You Are My Destiny – 4

You Are My Destiny – 4

Yoona | Sehun

-OoO-

 

Kedua tangan Yoona tertahan di dada namja itu agar tak menindihnya lebih dari ini. Sial! Bagaimana bisa namja itu berada di atasnya sekarang?

 

“Menyingkir.”

 

“Hmm?”

 

 “Menyingkir dari atasku Sehun ssi!” Yoona melayangkan tatapan tajamnya pada Sehun yang hanya tersenyum miring tanpa berniat bergerak sedikitpun.

 

“Unnie, bagaimana dengan—omo!”

 

“Seohyunnie!”

 

-OoO-

 

*brukk

 

Sehun menggeram kecil ketika bokongnya menyentuh lantai dengan keras setelah didorong dengan kekuatan penuh. Tak ingin berlama-lama, ia pun segera bangkit dan jangan lupakan tatapan tajamnya pada gadis yang kini terlihat—ehm—bagaimana ya menjelaskannya?

 

“I-Itu, tadi namja ini tersandung dan yeah—ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku—“ Yoona gelagapan dan berusaha menjelaskan kesalahpahaman tadi.

 

“Iya, iya. Aku mengerti kok unnieku sayang ~ “ Seohyun mencubit gemas pipi kakaknya membuat satu-satunya namja di sana terkikik geli melihat raut wajah konyol Yoona.

 

“Dan kau cepat keluar dari kamarku.” Sehun mengatupkan mulutnya ketika mendapat semprotan manis dari Yoona. Namja itu mengumpat pelan kemudian keluar dari ruangan tersebut.

 

“Err—Seohyunnie, kau benar-benar tidak salah paham ‘kan?” Tanya Yoona memastikan.

 

“Tentu saja, unnie ‘kan sudah memilih Kris oppa. Benar ‘kan?” Dan Yoona hanya tersenyum aneh mengiyakan pertanyaan Seohyun.

 

-OoO-

 

Sepanjang perjalanannya setelah keluar dari kamar Yoona, Sehun masih terkikik pelan membayangkan wajah konyol gadis itu. Kemudian, tanpa sengaja ia bertemu Kris.

 

“Eoh, hyung mau ke mana?” Sapa Sehun.

 

“Menemui Yoona.”

 

“Dia sedang bersama adiknya. Sebaiknya hyung menemuinya lain waktu.”

 

“Bagaimana kau tahu?” Tanya Kris.

 

“Aku baru saja dari sana.”

 

“Untuk?”

 

“Sekedar menyapa calon anggota baru keluarga kita.” Sehun tersenyum sekilas kemudian berlalu dari hadapan Kris yang hanya menatapnya aneh.

 

-OoO-

 

Makan malam di keluarga kerajaan tampak lebih hidup dengan kehadiran dua penghuni baru. Yoona yang pada dasarnya adalah seseorang yang mudah membuat keributan dapat cepat akrab dengan Oh Seunghoon

 

Tak jarang Seohyun mencolek(?) kakaknya untuk bersikap lebih sopan—meski Oh Seunghoon  sendiri merasa baik-baik saja. Sedangkan Sehun terkadang megeluarkan umpatan tidak sukanya dalam suara kecil yang tak didengar oleh siapapun di ruangan itu. Berbeda dengan Kris, namja itu tampak ikut larut dalam keramaian yang dibuat Yoona.

 

“Ah, aku teringat sesuatu.” Celetuk Yoona.

 

“Apa itu?” Tanya Oh Seunghoon  .

 

“Dulu, aku memiliki teman yang namanya mirip dengan putra paman.”

 

Gadis itu menyebut Oh Seunghoon  dengan sebutan paman, katanya ia lebih suka memanggilnya paman. Pria paruh baya itu pun tak masalah dipanggil paman. Terdengar lucu baginya.

 

“Benarkah?”

 

“Benar, paman. Namanya Sehun, dia adalah anak laki-laki cadel dan sangat lucu.” Ujar Yoona.

 

Namja di depannya meringis pelan. Ia tahu siapa anak laki-laki yang dimaksud Yoona, yang tak lain adalah dirinya sendiri.

 

“Dulu Sehun juga cadel.” Perkataan Oh Seunghoon  membuat Sehun membulatkan matanya dan menatap sang ayah seolah berkata –apa-yang-appa-lakukan?

 

“Benarkah? Wah, kebetulan sekali. Tapi kurasa sahabatku itu bukan Sehun anak paman, karena sahabatku itu orang biasa, bukan keturunan kerajaan.” Jelas Yoona.

