A Second Chance

12

A SECOND CHANCE – [FF REMAKE]

Oh Sehun | Im Yoona | Park Chanyeol

Genre : Family | Hurt

P.s : FF INI REMAKE DARI SALAH SATU CERITA MILIK AUTHOR AESTHETICX DI FFN https://www.fanfiction.net/s/11970690/1/A-Second-Chance . Ada beberapa yang gue ubah, soalnya aslinya ini ff Boys Love. Maaf kalo ada typo.

Warn! 10k+ words

_0O0_

 

Ada pepatah yang mengatakan “Jika kau ingin menjadi kaya, hitunglah berapa banyak sesuatu yang kau miliki yang tidak dapat di beli dengan uang, maka kau akan menjadi kaya.”

 

Kebanyakan orang akan mempercayai pepatah itu, tapi tidak dengan Sehun. Sehun tumbuh besar di sekeliling keluarga yang semuanya berkecimpung di dunia bisnis dan politik. Ayahnya seorang politikus ternama dan ibunya seorang pengusaha berlian, mereka menikah karena di jodohkan.

 

Sehun seorang anak tunggal yang tumbuh besar tanpa mendapatkan kasih sayang yang cukup dari kedua orang tuanya, ia hidup di kelilingi oleh para maid yang mengurusinya. Orang tuanya hanya memberikannya uang yang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhannya, jarang sekali orang tuanya mengajak Sehun pergi untuk jalan-jalan.

 

Ketika Sehun berumur 21 tahun, kedua orang tuanya tiba-tiba mendatanginya di Korea. Sehun saat itu sedang melanjutkan studinya di Yonsei University, terpaksa menghentikan kuliahnya untuk sementara karena ia harus menggantikan posisi sang ibu sebagai pemimpin perusahaan. Ibunya sekarang sedang terbaring lemah di rumah sakit, tidak dapat bergerak untuk memimpin usaha berlian yang omzetnya sudah miliaran itu, karena kanker serviks yang menyerangnya.

 

Lalu Sehun menginjak usia 22 tahun, usaha berlian yang ia kelola sudah jauh melampaui kesuksesan sang ibu dulu. Ia berhasil melipat gandakan keuntungan perusahaan dan membawa nama brand sang ibu menuju kancah internasional. Sehun terkenal sebagai salah satu pebisnis termuda yang berhasil menyabet banyak pernghargaan, dan keuntungan perusahaan yang mencapai triliunan dolar Amerika hanya dalam kurun waktu setahun.

 

Dan ketika ia memasuki usia 23 tahun, ayahnya dengan mendadak datang mengunjunginya suatu sore di apartemen miliknya di kawasan Gangnam. Tidak lama lagi, pria itu akan melakukan pemilu dan kampanye bersama anggota partai lainnya, dan ia akan membutuhkan imej bagus untuk pencitraan nama baiknya.  Maka dari itu, ia menghampiri sang putra dan meminta Sehun untuk melakukan suatu hal yang tidak pernah Sehun duga.

 

“Menikahlah dengan putri dari Mayor Im,” kata sang ayah. “Itu akan membantuku dalam mengambil hati rakyat.” Sehun hanya memasang ekspresi keras.

 

“Aku tidak menerima penolakan Oh Sehun. Kau putraku, dan kau berkewajiban untuk menuruti seluruh perintahku.”

 

Dengan begitu, Tuan Oh bergegas melangkahkan kakinya keluar dari apartemen sang putra. Seminggu kemudian, di susunlah rencana pertemuan antara keluarga Oh dan keluarga Im di sebuah restoran ternama di Korea. Sehun berusaha tidak peduli dan memilih untuk menyibukkan dirinya dengan seluruh urusan bisnis berliannya. Ia menghindari sang ayah dengan cara bepergian ke berbagai negara dengan alasan ingin mengeksplorasi wilayah penambangan berlian baru. Namun Tuan Oh sepertinya sudah mengetahui rencana Sehun, entah bagaimana caranya, ia berhasil membuat Sehun menghadiri acara pertemuan itu.

 

“Mayor Im.” Tuan Oh bangkit dari duduknya untuk menyambut keluarga Im yang baru saja datang. Sehun berdiri di samping ayahnya dalam diam.

 

“Tuan Oh.” Mayor Im tersenyum, lalu mereka berdua saling berjabat tangan.”Senang bertemu dengan Anda, Tuan Oh. Saya sering mendengar hal-hal baik mengenai Anda.”

 

Seorang wanita tinggi muncul dari balik Mayor Im dan bersalaman dengan Tuan Oh, itu pasti Nyonya Im, pikir Sehun. Tuan Oh menjabat tangan Nyonya Im, “senang bertemu dengan Anda juga, nyonya. Saya dengar peluncuran brand terbaru Anda sangat sukses kemarin malam, selamat.”

 

Nyonya Im tertawa dengan anggun, “Baik sekali Anda, terima kasih.” Mata wanita itu akhirnya menangkap sosok Sehun yang berdiri di balik bayang-bayang sang ayah, mata Nyonya Im berbinar-binar.

 

“Apakah ini Sehun?”

 

Sehun terbatuk kecil sebelum maju beberapa langkah untuk menyapa Tuan dan Nyonya Im, “Suatu kehormatan untuk bertemu dengan Anda.”

 

“Tampan sekali, cocok untuk Yoona.” Pekik Nyonya Im sambil menepukkan kedua tangannya sekali, lalu berbalik untuk memanggil seseorang.

 

“Yoong? Ayo kesini, sapa calon suamimu.”

 

Seorang wanita seumuran Sehun melangkah maju dengan pandangan tertunduk. Rambut pirangnya tertata rapih di atas kepalanya, setelan gaun berwarna hitam yang ia kenakan nampak sedikit memberi warna pada kulit putihnya itu, ia tinggi—sekitar 168 cm.

 

Sehun mengkerutkan dahinya ketika melihat wanita yang di panggil Yoona itu, Yoona terlihat seperti orang yang pemalu, dan sebuah pemikiran melintas di kepala Sehun,ini adalah wanita yang akan menikah denganku.

 

“Namaku Yoona.” Yang mengejutkan, suaranya terdengar halus.

 

Sehun mengangkat dagunya, ia bisa melihat Yoona yang meliriknya lewat bulu mata wanita itu, “Oh Sehun.”

 

“Bukankah mereka sangat serasi?” suara Nyonya Im mengalihkan perhatian mereka, “Aku tidak sabar menentukan tanggal pernikahan kalian!”

 

Mendengar perkataan Nyonya Im yang mengagetkan itu, Yoona hanya tersenyum canggung sementara Sehun hanya berekspresi datar. Pernikahan mereka di langsungkan seminggu sebelum ayah Sehun mengikuti pemilihan.

 

Pesta pernikahan yang di rancang langsung oleh Nyonya Im memiliki konsep yang elegan, tamu undangan yang di undang pun tidak banyak, hanya sanak keluarga dan beberapa kenalan. Bahkan ibu Sehun datang dengan menggunakan kursi roda, dan tangan yang masih di lilit infus, namun Nyonya Oh berhasil tersenyum kepada Sehun ketika sang putra meliriknya dari altar.

 

Tuan Oh dengan mudahnya mengarang cerita mengenai pertemuan pertama Sehun dan Yoona, ia berkata kepada para awak media bahwa Sehun dan Yoona sudah berkencan selama 3 tahun, mereka bertemu pertama kali di kampus dan saling jatuh cinta pada pandangan pertama. Tentu saja awak media mempercayai perkataan Tuan Oh.

 

Sehun menyaksikan sang ayah dengan pandangan muak ketika Tuan Oh sibuk mengadakan konferensi pers mengenai pernikahannya dengan Yoona  beberapa hari yang lalu. Acara pernikahan mereka berjalan dengan lancar, Sehun memakukan tatapannya kepada Yoona yang berjalan didampingi oleh Mayor Im menghampiri Sehun di altar.

 

Ketika Mayor Im menyerahkan tangan Yoona ke genggaman Sehun, Sehun bisa merasakan hangatnya tangan Yoona di tangannya sendiri, ia berusaha menepis rasa nyaman dan betapa pas tangan Yoona berada di genggamannya. Sehun malah memfokuskan dirinya kepada sang pendeta di hadapan mereka sekarang.

 

Dan ketika sudah waktunya untuk mengucapkan janji suci sehidup semati, kata-kata ‘aku bersedia’ mengalir dengan lancar dari mulut Yoona, sementara Sehun terdiam selama beberapa detik sebelum bibirnya bergerak tanpa sadar.’aku bersedia.’

 

“Kalian sangat serasi!” pekik Nyonya Im ketika Sehun dan Yoona turun dari altar. Yoona tersenyum lalu memeluk sang ibu, sementara Sehun hanya berdiri dalam diam di belakang bayang-bayang. Nyonya Im menangkup wajah sang putri dengan tangannya, “YaTuhan, putri kecilku sudah menjadi tanggung jawab lelaki lain sekarang.” Tubuh Sehun menjadi kaku ketika mendengar kata ‘tanggung jawab’.

 

” Sehun,” Sehun menoleh kebelakang dan mendapati sang ibu mendekat ke arahnya menggunakan kursi roda, ia menunduk untuk memeluk sang ibu,

 

“Aku tak percaya kau sudah menikah.”Nyonya Im berjalan ke sisi Nyonya Oh, “Setuju,” Lalu mereka berdua saling melempar senyuman.

 

Sehun dan Yoona harus menghadapi para tamu yang berasal dari berbagai kalangan, entah itu teman politikus ayah mereka atau relasi bisnis ibu mereka. Sehun mengerang dalam hati setiap kali ia harus memasang senyum bahagia palsu di hadapan para tamu, ia lelah harus bertingkah seakan-akan ia dan Yoona adalah dua sejoli yang saling mencintai, yang bahagia di hari pernikahan mereka.

 

Sehun sesekali melirik Yoona dan menemukan wanita itu tersenyum secara alami, tidak seperti Sehun yang harus ekstra sabar memasang senyum palsu. Sehun menatap Yoona dengan tajam selama beberapa saat, sampai akhirnya Yoona memalingkan wajahnya dan pandangan mata mereka bertabrakan. Sehun mengedip beberapa kali sebelum memutus kontak mata mereka, berusaha meyakinkan dirinya bahwa Yoona tidak merona ketika di pandangi olehnya.

 

“Aku tidak menyangka kau mendahuluiku dalam menikah.” Sebuah suara berat membuat senyuman Yoona mengembang berkali-kali lipat lebih cerah di banding sebelumnya.

 

“Chanyeol Oppa!”

 

Sehun menatap lelaki yang baru saja membuat Yoona tersenyum cerah, lelaki itu tinggi—bahkan lebih tinggi dibanding Sehun —senyumannya lebar, hampir mirip seringaian, yang membuat Sehun semakin aware adalah ketika Yoona menghampiri lelaki itu dan memeluknya dengan erat.

 

Sehun tahu harusnya ia tidak merasa panas ketika ia melihat Yoona memeluk lelaki lain, tapi ketika ia melihat tatapan tidak suka Chanyeol yang di tujukan kepadanya, ia tidak punya pilihan lain selain merasa tersulut. Yoona, tidak menyadari ketegangan di antara kedua lelaki itu, menarik Chanyeol agar bisa berdekatan dengan Sehun. Chanyeol menatap Sehun dengan pandangan menantang, sementara Sehun hanya menatap Chanyeol datar.

 

Oppa, ini Sehun,suamiku. Sehun, ini Chanyeol Oppa, sahabatku, ia datang jauh-jauh dari China hanya untuk mendatangi pernikahan kita.”

 

Kedua lelaki itu berjabat tangan dengan kaku, “Oh Sehun.” Suara Sehun sedingin es.

