai Han. Ia melepas jas putihnya menyisakan kemeja putih kemudian keluar dari kendarannya. Angin malam menerpa dan menerbangkan rambutnya.

 

 

Sehun melonggarkan dasi yang melingkar di kerah kemejanya. Hazelnya menatap lurus ke depan, dan beberapa kali ia menghela nafas. Tiba-tiba ia merasakan ponselnya bergetar, satu pesan masuk dari Irene.

 

 

From : Irene

Kau di mana? Aku mengkhawatirkanmu.

 

 

Untuk sejenak ia hanya memandangi layar ponselnya. Irene. Ia baru ingat bahwa di pesta tadi ia meninggalkan Irene begitu saja tanpa penjelasan. Perasaan bersalah menghampirinya. Ia segera mengetik pesan balasan untuk gadis itu.

 

 

To : Irene

Aku baik-baik saja.

 

 

Setelah itu Sehun menonaktifkan ponselnya. Untuk saat ini, ia tidak ingin diganggu oleh siapapun. Ia merasa perlu untuk menjernihkan pikirannya.

 

 

-OoO-

 

 

Dalam perjalanan pulang, tak ada yang melakukan pembicaraan. Yoona menatap jalanan yang dilaluinya, sedangkan Kai fokus menyetir. Mereka tidak berdua, ada Irene yang duduk di jok belakang. Yoona menawarkan gadis itu untuk pulang bersama setelah mengetahui bahwa Sehun pergi dari pesta. Ia cukup penasaran dengan alasan mengapa lelaki itu tiba-tiba pergi bahkan sampai meninggalkan Irene.

 

 

“Bisakah kau menurunkan aku di depan sana?”

 

 

“Maksudmu di depan sana?” Tanya Kai memperjelas ucapan Yoona, dan gadis itu mengangguk mengiyakan. Kai ingin menanyakan alasan kenapa gadis itu turun di sana, tapi ia menghormati itu dan memilih untuk tidak bertanya.

 

 

-OoO-

 

 

Entah untuk alasan apa Yoona turun di tempat ini, ia sendiri tidak tahu. Langkah kakinya membawanya menuju suatu tempat di sungai Han. Ya, dia meminta pada Kai untuk menurunkannya di sungai Han. Yoona terus berjalan tanpa mempedulikan tatapan aneh orang lain. Dirinya yang memakai gaun pesta seperti itu tentu saja mengundang perhatian.

 

 

Gadis itu berhenti di sana, ia memejamkan mata menghirup oksigen dalam-dalam hingga memenuhi semua ruang di paru-parunya kemudian menghembuskannya perlahan.

 

Flashback On

 

Beberapa menit kemudian, Kai melepas tautan bibirnya dengan bibir Yoona. Ia menatap dari dekat wajah gadis itu yang sedang menggigit bibirnya. Ia bersyukur melihat Yoona tidak menangis lagi.

 

 

“Kenapa?” Iris madu itu menatap tepat pada sepasang iris kelam milik namja bernama lengkap Kim Jongin itu.

 

 

“Kau benar-benar tidak tahu?” Namja itu balik bertanya.

 

 

“Maaf, tapi aku—“

 

 

“Aku tahu. Tapi biarkan aku mengatakannya. “ Kai menatap lekat gadis cantik yang berdiri di hadapannya.

 

 

“Aku mencintaimu.”

 

Flashback Off

 

Yoona membuka kembali kelopak matanya. Untuk sesaat gadis itu hanya menatap lurus ke depan, kemudian berbalik hendak meninggalkan tempatnya. Namun, langkah kakinya terhenti ketika menemukan sosok lelaki berdiri beberapa meter di depannya.

 

 

“Kau di sini?” Tanya Yoona yang lebih seperti gumaman.

 

 

Tungkai panjang namja itu melangkah mendekati Yoona. Gadis itu tidak bergerak ketika sepasang lengan melingkar di pinggangnya dan sesuatu yang kenyal menempel di bibirnya, menciumnya dengan sangat lembut membuat jantungnya berdetak sangat cepat.

 

 

Kau jahat Oh Sehun. Kau membuat harapan itu muncul kembali.” Batin Yoona sambil menatap wajah namja yang sedang menciumnya dengan mata terpejam.

 

 

.