 

Seohyun tampak merenung memikirkan percakapan kakaknya dengan Oh Seunghoon  . Tiba-tiba ia teringat akan perkataan Sehun beberapa saat yang lalu. Tapi ia segera menepis kemungkinan yang muncul dalam pikirannya.

 

-OoO-

 

Setelah makan malam berakhir, Yoona kembali ke kamarnya. Seperti kebiasaannya sebelum tidur, ia akan melanjutkan bagian-bagian komik yang menjadi proyeknya. Gadis itu mengganti pakaiannya dengan piyama tidur, kemudian mulai menyentuh peralatan menggambarnya di atas meja.

 

Tok

Tok

Tok

 

Mendengar suara ketukan, Yoona meletakkan kembali pensilnya dan berjalan menuju pintu.  Ia tersenyum mendapati seseorang yang berdiri di sana.

 

“Boleh aku masuk?”

 

“Tentu saja.”

 

Yoona membuka pintu kamarnya lebar-lebar dan mempersilahkan Kris masuk ke dalam. Namja itu mendekati meja ketika melihat tumpukan kertas di atasnya.

 

“Wow, gambarmu bagus.” Pujinya tulus sambil memperhatikan salah satu kertas di tangannya.

 

“Kau orang ke sekian yang mengatakannya.” Yoona terkekeh pelan dan langsung mendapat cubitan gemas di hidungnya.

 

“Bisakah kau membuat karikatur tentang diriku?”

 

“Tentu bisa, Aku ahlinya.”

 

Kemudian Yoona mengambil kertas baru dan mulai mencoret-coret di atasnya. Kris memperhatikan sambil duduk di pinggir tempat tidur.

 

Tak butuh waktu lama, jadilah karikatur sederhana buatan Yoona. Ia menyerahkan kertas hasil gambarnya pada Kris. Namja itu mengangguk-angguk kecil melihat karikatur dirinya. Tampak lucu dengan ukuran kepala yang lebih besar daripada tubuhnya.

 

“Bagaimana pun aku tetap terlihat tampan.” Kris memuji dirinya sendiri.

 

-OoO-

 

Angin malam yang dingin mempermainkan surai kecoklatan seorang namja yang sedang berdiri di atas balkon. Di tangannya tampak kertas usang berlukiskan wajahnya waktu ia masih bocah.

 

“Hufftt..”

 

Namja itu—Sehun—menghela nafas pelan. Kejadian di meja makan tadi tiba-tiba menjadi beban pikirannya. Sehun tak tahu kenapa dirinya senang mengetahui bahwa dia masih mengingatnya.

 

“Lukisan itu lagi.”

 

Sontak namja itu berbalik ketika mendengar suara orang lain di sana. Sehun mendapati Kris mendekat ke arahnya, ikut bertumpu pada pagar balkon dan menikmati semilir angin.

 

“Apa ada yang spesial dari kertas itu, huh?” Tanya Kris tanpa menatap Sehun.

 

“Ah, bukan apa-apa. Ini hanya kertas biasa.” Elak Sehun.

 

“Tentang gadis itu—“ Kris member jeda pada kalimatnya, membuat Sehun menebak-nebak apa yang akan dikatakannya. “—kau adalah Sehun yang ia maksud, ‘kan?” Sehun menahan nafasnya sesaat ketika Kris tiba-tiba menatapnya.

 

“Haha, kau ini bicara apa, hyung? “Sehun tertawa kecil. “Tentu saja tidak.” Dustanya. Namun Kris bukan orang bodoh yang mengenal Sehun dalam waktu satu dua hari. Ia tahu adik laki-lakinya itu menyimpan sesuatu.

 

“Kalau begitu, boleh aku melihat kertas itu?” Pinta Kris.

 

“U-untuk apa? Ini hanya—“

 

“Aku hanya ingin melihatnya.”

 

Dengan perasaan ragu, Sehun mau tak mau akhirnya menyerahkan kertas yang dimaksud. Ia tak punya alasan kuat untuk menolaknya mengingat Kris sudah menanyakan tentang lembaran itu berkali-kali.

 

“Kalau begitu, bisa kau jelaskan ini?”

 

Kris menyodorkan lembaran kertas miliknya pada namja itu. Sehun menerimanya, kemudian menatap Kris dengan alis berkerut. “Hyung tampak lucu di sini. Apanya yang harus kujelaskan?” Tanya Sehun.