 

Mata Chanyeol menelusuri wajah Sehun, “Park Chanyeol. Senang bertemu dengan suami adik kesayanganku ini.” Chanyeol berkata dengan penuh penekanan terutama di kata ‘kesayanganku’, sengaja ingin menyulut Sehun lebih lanjut.

 

Ujung bibir Sehun mengkerut membentuk senyuman miring, “Senang akhirnya bisa bertemu dengan sahabat terbaik istriku.” Dahi Chanyeol mengkerut kesal ketika Sehun menekankan kata istri.

 

Yoona terlihat sangat senang berada di sisi Chanyeol, wanita itu tidak melepaskan pelukannya di lengan Chanyeol, membuat Sehun gatal ingin menarik Yoona ke sisinya, dan itu ia lakukan ketika Chanyeol menyeringai ke arahnya.

 

“Yoong,” Nada suara Sehun memperingatkan, “Kau istriku sekarang, bukankah lebih baik kau tetap berada di sisiku, hm?”

 

Yoona mengedipkan matanya beberapa kali, sebelum ia kembali melingkarkan lengannya di lengan Sehun, “A-ah, maaf, aku hanyabelum terbiasa—”

 

Raut wajah Chanyeol menggelap, seakan-akan pemuda itu siap membunuh Sehun kapanpun ia siap, namun Sehun hanya tersenyum santai sambil mengeratkan pelukan tangan Yoona di lengannya.”Maka kau harus terbiasa.”

 

_0o0_

 

” Sehun,” suara sang ayah membuat Sehun menoleh dari pemadangan balkon kamarnya. Tuan Oh melangkah maju untuk mensejajarkan dirinya dengan sang putra, “Bagaimana perasaanmu setelah menikah?” Sehun menghirup nafas sedalam-dalamnya sebelum menjawab,”Baik, sepertinya.”

 

Ia mengalihkan pandangannya kembali ke pemandangan di depannya, berusaha untuk tidak terpengaruh oleh kata-kata apapun yang akan mengalir keluar dari mulut sang ayah nanti.”Aku tahu kau tidak menginginkan pernikahan ini.”

 

Tuan Oh menarik bahu sang putra agar Sehun sekarang berhadapan denganwajahnya, “Tapi aku butuh kau untuk melakukan suatu hal lagi.”

 

Sehun menatap tepat di mata sang ayah, kegelisahan mulai menjalar di dalam tubuhnya. “Apa?” ia menggigit bibir bawahnya, menunggu dengan gugup.

 

“Aku membutuhkan cucu.”

 

Dunia seakan-akan berhenti berputar di sekeliling Sehun,”A-apa?”.

 

Tuan Kim mengucapkan setiap kata dengan perlahan, cara itu semakin membuat Kai merasa pusing, “Seorang cucu, Oh Sehun. Seorang penerus keluarga Oh.” Dan Sehun merasa masa depannya hancur saat itu juga.

 

“Dengar, Yoona.” Sehun berjalan mundar-mandir dengan gelisah di hadapan Yoona yang terduduk di kasur kamar hotel yang disediakan oleh orang tua mereka untuk melaksanakan malam pertama mereka.

 

“Tidak ada di antara kita berdua yang menginginkan pernikahan ini, demi Tuhan aku masih terlalu muda untuk menjadi seorang suami, tapi aku harus melakukan ini karena kehendak ayahku.”

 

“Aku tahu,” suara Yoona terdengar pelan, “aku juga mengerti mengapa kau melakukannya—”

 

“Yoona,” Sehun berhenti tepat di hadapan Yoona yang sekarang sedikit terlonjak ke belakang karena kaget, “ayahku tidak hanya memintaku untuk menikahimu, tapi juga untuk memberikannya cucu.”

 

Hening melanda kamar yang ditempati oleh Sehun dan Yoona. Sehun masih berdiri dengan gelisah sementara Yoona kelihatan lebih pucat di banding biasanya. Sehun menghela nafas, lalu berjalan menuju sofa dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Ia membiarkan lengan kanannya terangkat dan menutupi mata dan dahinya, deru nafasnya kasar, ia tidak tahu bagaimana caranya untuk menghadapi Yoona lagi setelah ini.

 

“Ini ide yang bodoh, aku tahu. Lupakan saja, aku akan berbicara dengan ayahku nanti—”

 

“Tidak.” Baru kali ini Sehun mendengar suara Yoona setegas itu,”aku akan melakukannya, Sehun. A-aku…” Yoona menjilat bibirnya dengan gugup, “aku bersedia mengandung anakmu.”

 

Sehun terlonjak bangun dari sofa dan melotot ke arah Yoona yang sedang tertunduk dalam di atas kasur, ia tidak menyangka bahwa Yoona akan berkata seperti itu, sangat tidak mungkin.”K-kau serius?” Yoona mengangkat wajahnya dengan perlahan lalu menatap Sehun dengan gugup, “Y-ya.”

 

“Kenapa…” Suara Sehun menghilang di akhir kata.”Karena ayahku juga mengatakan hal yang sama?” jawab Yoona ragu. Sehun bangkit dari sofa dan mulai melangkahkan kakinya menuju kasur, tempat dimana Yoona berada. Ia lalu berlutut di hadapan wanita pirang itu, tangannya terangkat untuk mengelus pipi Yoona dengan lembut.

 

Yoona menggigil di bawah sentuhan tangan Sehun.”Harus kau ketahui, aku melakukan semua ini tanpa dasar cinta.I don’t give a damn about love. Jadi, jangan harap aku akan bermain lembut.”

 

_0o0_

 

“Jadi? Bagaimana malam pertamamu?”Dahi Sehun mengkerut ketika mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh Miyoung kepadanya.

 

“Aku kira kau tidak mau membahas ini.”Wanita yang sedang duduk di pangkuan Sehun itu mengibaskan rambutnya ke belakang sebelum melingkarkan kedua lengannya mengelilingi leher Sehun, “But I’m curious,Oh.”

 

Sehun membawa sebuah botol alkohol mendekati mulutnya, dan meminum isinya. “Believe me, kau tidak mau tahu.” Ia lalu melempar botol alkohol itu kesembarang arah sebelum menghela nafas kasar.

 

“Aku juga tidak akan mau melakukannya jika saja pria tua itu tidak mengancam akan membiarkan ibuku terlantar begitu saja di rumah sakit.”

 

“What a good son.” Miyoung berkata dengan nada mencibir. Sehun menatap Miyoung dengan alis yang terangkat, “So? That’s all? Kau mengajakku bertemu di sini hanya untuk menanyakan itu?”

 

“Hmm…” jari-jari Miyoung bergerilya di pundak Sehun, “kau terlihat stress sekarang, mau melakukan sesuatu yang menyenangkan?” ia tersenyum penuh makna ke arah lelaki itu.

 

Sehun berdiri sambil mengangkat Miyoung di dalam gendongannya,”my pleasure.”

 

_0o0_

 

Sudah seminggu berlalu semenjak pernikahan Sehun dan Yoona di selenggarakan, sekarang Sehun sedang berdiri di hadapan cermin, dengan setelan hitam yang melekat di tubuhnya. Ia memperhatikan betapa mengerikan kondisinya saat ini, ia tidak bisa tidur beberapa malam belakangan ini, atau lebih tepatnya belum terbiasa tidur satu ranjang dengan orang lain.

 

Ia tahu bahwa Yoona berusaha tidur sejauh mungkin dari Sehun—wanita pirang itu menempatkan dirinya sendiri di ujung kasur dan tidak bergerak hingga pagi menjelang. Sehun menghela nafas kasar, hari ini adalah hari dimana hasil pemilihan sang ayah akan di umumkan. Tuan Oh sudah berpesan kepadanya untuk hadir dan membawa Yoona ke acara itu. Mayor Im dan istrinya pun akan datang. Maka dari itu, ia dan Yoona sudah bersiap-siap untuk mendatangi acara penting bagi sang ayah.

 

“Sudah siap?”Yoona melangkah masuk ke kamar mereka menggunakan dress putih yang membuatnya semakin bersinar. Dalam hati, Sehun mengomentari bahwa Yoona terlihat lebih berwarna jika ia memakai dress hitam, namun ia tidak menyuarakan pendapatnya itu. Namun, ekspresi wajah wanita pirang itu mengatakan bahwa ia memiliki sesuatu yang harus di sampaikan.

 

“Ada apa?” tanya Sehun langsung.

 

Yoona berjalan dengan perlahan ke arah Sehun, sementara lelaki yang lebih tua itu memperhatikannya dengan tatapan bingung. Sehun melirik ke arah kedua tangan Yoona yang tersembunyi di balik tubuh wanita itu, dan ketika Yoona mengulurkan sebuah kertas dari balik tubuhnya kepada Sehun, ia dengan segera merebut kertas itu dari tangan Yoona dan membacanya.

 

“I’m pregnant.”

 

_0o0_

 

“…ini adalah hari yang sangat menggembirakan bagiku, di samping karena aku terpilih untuk menjadi wali kota Seoul yang baru, putraku ini juga memberikan kabar gembira tersendiri untuk kami sekeluarga. Istri dari putraku, Im Yoona, yang baru di nikahkan oleh putraku seminggu yang lalu kini sedang hamil anak pertama mereka…”

 

Sehun menggeram pelan ketika melihat sang ayah yang sedang berdiri di atas podium, berkoar-koar untuk berpidato akan kemenangannya. Ia juga dapat melihat Yoona yang berada di pelukan sang ibu, dan Tuan Im yang menepuk-nepuk punggung wanita itu dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.

 

Mereka pasti sangat senang dengan kehadiran seorang calon cucu, Sehun membatin.”Wow man, kau sangat hebat di ranjang, pasti.” Chen, teman satu universitas Sehun dulu datang dan merangkul Sehun dengan erat.

 

“Hanya dalam waktu seminggu langsung bisa menghamili istrimu.” Pemuda itu lalu bersiul, bermaksud untuk menggoda Sehun.

 

“Hentikan,” gerutu Sehun. “Ini aku lakukan demi ibuku.”

 

“Aw,come on, man! Harus ku akui bahkan aku iri denganmu yang sudah menikah, aku sudah lama menanti-nanti kapan aku akan menjadi seorang ayah, kau tahu?”

 

Sehun seakan-akan baru saja terhempas dari surga ke neraka, selama ini tidak pernah terlintas sedikitpun pemikiran akan dirinya menjadi seorang ayah. Sehun bahkan tidak pernah memikirkan dirinya akan menikahi seseorang dan membangun sebuah keluarga. Pemikiran itu terasa mengerikan bagi Sehun yang bahkan meskipun sudah menikah tetapi masih belum siap melepas masa lajangnya.

 

Menjadi seorang ayah, eh? Sehun terkekeh masam dalam hati. Sepertinya anak itu kurang beruntung untuk lahir sebagai anakku.

 

_0O0_

 

Selama kehamilan Yoona, sepertinya wanita itu tidak pernah bertingkah aneh atau meminta hal yang tidak tidak. Atau setidaknya, belum. Ada beberapa hal yang berubah dalam diri Yoona semenjak ia hamil, seperti misalnya ia tidur lebih dekat dengan Sehun atau kulkas yang sekarang terisi penuh oleh berbagai macam jenis makanan.

 

Yoona juga berubah menjadi hiperaktif dan tidak mau duduk diam, jadi yang ia lakukan adalah mengecek seluruh ruangan rumah mereka dan jika ia menemukan bagian yang kotor, Yoona akan segera siap siaga untuk membersihkannya. Membuat Sehun, yang saat itu pulang cepat dari kantornya, terkejut karena keadaan rumah mereka sangat rapih.

 

Nyonya Im seringkali datang mengunjungi mereka, sekaligus membawa Yoona pergi mengunjungi dokter kandungan. Sehun tidak pernah ikut, ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Namun, diam-diam Sehun penasaran bagaimana wujud calon anaknya itu di monitor usg.

 

“Kau terlihat biasa saja, Oh. Padahal kau akan menjadi ayah sebentar lagi.” Ujar Miyoung ketika mereka memutuskan untuk bertemu lagi.