 Update cepet kan? XD

Maaf kalo gak memuaskan, gue ngejar target selesein ff ini sebelum UAS.

oKai. Next chap bakal diprotect, yg mau password kirim aja ke kaigerl88@gmail.com , jangan lupa cantumin uname yg kalian pake buat komen 😉

Advertisements

133 thoughts on “LOVE – [3]

  1. Ini sehun minta di tendang kali yahhh.. Yoona masa di gituuin sihh.. Ntar kalu yoona berpaling tau rasa lu.. Ihh bking greget ajah ni abang satu..
    Ayo dongg abang sehun kapan bislang cintahnya..

    Next.. Next..

  2. Sehun kok rese ya? Jangan sampe Yoona gagal mup on /?. Setidaknya biar Sehun itu dibuat sakit hati dulu yang emang bener-bener sakit /? :3

  3. APAAAAAAAAA APAAAAANN INI? SEHUN UNTUNG 2 KALIIIII!!! Abaikan capslock yg jebol hahahah. Hu ha hu ha. Jadi sebenernya kamu ini manusia bukan sih Sehun? #yeristyle kasian yoona sih sekarang #daridulujugakali terombang ambing dalam 2 pilihan. Ga sabar pengen tau kelanjutan setelah adegan…….ehem……kissingnya yoong sama sehun heheheheh

  4. Anjirrrrr anjirrr anjirrrr anjirrr
    Astagaaa anjirrr
    Aku gak nyangkaaa astagaa
    Yoona apa banget dahh dicium 2 cogan gitu
    Astagaa mas sehunnnn
    Baguss banget gila astaga aku gak nyangkaa

  5. Keren….. kai mencium yoona dan menyatakan perasaannya.????!!!!! Daebak…
    Sehun marah dan cemburu…. keren lanjut eonni

  6. Keren….. kai mencium yoona dan menyatakan perasaannya.????!!!!! Daebak…
    Sehun marah dan cemburu…. keren lanjut eonni. Aku suka.

  7. omoooo… mau lanjut kok ak nya yg deg2an yaaahh…. tp suka banget sm kemistri yoona kai.. lebih suka yoonkai kalo disini.. tp ceritanya kan udh selesai.. gak sabar baca selanjutnyaa…
    please semoga komen2 ak pada masuk yaah…
    author bagi password nya doong…

  8. gila gila scene inii –”
    sehun sadarnya telat, si irene udah ngerasa kalo perasaan sehun udah berubah. sumpah ya entah kenapa suka aja yoona sm kai gitu mereka lucu suka berantem 😂😂
    yoona sm sehun pasti dilema, disisi lain yoona udah mau lupain sehun tp sikap sehun malah buat yoona mau berharap di lain sisi dia udah tau jg perasaan kai. sedangkan sehun dia sayang am irene dan kai sahabat dia yg ternyata suka jg sama yoona, ribet ceritanya tapi keren 😆😆
    suka aja gitu sm konflik percintaan mereka

  9. Nah lho sehun malah telaaatt kn yaa?
    Ckckck
    Itu sehun plin plan skaliii yaaaa…
    tau rasaaa sehun…
    Ciee so sweet skaliii sehun cium yoona

  10. Huee setiap aq komen pastii ga bisa trkiriim yaaa…
    Pdhaal uda kedua kalinyaa cobain kirim..
    Nah skrg malah sehun kehilangan yoona hahahahaa

  11. Emm ksian sma irene, moga dpt yg laen yah, yg ptning jgn ama kim kaii aja, dan sehun udhn suka, kaii udhn ngungkapin dan aku brhrp bgtt yoonkai ga canggung ato menjauh, dan aq pngn jga smoga di part 4 dbkn sehun yg ga mudah dptin yoona, msih baper ama kaii thorr, kan ga enak bet klo yoona nrima sehun gitu aja sdngkn kaiii bru nytaiin, perlahan” aja ok! Nexttt pen mnta pw nyaaa^^

  12. Cerita nya menarik, apalagi kalo Aku baca dari awal, Tapi males.. Aku penasaran sma kelanjutannya…….. Aku bener” minta Maaf krena gak baca dari chapter 1… soalnya Aku langsung nemu yg chapter 3 nya…. semangat buat kelanjutannya lagi……

  13. Wao wao yoona bner2 menaklukan para pria,,penasaan kelanjutannya tp berharap yoona sm kai krna bgmnpun kai sllu ada di sisi yoona

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s