 

“Coba kau perhatikan lagi.”

 

Sehun kembali memperhatikan gambar itu, dan—

 

“Kau menemukan sesuatu?” Kris tersenyum kecil melihat ekspresi terkejut Sehun, meski namja itu mengubah ekspresinya dengan cepat.

 

Tanduk rusa.

 

Sign tanduk rusa kecil di sana menjadi perhatian Sehun. Ini adalah ciri khas yang hanya dimiliki oleh gambar dari gadis itu.

 

“Bagaimana bisa kertas milikku dan milikmu memiliki tanda yang sama?” Kris menyodorkan kembali lembaran kertas milik Sehun.

 

“Jadi, tebakanku benar ‘kan?”

 

-OoO-

 

“Baiklah, kita ke sana.”

 

Gomawo, appa. Yoongie sayang appa.”

 

Gadis itu bergerak gusar dalam tidurnya. Keringat tampak membasahi pelipis dan dahinya. Sekarang menunjukkan pukul 1 pagi.

 

*brakk

 

“AAAAA ~ “

 

Seketika gadis itu bangun dari tidurnya dengan deru nafas memburu dan tidak teratur. Ia mencengkram erat selimutnya, kemudian ia mencoba memejamkan matanya kembali.

 

-OoO-

 

Yoona berjalan suntuk ke ruang makan. Sebenarnya ia tak ada niatan untuk sarapan bersama, tapi rasanya tidak sopan ketika harus pergi sementara yang lain sedang menikmati sarapannya.

 

Unnie, kenapa lama sekali?”

 

Gadis itu tersenyum kecil kemudian menghampiri meja makan dan duduk di samping Seohyun. Yoona memakan rotinya pelan dan menjadi pendiam. Tidak seperti makan malam yang lalu.

 

“Yoona ya, apa kau ada masalah?” Tanya pangeran Soohyun.

 

“A-Aku baik-baik saja, paman.” Jawab Yoona. Semalam ia baru bisa terlelap kembali ketika pukul 4 pagi, dan membuatnya sedikit terlambat pagi ini.

 

-OoO-

 

Hari ini, Yoona sama sekali tidak fokus dengan materi yang disampaikan Mr. Park. Ia hanya mencoret-coret bukunya dan berkali-kali menghela nafas berat. Kegiatannya itu pun tak luput dari seorang namja yang duduk di ujung sana.

 

Setelah Mr.Park keluar, gadis itu masih betah di tempatnya. Aktivitas rutinnya—menggambar—pun ia abaikan. Yoona menjatuhkan kepalanya di atas meja dengan pipi kiri yang menyentuh permukaan meja.

 

*pletak

 

“Auh..”

 

Dalam sekejap ia memejamkan matanya dan mengelus keningnya yang baru saja dijitak oleh seseorang. Yoona mengangkat kepalanya dan menemukan Sehun telah berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya.

 

“Apa yang kau lakukan, bodoh?” Ujarnya kesal.

 

“Tak biasanya kau diam seperti ini. Apa kepalamu terantuk sesuatu tadi pagi?”

 

Yoona menatap namja itu kesal. Ia segera merapikan buku-bukunya kemudian mengambil tasnya dengan cepat dan pergi dari ruangan itu.

 

Ya! Kau mau ke mana?” Pekik Sehun yang sayangnya tak ditanggapi oleh gadis itu. Sehun mengedikkan bahunya dan ikut pergi dari sana.

 

-OoO-

 

Terhitung sudah 4 kali Yoona menghela nafas berat setelah kedatangannya di tempat sepi ini—atap. Setelah sekian lama, mimpi buruk itu kembali menghampirinya. Mimpi yang membuatnya tiba-tiba kehilangan semangat seperti sekarang.

 

Yoona memeluk kedua lututnya dan menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya. Tak lama berselang, bahu gadis itu tampak naik-turun dan samar-samar terdengar suara isakan. Ya, gadis itu menangis. Kejadian buruk yang menyebabkan ayahnya meninggal kembali terputar bagai kaset di kepalanya.

 

Saat itu usianya 4 tahun, Yoona kecil meminta ayahnya yang baru saja pulang kerja untuk menemainya bermain di taman. Karena tak ingin mengecewakan putri kecilnya, Tn. Im menuruti permintaan Yoona. Naas, dalam perjalanan, mobil yang dikemudikan Tn. Im ditabrak oleh truk besar. Kecelakaan mengerikan itulah yang merenggut nyawa Tn. Im. Beruntung Yoona selamat meski mendapat banyak luka. Sejak itulah, sikap Ny. Im terhadap putri sulungnya berubah.