 

“Hmm…” Sehun bergumam sambil mengeratkan pelukannya di pinggang Miyoung,

 

“Aku tidak begitu suka mengenai gagasan bahwa aku sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.”

 

“Benarkah?” Miyoung bertanya, yang di balas dengan anggukan oleh Sehun.

 

“Apa karena anak itu berasal dari rahim Yoona? Bagaimana jika aku yang hamil anakmu? Kau akan bersemangat?” Sehun menggerakkan bibirnya di atas bahu Miyoung yang terekspos, matanya terpejam, berusaha untuk menikmati sensasi menggelitik yang muncul di perutnya,

 

“Mungkin.” Miyoung tersenyum kecil.

 

_0o0_

 

“Kita harus pindah ke China,” ujar Sehun tiba-tiba, sedangkan Yoona menatapnya dengan terkejut. “Aku baru saja membangun cabang baru di China, dan karena cabang yang akan ku bangun adalah salah satu cabang terbesar yang ada di China, kita harus pindah ke sana.”

 

Yoona melonjak kecil di atas sofa, “kapan kita akan pindah ke China?” Sehun membaca email dari bawahannya yang berisi jadwal pembukaan cabang baru perusahaannya di China, “minggu depan, kau punya waktu beberapa hari untuk bersiap-siap.”

 

Sehun lalu menoleh untuk menatap Yoona, ia teringat akan sesuatu.”Kau… bisa bahasa China, kan?” Yoona terkekeh kecil, lalu mengambil segelas bubble tea dari atas meja. “Aku menghabiskan masa kecilku di China, jadi tentu saja bisa.”

 

“Bagus.” Sehun mengangguk lalu ia berjalan untuk memasuki kamar mandi, bermaksud untuk membersihkan dirinya setelah melewatihari yang melelahkan. Namun, perkataan Yoona selanjutnya membuat Sehun menghentikan langkahnya secara mendadak.

 

“Ah,iya! Kalau kita pindah ke China, itu artinya aku bisa bertemu dengan Chanyeol oppa lebih sering!”

 

_0o0_

 

Kehidupan baru mereka di China ternyata lebih mudah dari pada yang Sehun bayangkan. Guangzhou. Ternyata Yoona dulu tumbuh besar di kota ini, sehingga mereka tidak kesusahan untuk mencari alamat rumah baru mereka. Yoona punya ingatan yang menakjubkan. Rumah baru mereka berukuran lebih besar di banding rumah lama mereka di Seoul. Rumah kali ini memiliki kolam renang di halaman belakang, dan taman yang luas.

 

Yoona memekik girang ketika ia menemukan bahwa halaman rumah mereka cukup luas untuk bisa digunakan sebagai lapangan basket kecil. Suatu kebiasaan baru lagi semenjak ia hamil, Yoona jadi menyukai basket dan sering menonton pertandingan basket.

 

” Sehun? Bisakah kita membangun lapangan basket kecil di halaman rumah?” Wajah Yoona bersinar ketika ia menanyakannya kepada Sehun, sementara Sehun hanya membalasnya dengan anggukan kecil.

 

Di hari ke-3, Yoona sudah bermain basket dengan riang di halaman rumah mereka. Di dampingi beberapa maid yang kerap mengingatkan Yoona akan kandungannya jika wanita itu sudah melompat-lompat terlalu kuat. Sehun lebih sering menghabiskan waktunya untuk berenang, itu membantunya untuk melepas stress akan pekerjaan kantor. Dan tentu saja, membuat jarak antara dirinya dan Yoona semakin melebar.

 

Hari ke-5, ketika Sehun ingin berenang, ia menemukan sebuah ayunan terpasang rapih di dekat kolam renang. Ternyata Yoona memasang ayunan itu sebagai tempat ia bersantai jika ia kelelahan sehabis bermain basket. Sehun berusaha mengabaikan eksistensi Yoona dan ayunan itu dan tetap berenang seperti biasanya.

 

Harus Sehun akui, kemampuan bahasa mandarinnya sangat payah. Yoona banyak membantunya ketika mereka pindah. Ia yang berkenalan dengan para tetangga mereka, berusaha bersikap ramah sementara Sehun hanya berdiam diri di sebelahnya. Yoona jugalah yang membantu Sehun menerjemahkan pesan-pesan yang berasal dari relasi bisnisnya yang berasal dari China. Setidaknyasemua berjalan lancar dan damai, sampai akhirnya, pada hari ke-10, Chanyeol datang mengunjungi rumah baru mereka.

 

“Rumah yang indah, Tuan Oh.” Ujar Chanyeol kala mereka bertemu.

 

“Terima kasih.” Balas Sehun singkat.

 

Tidak mau berbicara dengan Chanyeol lebih lama lagi.Semakin lama, Sehun semakin sibuk dengan urusan kantornya. Ia bahkan jarang pulang ke rumah, dan semakin mengabaikan Yoona yang usia kehamilannya juga semakin bertambah tua. Yang ada di pikiran Sehun hanyalah kerja, kerja, dan kerja. Ia bahkan tidak menyadari bahwa ia sudah jarang bercukur, tidak menyadari sudah berapa malam ia tidak pulang ke rumah, juga tidak menyadari bahwa selama ia absen dari sisi Yoona, Chanyeol-lah yang selalu menemani wanita pirang itu kemanapun ia pergi.

 

Sampai suatu malam, Sehun berkesempatan untuk pulang ke rumahnya dan mendapati Yoona sedang duduk menonton TV di ruang keluarga, tertawa sambil meminum segelas bubble tea di tangannya.”Aku tidak ingat kau punya baju itu,” ujar Sehun dengan tatapan menyelidik.

 

Yoona menunduk untuk menatap baju yang ia kenakan, “Oh? Ini? Chanyeol oppa yang membelikannya untukku, ia berkata—”

 

“Yoona,” suara Sehun terdengar tegas, membuat Yoona sedikit terlonjak dari duduknya. “Selama ini kau menghabiskan waktumu bersama lelaki lain?” Wanita pirang itu nampak gelagapan sebelum menjawab,”Chanyeol oppa sahabat baikku—”

 

“Aku tidak peduli jika ia sahabat baikmu atau bukan, tapi kau telah bepergian bersama lelaki lain tanpa seizinku, suamimu. Bukankah itu hal yang tidak patut dilakukan oleh seorang istri?”Yoona terdiam sambil tertunduk dalam, Sehun mendelik sebelum akhirnya melangkahkan kakinya untuk memasuki kamar mereka.

 

“Tumbuhkanlah sedikit rasa hormat di dalam dirimu selama menjadi istriku.”

 

_0o0_

 

“Jadi? Sehun melarangmu untuk menemuiku lagi?”Yoona mengangguk lesu, ia sedikit takut untuk bertatap mata dengan Chanyeol, takut jika ia ternyata telah menyakiti perasaan lelaki yang sudah ia anggap seperti kakak kandungnyasendiri.

 

Yoona masih sangat ingin menghabiskan waktunya bersama Chanyeol di banding harus berdiam diri di rumah sendiri, namun Sehun itu suaminya, ia harus menaati perkataan Sehun. Bagaimanapun juga.Oh Sehun sialan.Chanyeol menggeram dalam hati. Ia sudah sangat senang ketika mendengar kabar bahwa Yoona akan pindah ke China, yang berarti ia bisa menghabiskan waktunya berduaan bersama Yoona.

 

Namun, ketika Yoona mengatakan kepadanya bahwa Sehun melarang Yoona untuk menemuinya lagi, sekujur tubuh Chanyeol dipenuhi oleh amarah.”Tapi, Yoong, kau kesepian di rumah itu. Apa kau tidak bisa membujuk Sehun?” tanya Chanyeol penuh harap, ia tidak akan melepaskan Yoona semudah itu.

 

Yoona menggigit bibir bawahnya pelan, andai saja ia berani untuk menyuarakan keinginannya kepada Sehun, ia pasti sudah melakukannya dari dulu sekali. Namun ia terlalu takut untuk sekedar menghampiri suaminya itu, Sehun selalu memiliki aura yang mengintimidasi di sekitarnya.

 

“Yoong,” Chanyeol menggenggam tangan Yoona dengan erat,”kau sedang hamil, sedang membutuhkan perhatian ekstra. Sehun tidak ada di sisimu, lalu siapa yang akan menjagamu, hm? Siapa yang akan memenuhi nafsu makanmu yang berlebih ini?”

 

Oppa tidak usah khawatir, ada para maid yang berjaga di rumah itu—”

 

“Tapi, Yoong—” Chanyeol berusaha untuk bertahan.

 

Oppa.” Suara Yoona yang penuh dengan keyakinan membuat Chanyeol bungkam. “Aku sudah besar sekarang, sudah menikah, aku bukan lagi anak kecil yang harus kau jaga kemanapun aku pergi, sekarang aku sudah memiliki Sehun di sisiku sebagai suami. Dialah yang akan menggantikanmu menjagaku sekarang, kau tidak perlu khawatir lagi.”

 

Kata demi kata yang keluar dari mulut Yoona berhasil menusuk Chanyeol tepat di ulu hatinya. Di remasnya perlahan kedua tangan Yoona yang berada di dalam genggamannya, seakan-akan ia menyalurkan kekuatannya kepada wanita yang di cintainya dengan segenap jiwa dan raganya. Yoona tersenyum ke arahnya, dengan senyum yang pernah membuat Chanyeol jatuh cinta kepadanya bertahun-tahun yang lalu. Dan Chanyeol tidak punya pilihan lain selain membalas senyuman itu dengan senyuman yang menyimpan berjuta-juta makna, yang tidak akan pernah Yoona ketahui.

 

_0o0_

 

Ketika masa kehamilan Yoona memasuki bulan ke-7, Sehun pulang ke rumah dengan di sambut oleh Yoona yang sedang tersenyum sumringah ke arahnya.”Ada apa?” tanya Sehun bingung.

 

Yoona menjulurkan sebuah benda hitam tipis yang terlihat seperti foto, Sehun merasa déjà vu, ia ingat saat ketika Yoona menyodorkannya kertas yang berisi keterangan kehamilan wanita itu berbulan-bulan yang lalu. Namun sekarang yang bisa ia lihat di foto itu adalah, sebuah gumpalan kecil berwarna putih yang terlihat seperti gambaran seorang bayi. Sehun menahan nafasnya.

 

“Seorang putri.” Suara Yoona sarat akan kebahagiaan. “Kau akan memiliki seorang anak perempuan. Seorang penerus.”

 

Seorang penerus. Sehun membatin. Ini kah yang di inginkan ayahnya? Setelah anak itu lahir, lalu apa? Haruskah Sehun melihatnya tumbuh lalu melatihnya agar bisa menjadi seperti dirinya? Seseorang yang bahkan tidak pernah mengetahui bagaimana pertumbuhan sang anak di dalam kandungan istrinya hampir 7 bulan lamanya? Sehun jadi bertanya-tanya bagaimana perasaan ayahnya dulu ketika berada di posisi yang sama dengannya seperti sekarang.

 

Apakah ayahnya kaget? Sedih? Senang? Bahagia? (Sehun meragukan dua opsi terakhir, karena ia bahkan tidak pernah melihat ayahnya tertawa). Apakah ayahnya dulu bersuka cita ketika menyambut kehamilan ibunya? Ketika ibunya hamil dirinya, apakah ayahnya selalu berada di sisi ibunya? Atau selalu sibuk dengan pekerjaannya? Atau bahkan ketika sang ibu melahirkan, apakah ayahnya menemani sang ibu?

 

Dalam diam, Sehun menyerahkan foto itu kembali ke tangan Yoona,yang langsung di terima oleh Yoona dengan raut wajah kecewa.”Jaga kandunganmu baik-baik.” Dengan itu, Sehun melangkahkan kakinya menjauhi Yoona yang tertunduk di ruang tamu.

 

_0o0_

 

“Senang berbisnis dengan Anda, Tuan Oh. Aku tidak percaya bahwa kau ternyata sangat kompeten dalam menjalankan usahamu. Kau bahkan sudah melampaui semua pencapaian ibumu dulu.”

 

Sehun tersenyum bangga mendengar pujian yang di berikan oleh Song Qian, seorang partner bisnis yang paling penting baginya di China ini. Qian, atau yang akrab di sapa Victoria, adalah seorang pebisnis muda yang kehebatannya sudah tidak di ragukan lagi. Mereka berdua hanya berjarak beberapa tahun, yang menyebabkan keduanya cepat akrab. Ia baru saja melahirkan putra pertamanya dengan seorang penyanyi terkenal, Zhoumi Wu, beberapa bulan yang lalu.

 

“Sampaikan salamku kepada Zhoumi-ge.” Ujar Sehun, lalu ia dan Victoria saling berjabat tangan.

 

“Dan siapa nama putramu tadi?”

 

“Wu Yifan.” Ujar Victoria dengan bangga.

 

Sehun mengangguk, “sampaikan juga salamku untuk Yifan.” Tiba-tiba mereka berdua di kagetkan dengan pintu ruang rapat yang terbuka dengan cukup keras oleh sekretaris Sehun, Fei.

 

“Fei? Ada apa? Sudah ku bilang, aku sedang bertemu dengan tamu—”

 

“Tuan,” suara Fei terdengar penuh dengan kecemasan, membuat Victoria sedikit was-was dan tubuh Sehun menegang.

 

“Aku baru saja menerima telfon dari Tuan Park, ia berkata bahwa istri Anda sekarang sedang di larikan ke rumah sakit, istri Anda akan segera melahirkan.”

 

_0o0_

 

Sehun terduduk di depan ruang melahirkan dengan lesu, di depannya ada Victoria yang sedang berbicara dengan beberapa perawat. Mereka berdua berhasil sampai di rumah sakit menggunakan mobil Victoria, karena Sehun terlalu lamban dalam bertindak.

 

Victoria segera menyetir mobilnya dalam kecepatan tinggi, namun Sehun terlalu shock untuk menyadarinya. Yang ia tahu, tiba-tiba ia sudah berada di dalam rumah sakit, dengan Chanyeol yang menyambut mereka.

 

“Selamat, Oh.” Suara berat Chanyeol berhasil menyadarkan Sehun dari kagetnya. “Putrimu lahir dengan sehat, Yoona juga sedang beristirahat setelah melakukan proses lahiran, didampingi olehku.”

 

Tangan Sehun mengepal mendengar kata-kata terakhir Chanyeol.”Dimana dia sekarang?”

 

“Ruang 405.” Jawab Chanyeol dengan enggan, lalu lelaki caplang itu melangkah menjauhi Sehun di koridor rumah sakit. Ketika Sehun membuka pintu kamar rawat inap Yoona, ia terkejut ketika melihat kedua orang tua Yoona sudah berada di dalamnya.

 

“Sehun…” Nyonya Im adalah orang pertama yang menyadari keberadaannya di ruangan itu. Mata Sehun mendarat kepada sosok Yoona yang terbaring lemas di ranjang rumah sakit, kedua bola mata yang selalu menatap Sehun dengan pandangan berharap itu sekarang tertutup rapat. Dadanya naik turun dengan perlahan, menandakan bahwa ia masih bernafas dengan tenang.

 

Sehun terkejut ketika ia baru melepaskan nafas yang sedari ia tahan ketika Nyonya Im memeluknya dengan erat.”Oooh…Sehun…” Nyonya Im mengelus-ngelus punggung Sehun dengan penuh kasih sayang, “terima kasih…” Sehun membalas pelukan sang ibu mertua itu dengan agak canggung, matanya tidak pernah lepas dari sosok Yoona yang masih terbaring di atas kasur.

 

Kemudian, giliran Tuan Im  yang menghampirinya, ayah Yoona itu hanya menepuk-nepuk bahunya dengan bangga lalu berkata, “ayahmu akan sampai sebentar lagi.”Perkataan Tuan Im menyadarkan Sehun, “ibuku…” ia terlihat kalang kabut. “a-apakah ia tahu?”

 

Nyonya Im mengangguk sambil mengelap air mata yang mengaliri sisi wajahnya, “namun ibumu tidak bisa ikut ke sini, dokter tidak mengizinkannya.” Sehun tersenyum kecil.

 

_0o0_

 

Ketika semua orang sudah berkumpul di ruang inap Yoona (termasuk Victoria dan Chanyeol), Nyonya Im segera memanggil seorang suster untuk membawakan bayi yang baru lahir beberapajam yang lalu itu ke dalam ruangan. Yoona sadar tak lama kemudian, yang langsung mendapat pelukan kasih sayang dari Nyonya Im. Dan ketika pintu kamar inap itu terbuka, seorang perawat masuk sambil menggendong seorang bayi yang sedang tertidur nyenyak di dalam buaiannya.

 

Sehun yang sedang duduk di sebelah kasur Yoona bahkan tidak berkedip sekalipun ketika sang perawat memindahkan bayi itu ketangan Yoona. Seakan-akan mengetahui bahwa ia sedang berada di gendongan sang ibu, bayi itu menggeliat kecil lalu membuka matanya pelan.

 

“Sena,” gumam Yoona sambil tersenyum menatap sang bayi.”Mulai sekarang, namamu adalah Sena.”

 

Sena?” Sehun membeo. Yoona mengangguk, “Oh Sena.”Bayi Sena tersenyum kecil menanggapi perkataan Yoona, ia lalu menguap kecil dan menutup matanya kembali, melanjutkan tidurnya. Nyonya Im berjalan menghampiri Yoona dan mengelus kepada kecil Sena yang berada di dalam gendongannya.

 

“Sena itu bayi yang sangat pintar,” ia berkata dengan bangga.

 

“Tentu saja, bu. Sena itu putriku.” Ujar Yoona.

 

” Sehun.” Suara Tuan Oh membuat Sehun akhirnya mengalihkan pandangannya dari Sena. “Bisa bicara denganmu sebentar?” Sehun mengangguk lalu mengikuti langkah sang ayah keluar dari kamar inap Yoona.

 

“Kerja bagus, nak.” Ucap Tuan Oh ketika mereka sudah berada di luar. “Aku akan kembali ke Korea dan menyebarluaskan berita bagus ini.”

 

“Setelah ini apa?” tanya Sehun datar, “aku sudah menuruti semua perintahmu, menikahi Yoona, memberikanmu cucu sebagai penerus, lalu apa?”

 

Tuan Oh mengedikkan bahunya tidak peduli, “selanjutnya terserah kau, kau bisa saja menceraikan Yoona kalau mau, tapi kau harus menjaga agar anak kalian tetap berada di bawah hak asuh kau. Anak itu akan menjadi aset yang berharga bagi keluarga kita nanti.” Tuan Oh berujar dingin. Sehun hanya terdiam, tidak tahu harus menanggapi perkataan ayahnya dengan apa.

 

_0o0_

 

Benar kata Nyonya Im, Sena adalah bayi yang sangat pintar. Sena tidak pernah menangis di tengah malam, ia tidak pernah membuat kedua orang tuanya terbangun di tengah malam hanya karena tangisannya. Ia selalu bangun jam 7 pagi, tepat setelah Sehun berangkat kerja sehingga ia tidak mengganggu sang ayah yang sedang bersiap-siap berangkat ke kantor.

 

Nyonya Im sempat tinggal beberapa bulan di China untuk mendampingi Yoona merawat bayinya. Sehun terpaksa harus pulang cepat ke rumah, tidak ingin membuat sang mertua curiga. Sena tumbuh dengan cepat, kini usianya sudah 8 bulan. Dan Sehun baru pertama kali menggendong sang putri ketika Yoona memaksanya untuk melakukan hal itu.

 

Ketika Sehun menggendong Sena untuk pertama kalinya selama 8 bulan, ia terkejut betapa ringannya tubuh Sena di dalam gendongannya. Sehun juga baru menyadari bahwa semua yang ada di diri Sena mengingatkan dirinya akan Yoona dan dirinya sendiri, kulit anak itu putih seputih kulit Yoona, hidung dan telinganya juga, sisanya adalah warisan dari Sehun.

 

Mata sipit dan bibir tipis itu, Sehun merasa ngeri ketika ia menyadari betapa mirip dirinya dengan anak yang berada di gendongannya ini. Sayang, itu adalah pertama dan terakhir kalinya Sehun menggendong sang putri di lengannya.

 

Ketika Sena akan mengadakan pesta ulang tahun pertamanya di Korea, Sehun tidak bisa ikut dengan alasan akan ada pertemuan dengan pemimpin perusahaan cabang Singapore di China. Alasan yang dapat di terima oleh Yoona karena pada saat itu memang sedang ada masalah dengan cabang perusahaan mereka yang berada di Singapore.

 

Namun, ketika Sehun kembali seminggu kemudian, bukannya membawa hadiah untuk ulang tahun sang putri, Sehun malah membawa sebuah berita yang membuat Yoona resah.”Aku harus tinggal beberapa bulan di Singapore, keadaan di sana sangat kacau, aku tidak bisa mengatasinya dari kejauhan seperti ini.”

 

Yoona, sambil menggendong Sena yang sedang tertidur, bertanya kepada Sehun dengan ragu. “Apakah kami boleh ikut?”

 

“Tidak.”Sudah pasti. “Kau dan Sena tetap di sini. Sena masih terlalu kecil untuk bepergian jauh.”

 

Yoona hanya menghela nafas kecil mendengar perkataan sang suami. Beberapa bulan yang Sehun katakan ternyata berubah menjadi 3 tahun lamanya. Ketika Sehun kembali menginjakkan kakinya di Korea, ia mendapati bahwa sang putri bahkan sudah lancar berbicara baik bahasa Korea maupun bahasa Mandarin.

 

“Papa!” ujar Sena dengan mata yang berbinar ketika ia mendapati Sehun berdiri di ambang pintu rumah mereka, Sehun sedikit terkejut ketika Sena mengenali dirinya yang 3 tahun belakangan ini menghilang . Sena kecil memeluk kaki sang ayah dengan erat, menyalurkan semua kerinduan yang selama ini ia pendam. Sehun menepuk-nepuk kepala sang putri dengan canggung.

 

“Se- Sehun …”

 

Sehun menoleh dan mendapati Yoona sedang berdiri dengan wajah terkejut.”Yoona,” tatapan mata Sehun menusuk Yoona tepat di jantung lelaki itu, “I’m home.”

 

_0o0_

 

“Hmm… kau tidak berubah, Oh. Waktu tidak mengubah penampilanmu.” Ucap Miyoung sambil membelai sisi wajah Sehun. Sehun mengangkat alisnya, “benarkah?” Miyoung mencondongkan tubuhnya ke arah Sehun hingga lelaki itu bisa merasakan hangat tubuhnya, “mungkin sedikit lebih tampan dari sebelumnya.”

 

Sehun tertawa mendengarnya.”Terakhir kali aku mendengar kabar tentangmu,” Sehun membalikkan posisi duduknya hingga sekarang ia berhadapan dengan Miyoung, “kau hamil, benarkah itu?”

 

Guratan kesal muncul di wajah wanita itu, “aku aborsi. Aku tidak mau mengandung anak seseorang yang bahkan tidak aku cintai.”

 

Sehun terdiam mendengarnya, Miyoung lalu melanjutkan,”bagaimana dengan istrimu? Ia sudah melahirkan, bukan?”

 

“Seorang putri,” tanpa sadar sudut bibir Sehun terangkat ketika iateringat betapa menggemaskannya tingkah laku Sena di rumah. “Oh Sena.”

 

Sena, eh?” Miyoung menyandarkan kepalanya di pundak Sehun,”nama yang bagus.” Ia bergumam.