 

“Hiks. . .mianhae. . .” Yoona meminta maaf , entah pada siapa.

 

Tanpa sepengetahuan gadis itu, seorang namja berada di sana menyaksikan ia sedang berada dalam titik terburuknya. Sehun tidak pernah menyangka akan melihat Yoona dalam kondisi seperti ini. Sangat menyedihkan sehingga ia tak mau berlama-lama di sana.

 

-OoO-

 

Yoona kembali ke rumah—keluarga Oh—ketika jam menunjukkan pukul 7 malam. Sebelum itu, ia mengunjungi makam ayahnya dan berdoa sangat lama di sana.

 

Gadis itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion besar keluarga kerajaan. Ia melihat ibunya berada di sana—ruang tamu—dan berbincang-bincang dengan Sehun, dan di sampingnya ada sosok adiknya yang tak henti menampakkan senyumnya.

 

“Seohyun cantik, juga lemah lembut dan pintar.”

 

Tanpa sadar bibirnya ikut tersenyum ketika melihat wajah merona adiknya ketika Sehun baru saja menyebutnya cantik. Melihat Seohyun tersenyum seperti itu mengingatkannya pada senyuman ayah mereka. Seohyun memang sangat mirip dengan Tn. Im.

 

Yoona hanya berdiri di sana hingga Seohyun menyadari keberadaannya. Gadis manis itu bangkit dari tempat duduk dan berlari menemui kakaknya. Seohyun menyeret tangan Yoona dan mengajaknya duduk bersama.

 

Unnie dari mana saja? Aku mengkhawatirkan unnie.”

 

Yoona tersenyum lembut. “Maaf sudah membuatmu khawatir.” Kemudian gadis itu melirik ibunya. Beberapa hari tidak bertemu membuatnya merindukan wanita itu.

 

“Aku merindukan eomma.”

 

Ny. Im tersenyum tipis menanggapi perkataan putrinya. Kemudian ia mendekat dan memeluk tubuh putri sulungnya. “Kau tidak menyusahkan keluarga kerajaan ‘kan?” Tanya wanita itu memastikan.

 

“Aku—“

 

“Tidak, eomma! Malah Yang Mulia senang dengan Yoona unnie.” Potong Seohyun.

 

Dan jawaban gadis manis itu membuat Ny. Im tertegun. Ia segera melepas pelukannya pada Yoona. Dengan alasan harus bertemu dengan teman, wanita itu pamit pada kedua putrinya dan Sehun.

 

Yoona tetap di tempatnya dan menatap kepergian Ny. Im yang diantar oleh Sehun dan Seohyun sampai di depan pintu. Gadis itu tidak bodoh untuk tidak menyadari raut wajah ibunya ketika mendengar bahwa ayah Sehun menyukainya. Ya, Yoona bahkan tahu kalau ibunya hanya menginginkan Seohyun untuk menjadi pendamping Sehun. Karena itulah, ia tak memiliki ambisi sedikitpun untuk mendekati Sehun. Lagipula ia sangat yakin bahwa Sehun tidak menyukainya.

 

Yoona berjalan ke kamarnya diikuti Sehun yang berada di belakangnya. Entah Seohyun ada di mana, mungkin gadis itu sedang menyiapkan makanan di dapur. Jalan menuju ke kamar cukup jauh mengingat betapa luasnya mansion ini.

 

“Ada apa denganmu?”

 

“Memangnya ada apa denganku?” Tanggap Yoona tanpa menoleh ke arah Sehun sedikitpun.

 

Sehun menghentikan langkahnya, ia menatap punggung gadis kurus itu yang semakin menjauh. Entah kenapa ia tidak senang dengan sikap gadis itu selama seharian ini. Jika boleh jujur, Sehun lebih menyukai gadis itu yang seperti biasanya—menyebalkan dan ribut. Dan sekarang, Sehun berkesimpulan bahwa ia tidak tahu apa-apa tentang Yoona. Gadis itu memiliki banyak hal yang tidak Sehun ketahui.

 

-OoO-

 

Im Jihyun meneguk minuman beralkohol di gelasnya. Ia menatap sekeliling rumahnya yang kini sangat sepi setelah kedua putrinya tinggal di rumah keluarga kerajaan. Di saat seperti ini ia sangat merindukan suaminya.

 

“Seharusnya hanya putriku yang ada di sana, kenapa kau juga, huh? Kau tidak ada hubungannya dengan semua ini, Yoona ya.” Wanita paruh baya itu kembali menunang minuman di gelasnya sampai penuh.

 

“Untuk saat ini aku akan membiarkanmu bersama mereka, tapi jika tebakanku benar. Maaf, kau terpaksa harus kusingkirkan. Demi putriku, Seohyun.”

 

-OoO-

 

Setelah dirasa cukup, Yoona menyudahi acara berendamnya. Ia mengambil handuk putih kemudian membalut tubuhnya sebatas dada dan pertengahan pahanya. Kemudian ia keluar dari kamar mandi. Ia hampir saja berteriak ketika menemukan seseorang berbaring di tempat tidurnya, sebelum kemudian ia sadar bahwa seseorang itu adalah Oh Sehun. Yoona merutuki dirinya yang terkadang lupa mengunci pintu kamar.

 

“Apa yang kau lakukan di kamarku?”

 

Perlahan Sehun membuka kedua matanya dan bertemu pandang dengan gadis pemilik kamar yang saat ini ia tempati. Namja itu tampak seperti sedang menunggu seseorang—dengan salah satu kaki diluruskan dan yang lainnya ditekuk, sementara tangannya ia gunakan sebagai bantalan.

 

“Apa pertanyaanku kurang jelas, Tuan Oh?” Tanya Yoona sedikit jengkel.

 

“Apa yang kau lakukan di kamar mandi? Kau sangat lama, aku yakin orang-orang sudah selesai makan malam.”

 

“Kau menungguku?”

 

“Hanya ingin memastikan bahwa masakan Seohyun tidak sia-sia.” Sehun turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar Yoona.

 

-OoO-

 

Kini hanya mereka berdua di ruang makan. Sebetulnya Yoona bingung dengan sikap Sehun, kenapa namja itu tidak makan duluan bersama yang lain? Kenapa harus menunggunya? Dan Yoona merasa pertanyaannya telah terjawab.

 

“Tenang saja, aku tidak akan menyia-nyiakan masakan adikku.” Gadis itu makan dengan sangat lahap, tanpa mempedulikan Sehun yang hanya makan satu iris steak kemudian menyudahinya.

 

Sampai gadis itu selesai makan, raut wajah yang diharapkan Sehun masih saja tidak tampak. Ketika gadis itu hendak kembali ke kamar, ia mendapati dirinya diseret ke suatu tempat oleh Sehun. Yoona baru beberapa hari di sini, dan ia tidak sempat menjelajahi semua tempat-tempat di mansion besar ini.

 

“Kau membawaku ke mana?” Tanya Yoona bingung.

 

Sehun tidak menjawab, ia mengeratkan tautan jemarinya pada gadis itu dan terus melangkah hingga mereka tiba di taman belakang yang ternyata sangat luas. Yoona menatap ke sekitar kemudian terpaku pada trampoline yang ada di hadapannya.

 

Sehun melepas tautan jemarinya dengan gadis itu, dan ia merasa kehangatan yang ia rasakan ikut hilang. Namja itu melompat naik ke atas trampoline, kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu naik. Rasa hangat itu kembali ia rasakan ketika Yoona menyambut uluran tangannya.

 

“Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu, tapi ayo luangkan waktumu sejenak.”

 

Sehun tersenyum tulus, hal yang sangat jarang ia lakukan. Pria itu mulai melompat mencoba menemukan iramanya, dan semakin lama iapun semakin menikmatinya. Gadis di sampingnya juga melakukan hal yang sama. Keduanya melompat sambil menatap taburan bintang di langit. Yoona tersenyum dan tertawa dengan lepas ketika ia hampir kehilangan keseimbangan. Untung saja ia berpegang dengan cepat pada namja di sampingnya.

 

Setelah merasakan tenaganya terkuras, keduanya berbaring di trampoline dengan nafas yang tidak beraturan. Yoona mengusap wajahnya yang agak basah, begitupun dengan Sehun. Keduanya berpandangan kemudian tertawa bersama.

 

“Aku pikir kau tidak tahu caranya tertawa.” Ejek Yoona.

 

“Jangan merusak suasana, aku sedang senang sekarang.”

 

“Kau senang karena melakukan hal bodoh seperti ini? Oh, aku pikir kesenanganmu adalah menghabiskan waktu di klub bersama gadis-gadis.”