 

“Yoona yang mengusulkannya.” Miyoung menatap Sehun dengan alis terangkat, “lalu? Sekarang apa? Kau masih bertahan dengan wanita itu?”

 

Sehun mengangkat bahunya malas, “setidaknya hanya sampai Sena tumbuh cukup besar untuk menjadi penerus keluargaku.”

 

Ia meneguk segelas wine sampai habis, lalu menuangkan cairan anggur dari botol ke gelasnya lagi hingga penuh. Miyoung mencibir lalu menyalakan rokok yang berada di bibirnya,ia menghembuskan asap rokok itu ke arah Sehun, membuat lelaki itumengernyit kesal. “Masih butuh beberapa tahun lagi agar anak itu cukup umur, Oh. Aku tidak akan tahan menunggu selama itu.”

 

Dengan tidak sabar, Sehun menarik batang rokok itu dari bibir Miyoung lalu melumat bibir wanita itu dengan cepat dan kasar sebelum ia menghisap rokok itu dengan mulutnya sendiri.

 

“Patient, babe. Kau akan mendapatkanku sebentar lagi.”

 

_0o0_

 

Yoona sangat bersyukur untuk memiliki Sena sebagai anaknya. Sena bisa di bilang anak yang terlalu jenius dibanding dengan anak-anak lain yang seumurannya. Ia tidak pernah bertanya kepada Yoona, mengapa ‘papa’ tidak pernah memeluk atau menggendongnya seperti papa papa yang lain. Ia juga tidak pernah bertanya kepada perginya Sehun selama 3 tahun belakangan ini (Sena cukup jenius untuk mengetahui seluruh kejadian yang ia alami selama ia masih kecil).

 

Yang anak itu lakukan hanya bermain dengan segudang mainan yang dibelikan Uncle Chanyeol kepadanya setiap lelaki caplang itu datang berkunjung, dan buku-buku cerita bergambar yang di berikan oleh Grandma dan Grandpa kepadanya. Yoona tidak bisa meminta lebih untuk hal ini. Sehun masih jarang pulang ke rumah mereka, menyisakan Yoona sendiri tidur di kasur mereka.

 

Yoona sudah terbiasa akan hal ini, bukannya ia mengharapkan agar Sehun pulang lalu memeluknya atau apa, Yoona hanya tidak mau terjebak di dalam harapannya sendiri. Sementara Chanyeol, lelaki itu memutuskan untuk kembali ke Korea semenjak ulang tahun Sena yang pertama. Ia mengisi kekosongan Sehun di sisi Sena selama lelaki itu tinggal di Singapore.

 

Chanyeol yang mengajak Sena pergi untuk membeli mainan pertamanya, ia menyaksikan bagaimana Sena pertamakali melangkahkan kaki kecilnya di lantai tanpa bantuan dari Yoona  ataupun dirinya, ia juga pula yang menjadi saksi ketika Sena berbicara untuk pertama kalinya.

 

“Papa.” Begitu kata Sena sambil menepuk-nepuk pipi Chanyeol pelan. Andai saja aku memang papa-mu. Chanyeol tersenyum pedih. Jadi, secara teknis, Chanyeol-lah yang selalu berada di sisi Sena, menyaksikan pertumbuhan anak itu, pekerjaan yang harusnya di lakukan oleh Sehun. Namun lelaki itu bahkan tidak pernah menunjukkan batang hidungnya selama 3 tahun.

 

Semenjak kepulangan Sehun dari Singapore, Chanyeol dengan berat hati menyadari perubahan di mata Yoona. Mata yang selama 3 tahun ini selalu memancarkan kesenduan, sakit, bahkan kerinduan ketika menatap Sena, kini semua pancaran itu telah digantikan oleh pancaran kebahagiaan. Senyum Yoona kini berkali-kali lebih cerah di banding sebelumnya, dan itu semua dikarenakan oleh seorang pria (berengsek, menurut Chanyeol) yang bernama Sehun.

 

Dan ketika Chanyeol menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, ketika Yoona menyambut kepulangan Sehun dengan pelukan erat, Chanyeol hanya bisa memejamkan matanya sambil menahan sakit di dadanya. Ia menghela nafas berat sebelum akhirnya melangkahkan kakinya menjauhi Yoona dan Sehun yang masih berpelukan erat di depan pintu rumah mereka. Sambil menatap langit yang sudah mulai berwarna kelabu, derai tawa pahit keluar dari mulutnya.

 

That should be me.

 

_0o0_

 

“Mama!” Sena melangkahkan kaki kecilnya dengan terburu-buru memasuki dapur rumahnya, menuju ke arah Yoona yang sedang menyiapkan makan malam. “Lihat apa yang Ibu Guru berikan kepadaku!”

 

Yoona berjongkok untuk mengambil secarik kertas yang di bawa oleh Sena, di situ terlihat gambar 3 orang lelaki dengan tulisan”Mama, Sena, Papa” di bawahnya. Yoona menggigit bibir bawahnya,berusaha untuk tidak menumpahkan air matanya di hadapan sang putri. Sena, masih dengan semangat yang menggebu-gebu, menunjuk gambar 5 buah bintang yang berada di pojokan kertas tersebut.

 

“5 bintang! Nilai sempurna!”Yoona memeluk Sena dengan bangga, “anak mama pintar sekali!” ia melepas pelukan mereka lalu menyerahkan kembali kertas itu ke tangan Sena, “nah, sekarang kembali ke kamarmu, bersiap-siap untuk makan malam karena papa akan pulang sebentar lagi.”

 

“Siap!” Sena memberikan Yoona hormat sebelum berlari menujukamarnya. Yoona tertawa kecil melihat tingkah laku putrinya yang menggemaskan itu sebelum berbalik untuk menyelesaikan kembali pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.

 

Namun, selama memasak ia tidak bisa konsentrasi sedikitpun, ingatannya melayang kembali ke gambar yang di tunjukkan oleh Sena tadi. Yoona terkejut ketika mengetahui fakta bahwa Sena tidak pernah melupakan Sehun sebagai papanya, padahal Sehun hampir tidak pernah berada di sisi anak itu. Selalu Chanyeol yang menemani anak itu, bahkan ketika pertama kali berbicara, Sena malah menunjuk Chanyeol dan memanggilnya dengan sebutan ‘papa’.

 

Yoona memejamkan matanya kala mengingat insiden itu.” Sehun …” Yoona menghela nafas berat, “Sena membutuhkanmu…”

 

_0o0_

 

8 tahun berlalu dengan cepat bagi Sehun maupun Yoona. Kini, Sena sudah berubah menjadi seorang anak perempuan yang cantik seperti Yoona. Hobinya bermain basket ( Sehun kembali teringat masa-masa Yoona ketika hamil Sena, betapa ia menyukai basket waktu itu).

 

Semua orang menyukainya, Sena berhasil menyabet semua penghargaan sekolah dengan prestasinya, namun semua itu tetap saja tidak berhasil membuat Sehun ‘melirik’sang putri. Yoona masih berteman dekat dengan Chanyeol, yang terkadang membuat Sehun kesal. Namun, itu tidak menghentikan Chanyeol agar tetap mendapatkan perhatian Yoona.  Tanpa Yoona sadari, ada perang dingin yang terjadi di antara kedua lelaki itu.

 

Lalu, ketika Sena berumur 16 tahun, ia dengan malu-malu berkata kepada orang tuanya bahwa ia sedang menyukai seseorang di sekolahnya.”Namanya, Jaemin.” Sena berkata dengan wajah memerah.”Dia wakil kapten tim basket laki-laki sekolahku.”

 

Yoona menyambut kabar itu dengan suka cita sementara Sehun hanya memasang ekspresi acuh tak acuh. Tak lama kemudian, Sena berpacaran dengan Jaemin. Jaemin sebenarnya pernah Sena ajak untuk bertemu dengan kedua orang tuanya, namun saat itu hanya ada Yoona di rumah, Sehun sedang melakukan perjalanan bisnis ke Prancis danakan pulang minggu depan.

 

Yoona dengan ramah menyambut Jaemin, membuat lelaki itu merasa seperti sedang berada di rumahnya sendiri. Mereka makan malam bersama, sambil membicarakan hal-hal lucu seperti kekonyolan masa kecil Sena, tertawa bersama hingga lupa waktu.”Kapan-kapan datang lagi ya,” ujar Yoona ketika Jaemin pamit undur diri, “kau harus bertemu dengan ayah Sena yang satu lagi.”

 

“Tentu saja,” ujar Jaemin dengan sumringah.

 

_0o0_

 

2 tahun kemudian, Sena akhirnya merayakan ulang tahunnya yang ke-18, itu artinya ia sudah legal.Ia masih berpacaran dengan Jaemin sampai sekarang, hubungan mereka bahkan semakin romantis seiring berjalannya waktu. Terkadang membuat Yoona sedikit iri dengan hubungan sang putri dengan kekasihnya.

 

Namun, kali ini Sena ingin merayakan ulang tahunnya di rumah, hanya bersama sang mama—atau mungkin juga dengan sang papa. Tapi, Sehun tidak terlihat di manapun.”Putri kecilku sudah besar sekarang,” ujar Yoona sambil mengelus kepala Sena ketika anak itu selesai meniup lilin di kue ulang tahunnya.

 

“Rasanya baru kemarin aku masih menggendong-gendongmu dengan kain.”

 

“Mama…” Sena memutar matanya bosan ketika melihat sang mama yang mulai mendramatisir keadaan.

 

Mereka berdua memutuskan untuk memakan kue itu bersama sambil bercanca-canda dan tertawa, tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang sedang menatap mereka dengan pandangan yang tidak dapat di artikan.

 

“Sena.” Suara Sehun tiba-tiba menyapa indera pendengaran Yoona dan Sena, “selamat ulang tahun, nak.” Sena tersenyum sangat lebar, ia tidak menyangka sang papa akan mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya.

 

“Terima kasih, papa.” Sehun mengangguk singkat, lalu melemparkan sebuah map ke meja makan. Ia lalu mengisyaratkan Sena agar anak itu segera membuka map itu. Sena, dengan semangat membuka map itu, mengira bahwa sang papa akan memberikan hadiah ulang tahun untuknya.

 

Namun, senyumannya luntur dalam sekejap ketika ia membaca tulisan yang tertera di atas kertas itu.”A-apa ini, papa?”

 

“Proposal pernikahan,” Sehun berkata dengan tajam, “Sena, aku ingin kau putus dengan kekasihmu dan menikahi putra pewaris Wu Corp. Yifan. Itu hadiah ulang tahun dariku.”

 

_0o0_

 

“Mama?”

 

“Ya?”

 

“Apakah papa membenciku?”

 

Yoona memeluk Sena dengan erat, “tidak, sayang. Papamu hanya—” Yoona terdiam untuk menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan Sehun. “yah, dia memang seperti itu. Tapi percayalah, ia melakukan semua ini karena ia menyayangimu.”

 

Yoona berusaha keras untuk menyembunyikan keraguan di dalam suaranya. Sena mendongak untuk menatap Yoona dengan kedua matanya yang merah dan sembap sehabis menangis, “apakah mama dan papa menikah juga karena perjodohan seperti ini?”

 

Yoona mengangguk pelan.”Apakah kalian saling mencintai?”Pertanyaan Sena berhasil membuat Yoona bungkam seribu bahasa.

 

_0o0_

 

Pernikahan Sena dan Yifan berlangsung sangat mewah, hasil rancangan dari Victoria itu sendiri. Mereka melaksanakan acara pernikahan itu di China, tepatnya di Guangzhou. Banyak tamu undangan yang menghadiri acara pernikahan itu, mulai dari para pejabat hingga para artis, semua datang dan menyalami kedua keluarga yang sekarang sudah bersatu itu.