 

“Jaga bicaramu, nona Im. Aku tidak mungkin merusak citra keluarga kerajaan dengan hal seperti itu.”

 

“Syukurlah kalau kau sadar.”

 

-OoO-

 

Kris menyeruput coklat panasnya dengan tatapan yang mengarah pada dua orang yang sedang terkapar di trampoline. Namja itu baru saja pulang beberapa saat yang lalu, dan secara tak sengaja ia melihat Yoona dan adiknya berada di taman belakang. Kris cukup terkejut melihat keduanya yang tampak akrab.

 

“Sepertinya ini akan menjadi lebih rumit.”

 

Kris bukan orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. Walaupun terkesan tidak memperhatikan, tapi ia peka dengan keadaan sekitarnya. Meski ia juga terlibat dalam rencana perjodohan ini, tapi pria 27 tahun itu merasa tidak terlibat sama sekali. Dalam masalah ini hanya ada Yoona, Sehun, dan Seohyun.

 

Sejak awal Kris tahu bahwa Seohyun menyukai adiknya, terlihat sangat jelas dengan sikap gadis manis itu. Dan Sehun, Kris berani memastikan bahwa Sehun menyukai Yoona meski adiknya itu masih tidak mengakuinya. Tapi Kris tahu bahwa ada kemungkinan Sehun tidak bertindak sesuai hatinya. Sementara Yoona, Kris tidak bisa menyimpulkan apa-apa tentang gadis itu. Dan berdasarkan pengamatannya, Yoona memiliki sesuatu yang lebih penting dibandingkan mengurus masalah percintaan, dan Kris tidak tahu apa itu.

 

-OoO-

 

Sehun membersihkan tubuhnya di kamar mandi, setelah itu ia keluar dan memakai piyama tidur. Namja itu membaringkan tubuh tingginya di tempat tidur, tapi ia tidak langsung tidur—meski ini sudah larut. Ia memikirkan kebersamaannya dengan Yoona beberapa saat yang lalu.  Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman tipis, ia merasa sangat senang bisa membuat gadis itu kembali seperti semula.

 

“Apa yang kau pikirkan Oh Sehun?” Gumamnya.

 

Namja itu memejamkan matanya, ia mensugesti dirinya bahwa tidak seharusnya ia memikirkan gadis yang ia tempatkan sebagai orang nomor satu yang ia tidak suka. Alasannya? Tidak lain karena masa lalu mereka yang kurang baik. Terkadang Sehun berpikir bahwa ia sangat kekanakan. Mungkin saat kecil dulu ia membenci gadis itu selayaknya anak kecil, tapi untuk sekarang ia harus berpikir banyak kali.

 

“Im Yoon Ah.”

 

Lelaki itu bangkit dan mengubah posisinya menjadi duduk. Ia membuka laci meja nakas dan mengambil sesuatu dari dalam sana. Sehun menatap lekat-lekat setiap goresan yang membentuk sketsa wajahnya pada selembar kertas yang usang itu.

 

-OoO-

 

“Apa? Jadi sekarang putrimu tinggal bersama keluarga kerajaan?”

 

“Ya, dan aku merasa sangat kesepian sekarang.” Im Jihyun tersenyum kecil melihat reaksi sahabatnya.

 

Seharusnya ini tidak boleh tersebar, tapi Jihyun mempercayai salah satu sahabatnya itu. Ia juga mengingatkan untuk tidak memberitahu siapapun tentang masalah ini. Ya, hubungannya dengan keluarga kerajaan baru akan dipublikasikan setelah semuanya benar-benar pasti.

 

“Tapi kenapa kau mengirim kedua putrimu? Maksudku kenapa kau mengikutsertakan Yoona dalam rencana ini?”

 

Jihyun berpkir sejenak. “Karena sepengetahuan Yang Mulia, aku memiliki dua putri.”

 

TBC

Advertisements

6 thoughts on “You Are My Destiny – 4

  1. Hoho kaigerl is back , seneng kakak bisa update di wordpress lagi . Btw aku nungguin banget ff love nya , di lanjutin ga kak ? Aku ngarep nya sih lanjut soalnya ff nya dapet banget . Ditunggu ya Kaka faithingg

  2. eonni, ff lovenya disambung dong… seru.. btw aku mau nanya pwnya love chapter 4, dh kirim email ke eonni, tpi blm dibalas.. pliss kasih tau aku dong eonni…. penasaran banget soanlnya! keep writing ya eonni, fighting!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s