 

Senyuman yang terpampang di wajah Sena mengingatkan Yoona akan dirinya sendiri beberapa tahun yang lalu, ketika ia dipaksa untuk menikahi Sehun. Namun kali ini Yoona juga harus berpura-pura bahagia lagi, berpura-pura bahagia karena pernikahan sang putri yang sedang berlangsung, meskipun ia tahu, Sena sangat hancur di dalam.

 

“Kalau kau lelah, kau bisa kembali ke kamar duluan.” Ucap Sehun pelan.

 

“Aku tidak mengapa.” Balas Yoona pelan, meskipun kepalanya terasa berputar. “A-aku rasa, aku akan mencari tempat duduk saja.”

 

Acara selesai tepat pukul 12 malam. Sena akan tinggal di China mengikuti Yifan yang selama ini memang tinggal di Guangzhou. Sementara Yoona dan Sehun akan kembali ke Korea. Setelah mengucapkan perpisahan dengan penuh air mata, Yoona akhirnya menyusul Sehun untuk masuk ke dalam pesawat. Suasana di dalam pesawat terasa sangat canggung meskipun mereka sudah menikah selama 18 tahun, Sehun sibuk membaca majalah sementara Yoona bergerak-gerak gelisah di kursinya.

 

“Sebenarnya ada apa denganmu?” tanpa sadar Sehun menaikkan volume suaranya kepada Yoona.Yoona masih terlihat gelisah, namun tidak menjawab ucapan Sehun.

 

“Jawab!”

 

“A-aku—setelah ini, apa Sehun?” Yoona menunduk, “a-aku tahu kau hanya akan bertahan denganku sampai Sena sudah cukup umur untuk menjadi pewaris, dan sekarang Sena bahkan sudah menikah dengan putra keluarga Wu. J-jadi, kau akan b-bercerai denganku?”

 

Sehun memijat pelipisnya mendengar penuturan Yoona, jadi selama ini Yoona sudah tahu, batinnya. Ia memutuskan untuk mengabaikan Yoona dan malah menutup kedua iris matanya itu, mencoba untuk tidur dan menyingkirkan Yoona dari kepalanya.

 

_0o0_

 

Chanyeol dengan langkah ringan memasuki pekarangan rumah Yoona sambil bersenandung. Suasana hatinya kali ini sedang cerah, jadi ia memutuskan untuk mengunjungi Yoona, mengingat anak itu pasti akan kebosanan setengah mati karena tidak ada lagi Sena yang biasa menemaninya.

 

Ia menyeringai ketika tidak menemukan mobil Sehun di garasi, itu artinya ia bebas berlama-lama dengan Yoona-nya. Ia melangkahkan kakinya turun dari mobil sambil membawa 2 bungkus bubble tea kesukaan Yoona. Cuaca hari ini sangat cerah, seakan-akan mendukung moodnya yang juga sedang baik. Namun, ia terkejut ketika menemukan bahwa pintu depan rumah Yoona tidak terkunci, padahal biasanya wanita itu paling cerewet jika menemukan pintu rumahnya tidak terkunci.

 

“Yoona?” Chanyeol berusaha untuk mengintip terlebih dahulu sebelum memasuki rumah itu.Ia menelusuri rumah itu dengan perasaan was-was, rumah itu semakin terasa sepi semenjak Sena tinggal di China bersama sang suami.

 

Tidak ada satupun maid yang terlihat di rumah itu, membuat Chanyeol semakin khawatir akan keberadaan Yoona. Ia memutuskan untuk mengecek dapur, kamar mandi, halaman belakang, dan kamar Sena, namun hasilnya nihil, ia tidak menemukan apapun di dalam sama.

 

Sampai akhirnya ia memutuskan untuk menghampiri kamar Sehun dan Yoona yang pintunya sedikit terbuka. Mata Chanyeol menjadi cerah ketika ia menemukan Yoona sedang berbaring di kasurnya, nampaknya wanita itu sedang tertidur. Jadi, Chanyeol memutuskan untuk membangunkan wanita itu dengan spontan, bermaksud untuk membuat Yoona kaget.

 

Ia berjalan mengendap-ngendap menuju kasur dan ketika sudah dekat dengan tubuh Yoona, Chanyeol dengan cepatmenggoyang-goyangkan tubuh Yoona. Namun Yoona tidak bergeming. Chanyeol mencoba untuk membangunkan Yoona sekali lagi, sekarang sambil memanggil-manggil wanita itu dengan namanya, namun Yoona tetap tidak bergerak dalam tidurnya.

 

Chanyeol mulai curiga kalau Yoona tidak sedang tidur. Ingatan Chanyeol lalu kembali ke masa ketika ia dan Yoona sedang duduk di bangku SMA, Yoona pernah beberapa kali kolaps di sekolah, membuat seisi kelas pecah. Setelah di periksa, ternyata Yoona mengalami radang otak atau yang lebih dikenal dengan nama Ensefalitis.

 

Beruntung beberapa tahun belakangan, sepertinya penyakit itu sudah benar-benar menghilang dari tubuh Yoona. Namun itu tidak melepas kemungkinan bahwa Yoona tidak akan terserang penyakit itu lagi. Dengan kalut, Chanyeol segera menggendong Yoona dan membawanya menuju rumah sakit terdekat. Yang ada di pikirannya saat ini hanya keselamatan Yoona, ia tidak peduli sudah berapa banyak benda yang ia tabrak ketika sedang dalamper jalanan menuju rumah sakit, karena Chanyeol menyetir seperti orang kesetanan.

 

Dan ketika sampai di rumah sakit, ia berteriak kepada semua perawat untuk segera menangani Yoona. Jantung Chanyeol hampir berhenti ketika ia melihat betapa pucatnya Yoona, ia akhirnya jatuh berlutut di depan pintu UGD, dan tidak pernah pemikiran untuk menghubungi Sehun terlintas di kepalanya.

 

_0o0_

 

“Apakah Anda kerabat dari Im Yoona?” tanya seorang dokter yang keluar dari ruang periksa Yoona. Chanyeol segera berdiri tegak, “y-ya, saya kakaknya.” Jawab Chanyeol ragu.

 

“Kondisi Nyonya Im sangat kritis saat ini, ia akan sadar mungkin besok, tapi daya tahan tubuhnya terlalu lemah. Bisa Anda ceritakan kepada saya apa saja yang telah di lalui oleh pasien selama beberapa bulan terakhir?”

 

“Uh…” Chanyeol tergagap, bingung harus menjawab apa karena ia tidak selalu berada di sisi Yoona selama beberapa bulan ini karena wanita pirang itu harus mengurusi pernikahan Sena.

 

“Kalau begitu, bisa saya bertemu dengan suami pasien?” tanya sang dokter itu ketika menyadari kebingungan Chanyeol. Sehun. Chanyeol mendesah dalam hati. “Aku akan menelpon suaminya.”

 

_0o0_

 

“Oh Sehun…”

 

“Hm…”

 

“Datanglah ke rumah sakit Seoul, Yoona membutuhkanmu.”

 

“Apa yang terjadi?”

 

“Kau harus datang, Oh sialan. Cepat seret badanmu ke sini atau kau akan kehilangan Yoona selamanya.”

 

_0o0_

 

Sehun kini sedang terduduk di samping kasur rawat inap Yoona, sementara wanita yang sedang ia pangdangi malah memalingkan wajahnya untuk menatap pemandangan di luar jendela.

 

“Kau punya penyakit itu…” suara Sehun pecah, “kenapa tidak bilang padaku?”

 

Yoona menolehkan kepalanya kepada Sehun lalu tersenyum lemah,”jika aku bilang kepadamu, apakah kau akan peduli?”Sehun terdiam.

 

“Tentu saja tidak.” Yoona lalu kembali memfokuskan pandangannya ke luar jendela. Keheningan melanda ruang kamar inap Yoona, lalu Yoona yang tidak tahan akan keheningan itupun akhirnya membuka suara.

 

“Mereka bilang waktu hidupku tidak akan lama lagi, mungkin sebulan, jika aku beruntung.”

 

Sehun hanya terdiam sambil mendengarkan Yoona berbicara, “aku mungkin akan terdengar sedikit lancang jika mengatakannya, tapi, Sehun? Bisakah kau menemaniku di rumah sakit ini? Setidaknya luangkanlah waktumu sedikit untukku, meskipun itu hanya satu menit.”

 

Sehun menatap tubuh Yoona yang semakin kurus dibandingkan pertama kali mereka bertemu, “baiklah.”Setidaknya Sehun tidak menyesali perkataannya.

 

_0o0_

 

Hari ke-1.

 

“Apakah Sena sudah tahu kalau aku masuk rumah sakit?” tanya Yoona sambil memakan sarapannya. Sehun terbatuk kecil sebelum membetulkan posisi duduknya, “belum,aku tidak mau merusak acara bulan madunya bersama Yifan di Canada.”

 

Yoona mengangguk kecil, rona di pipinya sudah kembali dan ia kelihatan jauh lebih baik dibanding kemarin. Membuat Sehun sedikit lega mengetahuinya.

 

Hari ke-2.

 

“Aku baru tahu kau dulu juga pernah menuntut ilmu di Yonsei.” Ujar Sehun pelan sambil menyodorkan sebuah apel kepada Yoona. Yoona tertawa, “mungkin kau tidak mengenalku, tapi aku mengenalmu dulu.”

 

“Benarkah?”

 

“Kau cukup populer di kalangan para wanita dulu, mereka selalu berbicara segala hal mengenaimu. Menyebalkan.” Yoona tersenyum kecil. “Tapi, hey, pada akhirnya aku yang beruntung dapat menikah denganmu dibanding para wanita itu.”

 

Hari ke-3.

 

Kondisi Yoona memburuk di hari ke-3, ia harus mengalami muntah darah yang sangat banyak hingga membuat Sehun kalap. Akhirnya lelaki itu dengan tergesa-gesa berlarian di sepanjang lorong rumah sakit sambil berteriak-teriak meminta pertolongan para suster. Butuh waktu lebih dari 1 jam untuk memulihkan Yoona, tapi akhirnya wanita pirang itu berhasil tertidur setelah dokter menyuntikan obat bius kepadanya.

 

Sehun dengan lega membaringkan tubuhnya di atas sofa yang terletak di pojok ruangan, matanya bergerilya lalu terpaku pada wajah Yoona yang tertidur dengan damai di atas kasur. Jarang bertemu Yoona membuat Sehun baru menyadari sekarang betapa menawannya wajah Yoona.

 

Hidung mancung, alis yang terukir sempurna di atas matanya, kulit seputih salju, Sehun tidak begitu menikmati sentuhan tangannya di kulit Yoona ketika mereka melakukan seks belasan tahun yang lalu. Namun sekarang ia gatal ingin membelai Yoona ke dalam pelukannya. Sehun tersenyum kecil sebelum akhirnya menyusul Yoona ke alam mimpi.

 

Hari ke-4.

 

Pagi ini, Yoona tidak terbangun dari tidurnya. Dokter mengatakan bahwa Yoona pingsan lagi, dan ada kemungkinan untuk bangun keesokan harinya. Sehun hanya mengangguk dengan lesu ketika mendengarkan penjelasan sang dokter. Ia juga sudah tidak memiliki gairah untuk sekedar berangkat kerja ke kantor, yang ia inginkan saat ini hanya duduk dan memandangiwajah damai Yoona yang sedang tertidur.

 

Terkadang Sehun membiarkan tangannya bergerak sendiri untuk membelai sisi wajah Yoona, ia bergetar ketika merasakan lembut kulit Yoona bersentuhan dengan kulit tangannya. Harus Sehun akui,bahwa kulit Yoona bahkan lebih lembut dibandingkan dengan kulit Miyoung. Sehun terkesiap ketika menyadari bahwa ia belum menghubungi wanita itu selama beberapa hari ini, namun ketika ia kembali menatap wajah Yoona, dengan segera Sehun mengurungkan niatnya untuk menghubungi Miyoung dan lebih memilih untuk memandangi wajah sang istri.

 

Hari ke-5.

 

“Kondisi Nyonya Yoona setelah terbangun dari pingsannya semakin memburuk, aliran oksigen sulit mengalir ke otaknya, sepertinya tersumbat, namun pasien menolak untuk melakukan terapi. Saya berharap, Anda sebagai suami dapat meyakinkan pasien untuk mengambil sesi terapi, demi kesembuhan dirinya sendiri.”

 

” Yoona.” Sehun menyentuh bahu Yoona yang sedang tidur membelakanginya.

 

“Cobalah terapi itu—”

 

“Tidak, Sehun.” Suara Yoona terdengar serak, “aku tidak mau.”

 

“Ini demi kesembuhanmu—”

 

“Peduli apa kau?!” kini Yoona berbalik dan melotot ke arah Sehun,”pada akhirnya aku akan mati, terapi itu hanya memperlambat kematianku.” Ia berbisik di akhir kalimat.

 

Hari ke-6.

 

“Sehun?” Sehun mendongak dari hpnya dan menemukan Yoona yang sedang menatapnya dengan gugup.”Ada apa? Bagian mana yang sakit?” tanya Sehun refleks.

 

Yoona terbatuk kecil sebelum menjawab, “uh… sebenarnya aku ingin memintamu untuk melakukan suatu hal.”Sehun menarik kursi agar ia bisa duduk lebih dekat dengan Yoona,”apa?”

 

“Bisakah kau t-tidur denganku di atas ranjang malam ini? A-aku merasa kedinginan. Tapi ji-jika kau tidak mau, tidak apa-apa, a-aku—”

 

Tanpa sepotong kata apapun Sehun merangkak naik ke atas kasur Yoona lalu menempatkan tubuh ringkih Yoona di dalam pelukannya sebelum menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua. Ia bisa mendengar Yoona terkesiap kaget karena di perlakukan seperti ini secara mendadak, namun ia tidak mempedulikannya. Sehun mengelus-elus kepala Yoona hingga wanita pirang itu pelan-pelan memejamkan matanya.

 

“Tidurlah, Yoong.” Bisik Sehun.Malam itu, untuk pertama kalinya Yoona tertidur di dalam pelukan suaminya.

 

Hari ke-7.

 

“Maafkan kami Tuan Oh, namun sudah tidak ada lagi yang bisa kami lakukan untuk menyelamatkan Nyonya Yoona. Pasien menolak untuk melakukan terapi dan meminum semua obat yang kami berikan. Sudah tidak ada harapan lagi bagi Nyonya Yoona.”

 

Sehun menggenggam tangan Yoona erat, sementara Yoona sedang bersusah payah untuk menjaga dirinya agar tetap sadar. Deru nafas Yoona terdengar berat, seakan-akan wanita itu selesai melakukan marathon berkilo-kilo meter jaraknya. Sehun mengelus-elus tangan Yoona dengan ibu jarinya, berusaha untukmenenangkan sang istri, meskipun ia merasa jantungnya telah di renggut secara paksa dari tubuhnya ketika melihat Yoona tersiksa seperti ini.

 

“Se-Sena, s-sudah tahu?” tanya Yoona, Sehun menggeleng pelan.

 

“Bagus, setidaknya aku tidak perlu menjadi beban untuk putri kesayanganku itu.” Yoona menghela nafas panjang, lalu nafasnya tersengal-sengal lagi.

 

“Yoong, jangan paksakan dirimu.” Bisik Sehun.

 

“Tidak, Sehun.” Yoona mengerjabkan matanya berulang kali, berusaha untuk mengatur nafasnya. “Aku harus memberitahumu sesuatu,” Yoona mendaratkan pandangannya tepat di mata Sehun yang bersinar penuh dengan kekhawatiran, “aku mencintaimu.”

 

Nafas Sehun tercekat, dunianya seakan-akan runtuh di sekelilingnya seiring dengan deru nafas Yoona yang pendek-pendek.”A-aku sudah mulai mencintaimu di detik ketika aku melihatmu memasuki gerbang Yonsei untuk pertama kalinya, bahkan sebelum kau menyadari keberadaanku aku sudah mencintaimu.”

 

Yoona berhasil menampilkan senyuman sebelum ia terbatuk kerasdan Sehun bangkit untuk menolongnya.”Tidak, jangan tolong aku. Dengarkan aku sekarang.” Sorot mata Yoona berubah menjadi tegas, Sehun tidak memiliki pilihan lain selain duduk. “K-kau tidak tahu betapa senangnya aku ketika orang tua kita menyuruh kita untuk menikah,” mata Yoona menerawang, “k-kau tidak tahu betapa bahagianya aku ketika a-aku menjadi istrimu, alasan mengapa aku setuju untuk mengandung anakmu, Sehun, itu simple, karena aku mencintaimu.”

 

Sehun mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Yoona dengan seksama, tubuhnya terasa nyeri di berbagai sisi, seakan-akan setiap kata yang keluar dari mulut Yoona berubah menjadi anak panah yang menyerangnya dari berbagai arah.

 

“T-tapi di sisi lain, a-aku juga membencimu, Oh Sehun. Aku membencimu karena kau menelantarkan aku yang sedang hamil anakmu, aku membencimu yang bahkan tidak pernah melirik putrimu barang sedetikpun, aku membencimu karena tidak pernah membiarkan Chanyeol oppa berada di sisiku padahal saat itu aku sedang sangat membutuhkanmu. Aku membencimu untuk segala hal, tapi yang paling utama aku membencimu karena kau semakin membuatku mencintaimu setiap harinya, bahkan hingga saat ini.”

 

Yoona mengerang kecil sebelum melanjutkan, “terkadang aku berpikir mengapa aku tidak dengan mudahnya jatuh cinta kepada Chanyeol yang selama ini selalu berada di sisiku? Mengapa aku harus jatuh cinta kepadamu?God, I hate you so much, Oh Sehun. Jika memang ada dunia lain setelah ini, aku berharap aku tidak akan jatuh cinta denganmu lagi.”

 

Jantung Sehun berhenti berdetak selama beberapa saat ketika mendengar kalimat terakhir Yoona. “Apa kau menyesalinya?”

 

Alis Yoona terangkat, bertanya. Sehun berusaha menjaga agar suaranya tetap stabil, “mencintaiku. Apa kau menyesalinya?”

 

Di luar dugaan, Yoona malah memejamkan matanya lalu tersenyum. “Sehun , mencintaimu adalah kesalahan terbaik yang pernah aku lakukan selama hidupku ini.”

 

Ia kemudian membuka kembali kelopak matanya, sambil menatap Sehun, Yoona berkata.”Jaga Sena untukku, cintaku. Aku mencintaimu.”Lalu Yoona menutup kedua matanya yang selalu memancarkan sinar kebahagiaan itu, selamanya, dengan senyuman yang terus terpasang di bibirnya.

 

_0o0_

 

Pemakaman Yoona di lakukan secara tertutup dan hanya di hadiri oleh sanak keluarga tertentu saja. Sena menangis meraung-raung ketika peti Yoona di turunkan ke dalam tanah, ia berakhir di pelukan Yifan yang menatap tanah dengan pandangan sendu. Chanyeol juga hadir di sana, mata lelaki itu bengkak sehabis menangis, namun sepertinya Chanyeol dan Sena tidak begitu peduli dengan kehadiran Sehun di sana.

 

Sehun menjadi orang terakhir yang meninggalkan pemakaman Yoona, ia tidak peduli jika bajunya basah karena air hujan, atau para bawahannya memanggil-manggil namanya dari kejauhan. Yang Sehun lakukan hanyalah menatap langit dengan sendu lalu menghela nafas, “bahkan langit saja ikut bersedih atas kepergianmu, sayang. Berbahagialah di sana.”

 

Sehun lalu melangkahkan kakinya menjauhi pemakaman, meninggalkan jejak kaki di tanah yang pasti akan segera terhapus oleh hujan.

 

_0o0_

 

Seminggu setelah pemakaman Yoona, keadaan Sehun menjadi lebih buruk di bandingkan sebelumnya. Ia memutuskan hubungannya dengan Miyoung secara sepihak, tidak mengikuti rapat perusahaan dengan benar, dan bahkan sering tidak hadir untukbekerja. Sehun terlalu sibuk memandangi foto Yoona yang terpampang besar di kamar mereka, terlalu malas untuk bergerak, seakan-akan foto Yoona itu sudah mengikatnya agar ia tidak bisa lari kemana-mana.

 

Hingga pada suatu siang, Fei, sekretarisnya menelpon Sehun dengan terburu-buru, membuat Sehun mengerang dalam tidurnya dan mengangkat telpon itu dengan sedikit kasar.”Presdir! Gawat! Ada yang membocorkan file-file penting perusahaan ke internet dan awak media! Sekarag nilai saham kita menurun dan perusahaan kita berada di ambang kehancuran.”

 

Sehun menjatuhkan telponnya ke kasur pada saat itu juga.

 

_0o0_

 

Ketika Sehun sampai di ruang kerjanya, ia mendapati bahwa ada seseorang yang sudah meretas komputer pribadinya. Menggeram kesal, Sehun berusaha untuk mendapatkan kembali komputernya. Namun tidak berhasil, yang ia dapatkan hanyalah semua data-data penting perusahaanya hilang, lenyap tak berbekas. Sehun mendongak dari komputernya ketika mendengar pintu ruangannya terbuka, betapa terkejutnya ia ketika mendapati Yifan sedang berdiri di sana, sambil tersenyum lebar.

 

“Bagaimana kabarmu, ayah mertua?” tanya Yifan.

 

Sehun mengeratkan pegangannya pada meja kerjanya, “apa yang sedang kau lakukan di sini, Yifan?”

 

“Aku?” Yifan menunjuk dirinya sendiri, “tentu saja datang untuk mengunjungi ayah mertuaku dan perusahaannya yang sudah berada di ambang batas kehancuran.”

 

Yifan menyeringai.”Kau tahu, sir? Setelah pemakaman mama, Sena selalu mengurung dirinya di kamar kami. Menolak untuk keluar, menolak untuk makan, menolak untuk melakukan semua hal.”

 

Yifan mulai berjalan mendekati Sehun, “ketika aku berhasil membujuknya untuk keluar, ia malah melimpahkan semua keluh kesahnya kepadaku. Betapa ia membenci papanya karena tidak pernah ada di sisinya dari dulu, ia membenci kau yang tidak pernah peduli dengan mamanya, ibunya tercinta.”

 

Perasaan bersalah membuncah di dada Sehun, “lalu?”

 

“Lalu,” Yifan tersenyum. “Ia bertanya kepadaku apakah aku mencintainya, lalu ku jawab tentu saja, dan Sena berkata, ‘kalau kau mencintaiku, kau akan melakukan apapun untukku kan? Termasuk jika aku memintamu untuk membunuh papaku?'”

 

Tubuh Sehun menegang, seluruh badannya terasa kaku ketika Yifan mengeluarkan sebuah pistol dari balik jas yang ia kenakan dan mengarahkannya kepada Sehun.”Aku mencintai istriku dengan tulus, kau tahu? Tidak seperti kau yang bahkan tidak pernah mencintai istrimu padahal ia selalu mencintaimu. Kau hanya terpaku pada seorang wanita yang bernama Miyoung tanpa mengetahui ada sesuatu yang gelap di balik wanita itu.”

 

“Tidak mungkin…”

 

“Ya, Miyoung yang membantu kami untuk membobol database perusahaanmu, itu mudah karena selama ini sebenarnya ia juga sudah lelah denganmu. Dan, oh ya, Chanyeol juga memberikan sedikit bantuan.”

 

Yifan tersenyum licik. “Any last words before you die,old man?”

 

Sehun menghirup nafas dengan pelan, ingin menikmati rasanya hidup sebelum mati di tangan menantunya sendiri. Sehun dengan perlahan mengangkat dagunya dan berkata, “jaga putriku untukku, Yifan.”

 

Yifan tersenyum miring sebelum menarik pelatuk, “my pleasure.” Sehun menutup matanya, kegelapan siap menariknya lebih dalam.

 

_0o0_

 

Jika kau diberikan kesempatan untuk memperbaiki semuanya sekali lagi, apakah kau akan mengambilnya? Tentu saja.

 

_0o0_

 

“Ugh…” Sehun terbangun dengan kepala yang berputar hebat. Cahaya terang menyilaukan matanya hingga ia sedikit kesulitan untuk melihat. Ia mengangkat sebelah lengannya untuk menghalau cahaya yang menyakitkan itu, namun sebelum ia sepenuhnya sadar akan apa yang sedang terjadi, sebuah suara familiar mengagetkannya.

 

“Astaga! Kau sudah sadar!”

 

Sehun menoleh ke samping dan jantungnya seakan-akan meloncat keluar dari tubuhnya ketika ia melihat sesosok Yoona yang sedang menatapnya dengan khawatir. Ia mengedipkan matanya beberapa kali sebelum berbisik.

 

“Yoo-Yoona?”

 

“K-kau tahu siapa aku?” tanya Yoona cemas.

 

Sehun mengedarkan pandangannya ke sekeliling, “a-apa yang terjadi?”

 

“M-maafkan aku, tadi aku dan Sena bermain basket, seharusnya aku menangkap bola yang di lempar oleh Sena bukannya menghindar, sehingga membentur kepalamu—”

 

“T-tunggu, siapa katamu tadi? Sena?” Sehun memegangi kepalanya yang masih terasa sakit, “d-dia ada di sini?”

 

Yoona terlihat ragu, “tentu saja, dia kan kapten basket perempuan sekolah kita.”

 

Mata Sehun melebar hingga membentuk bulat sempurna, “HAH? SEKOLAH KITA?” sejak kapan putrinya berada di sekolah yang sama dengan dirinya? Sehun merasa bersalah ketika ia melihat Yoona terkejut karena di bentak olehnya.

 

“A-ah, k-kau tidak m-mungkin amnesia kan, Shixun?”

 

Shixun?” Sehun membeo, “siapa Shixun?”

 

Yoona menatap Sehun dengan pandangan horor, sebelum ia berteriak. “KYAAAA SHIXUN AMNESIA.”

 

_0o0_

 

“Jadi, Shixun, katakan kepadaku apakah kau mengenalku?” Sehun menatap Chen di hadapannya dengan pandangan aneh,”Kau Chen, siapa lagi?”

 

Mata Chen melotot sempurna, “kau benar-benar amnesia!”

 

“Kalau kau bukan Chen, lalu kau siapa?” tanya Sehun kesal.

 

“Aku Jongdae, bodoh.” Chen—Jongdae itu mendengus kesal,”apa-apaan dengan nama Chen? Nama yang buruk.”

 

Sehun terdiam, ia baru tersadar dari ‘pingsan’ akibat insiden bola yang menimpuk wajahnya di lapangan tadi. Menurut para saksi mata, kejadian itu bermula ketika Sena (Sehun masih sulit membayangkan putrinya berada di sekolah yang sama dengannya) melemparkan bola basket ke arah Yoona yang malah menghindar sehingga bola itu dengan manisnya mendarat di atas wajah Sehun .Atau Shixun. Entahlah, Sehun tidak begtu peduli, yang ia pedulikan saat ini hanyalah sesosok wanita bernama Yoona yang sedang bercanda dengan hebohnya dengan seorang lelaki caplang familiar yang tidak lain adalah Park Chanyeol.

 

Chanyeol itu dimanapun dunianya akan selalu menjadi saingan Sehun.”Oh my God, Shixun ! You’re awake!”suara cempreng seorang perempuan membuat Sehun terlonjak dan menoleh, itu Miyoung.

 

“Miyoung?! Kau juga?” Miyoung mengkerutkan dahinya dengan aneh, “siapa Miyoung,dumbass! Aku Tiffany!” Sehun tergagap untuk beberapa kali sebelum ia menoleh untuk mengambil minuman yang tadi di berikan oleh Che—Jongdae kepadanya, dan hanya untuk menemukan Yifan sedang berdiri di hadapannya.

 

“Yifan?!”Yifan menatap Sehun dengan bingung, “seriously dude? Kau mulai memanggil orang-orang dengan nama-nama aneh setelah bangun dari pingsanmu? Aku Kris, bukan Yifan by the way.”

 

Miy—Tiffany menggebrak meja di hadapan Sehun hingga semua orang yang berada di kantin menoleh ke arah mereka, “kau bahkan lupa namamu sendiri Shixun,who the hell are Miyoung, Yifan, and Chen huh?”

 

“Shixuuuuun,” Sehun melotot ketika mendengar suara putrinya menyapa indera pendengarannya, lalu ia dapat merasakan sesuatu yang berat menubruknya dari samping, “maafkan aku, harusnya aku tidak melempar bola itu kepada Yoona—”

 

“Wait—Sena?! Mengapa rambutmu menjadi coklat seperti ini? Kemana rambut pirangmu?”

 

Sena, putrinya itu (Sehun masih berpikiran seperti itu) menatapnya dengan pandangan horor, “YOONA BENAR, SHIXUN AMNESIA KYAAA.”

 

_0o0_

 

“Maafkan aku…” Sehun menghela nafas untuk kesekian kalinya.

 

“Kau sudah ku maafkan, Yoong.”

 

“Tapi tetap saja—”

 

Yoona bungkam ketika dipelototi oleh Sehun. Mereka berdua sekarang sedang duduk-duduk di atap sekolah mereka, Sehun, meskipun ia masih dalam kondisi kebingungan akan lingkungan barunya, sudah berhasil mengendalikan dirinya agar tidak menjadi gila dengan semua kejadian yang menimpanya secara bersamaan seperti ini.

 

Ia harus menghadapi kenyataan bahwa di dunia ini Sena bukanlah anaknya, Yifan bukanlah musuhnya (meskipun aneh rasanya melihat orang yang pernah membunuhmu sekarang menjadi sahabat terbaikmu), Chen masih tetap menjadi temannya hanya saja di dunia ini levelnya berubah menjadi sahabat, Tiffany di dunia ini adalah kekasihnya, tidak mengejutkan.

 

Tinggal tersisa Chanyeol dan Yoona.”Kau memiliki hubungan apa dengan Chanyeol?” Sehun bertanya tiba-tiba. Yoona melirik Sehun dari ekor matanya, “Dia kekasihku.”

 

Sudah kuduga.”  Sehun tersenyum miris di dalam hati.

 

Jika memang ada dunia lain setelah ini, aku berharap aku tidak akan jatuh cinta denganmu lagi.

 

Sehun tersenyum simpul sambil memperhatikan Yoona dari samping, angin membuat helaian rambut Yoona menutupi sebagian wajah gadis itu. Penampilan Yoona masih sama seperti dulu, bahkan pirang rambutnya tidak berubah sedikitpun. Intinya, Yoona masih tetap menawan di mata Sehun.

 

Kali ini aku yang akan membuatmu jatuh cinta kepadaku lagi, sayang.

 

END

 

Gimana FF nya? Keren kan? Pastinya. 4 Jempol deh buat authornya (y) (y) .

 

Advertisements

19 thoughts on “A Second Chance

  1. Uda nangis” bacanyaa taunya malah mimpii😂😂 sehun kok pcrn sm miyoung? Untung yoona pcrn ma cogan chanyeol😁😁
    Keren keren ffnyaa 4 jempol buat authornyaa😊😊 lebih sering oneshoot jg dong thor hehehee yaa boleh dong pairingnya yoona chanyeol😁😁

  2. Gasuka sama sehun pas belum dibunuh ihhh.miyoung juga gatau diriii. Ini ga ada sequel? Ngeliatin perjuangan sehun jadi pho yoona chanyeol? Sequel ditungguuuuuu

  3. lanjut….lanjut….kak,, ini belum selesai kan?
    butuh sequel kak, kalau bisa yoona dan sehun kmbali bersatu dan saling mncintai ya….
    aq lega ternyata itu cuma mimpi panjang krna sehun pingsan,hehehe…
    please bikin sehun bahagia dong 🙂

  4. Bneran dehh smpe nangis gra2 yoona sakit smpe meniggal bhkn udh kesel bgt ma sehun yg nelantarin yoona selama nii trnyta mlah mimpi sehun…
    Kerenlaah pokoknya..
    Lebih bgus da squelnya nii thor biar tw sehun ngejar2 yoona..hehheee

  5. aaaaaaaàaaaa oh sehun kenapa bisa gituuu wkwkwk. yang disayangkan adalah perasaan sehun baru hadir saat dipenghujung usia yoona T.T

    kaget pas tau sehun sadar dan ternyata kehidupan yg itu sehun dan yg lain seumuran. bahkan sena yg di kehidupan sebelumnya adalah anaknya dan yoona, nyatanya mereka sama sama masih SM (btw gw disini kebayangnya sena itu krystal wkwkwk).

    authoooor, ini butuh sequel. sungguh. wkwkwkwkk…
    biar ada kisah SMA sehun yoona dan yg lain.

    THANK YOU AUTHOR ♥♥♥♥

  6. Kereenn kerennn 4 jempol juga deh… Nangiiss kejer pas yoona ungkapin perasaannya dn sehun mudah2an dpt hukumannya,,pengen ada kelanjutannya gmn sehun ngejar yoona tp yoona tetep ke chanyeol
    Di tunggu…

  7. Udah nangis”baca ceritanya eeeh ternyata cuma mimpi sehun,ini cerita bagus banget bisa dibilang sempurna! 4jempol deh buat authornya…sequel dong thor 🙂
    #keep writing

  8. 10 jempolll buat authorrrnya
    Sudahh seriusss, campurr sedihh ternyataa sehunn pingsann
    Astagaaaa …. seruuu thor , kereeen ceritanya
    Ditunggu karya2 selanjutnya

  9. 5 bintang buat author. Sumpah udah nangis gw bacanya. Kesel bgt sama sehun sumpah. Ihhh kesel bgt. Tp untungnya cuma mimpi 😀 kerennnn

  10. Haduh udah nangis termehek-mehek eh malah Sehun pingsan 😀 😀 lol. Ff nya buagus banget serius ><
    Sempet benci sama Sehun dan Miyoung, eww -_-
    Untung Yoong bahagia :* 😉 😉 kkk

  11. Keren luar biasa, q harus pinjam jempol temanku untuk author.
    Buat sequel please, biar sehun dapat blasan’nya atas perbuatannya dan memperjuangkan cinta yoona.

  12. Aaa paraaah ini mah keren banget. Keren bangeet. Tapi sehunnya jahat banget bikin nangis asli😂 Waah buat author aku suka semuanya alurnya cara penyampaian kalimat dan semuanya keren apalagi castnya!!! Semoga semakin diperbanyak ff yoonhun seperti ini. Oiya makasih banget kirain bakal sad ending tapi ternyata tidaak! Haha pengen baca lagi yang kaya gini tapi bener bener happy ending. Pokonya buat author terimakasih ya! HIDUP YOONHUN💕

  13. kerennn bangettt ffnya likeeeeee bgggggggggggggggggggggggggggggggggggtttttttttttttttttttttt dah ditunggu sequelnya :8

  14. Keren sih keren banget malah tapi ini mimpinya Sehun kan.?? tapi P.O.V nya kenapa mesti Yoona .?? kan yg ngerasain si Sehunnya bukan Yoonanya ahh mungkin guenya aja yg ngga ngeh gitu
    Tapi yah salutlah sama Author soalnya FF ini diluar ekspetasi para pembaca dan alurnya kagak ketebak :v :v sukses bikin nangis dan ketawa disaat endingnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s