You Are My Destiny – 5

You Are My Destiny – 5

Yoona | Sehun

-OoO-

 

Di waktu luang seperti saat ini—ketika dosen tidak masuk—akan dimanfaatkan Yoona untuk menyelesaikan gambar-gambar buatannya sebelum deadline. Ia berkutat dengan peralatan menggambarnya di salah satu sudut cafeteria.

 

“Yoona unnie!”

 

Gadis itu mendongakkan kepalanya dan menemukan sosok adiknya sedang berlari kecil ke arahnya. Seohyun tidak sendirian, di belakangnya ada Sehun yang berjalan dengan tenang. Yoona menghentikan kegiatannya dan tersenyum kecil ketika Seohyun duduk di depannya.

 

“Aku mencari unnie sejak tadi.”

 

“Benarkah?”

 

“Benar.” Seohyun mengangguk cepat. “Dan aku juga mengajak Sehun oppa.” Gadis manis itu memegang lengan Sehun sambil tersenyum malu-malu.

 

Ya! Jangan mengumbar kemesraan di sini.” Ujar Yoona pura-pura kesal.

 

Wae? Kau cemburu?” Pertanyaan tak disangka-sangka itu keluar dari bibir Oh Sehun.

 

Yoona terbatuk-batuk dan segera meneguk minuman yang ia pesan tadi. Ia terkekeh pelan sambil menepuk-nepuk dadanya. “Cemburu? Jangan bercanda.”

 

“Iya, aku tahu. Unnie kan sudah punya Kris oppa, jadi tidak mungkin cemburu.” Ujar Seohyun masih dengan pemikiran bahwa Yoona memiliki hubungan spesial dengan kakak dari laki-laki yang saat ini duduk di sampingnya.

 

“Oh ya, bagaimana perkembangan hubungan kalian?”

 

Pertanyaan Yoona membuat Sehun mengernyit tidak suka. Sehun tidak suka dengan pertanyaan seolah-olah dia dan Seohyun sudah resmi berhubungan. Sehun berpendapat mereka masih dalam tahap pendekatan, dan bukan hanya Seohyun yang ada dalam rencana ini, tapi juga Yoona dan Kris.

 

“Apa maksudmu?” Tanya Sehun dengan nada tenang. “Hubungan yang kau maksud itu, kau juga termasuk di dalamnya jika kau lupa.”

 

Seohyun yang tadinya tersenyum malu-malu, kini hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Sehun.  Sedangkan Yoona mengumpat dalam hati dan merutuk Sehun karena sikapnya yang tidak peka. Yoona tidak bodoh untuk tidak menyadari raut wajah adiknya.

 

“Sudahlah, lebih baik kalian pergi. Aku ingin menyelesaikan pekerjaanku.” Ujar Yoona sambil mengibaskan tangannya membuat gestur mengusir.

 

“Baiklah.” Seohyun beranjak dari kursinya. “Sehun oppa, ayo.” Ia memegang lengan Sehun hendak mengajaknya berdiri, tapi namja itu tidak bergeming sama sekali.

 

“Aku lapar.”

 

“Eh?” Seohyun tidak mengerti.

 

“Aku masih mau di sini. Aku lapar.” Tegas Sehun sekali lagi.

 

“Ba-baiklah, kalau begitu aku pergi dulu.” Dengan berat hati, Seohyun melepas rangkulannya di lengan Sehun. Ia tersenyum tipis pada Yoona kemudian pergi dari sana.

 

-OoO-

 

Sepeninggal Seohyun, Yoona tak bisa berkonsentrasi lagi pada aktivitas menggambarnya. Di hadapan Yoona, Sehun duduk dan menatap lurus pada gadis itu.

 

“Kenapa tidak memesan makanan? Bukankah kau lapar?” Tanya Yoona.

 

“Entahlah, aku tidak lapar lagi.” Jawaban Sehun membuat Yoona ingin menjedukkan kepala namja itu ke tembok.

 

“Yoona ssi.”

 

Mwo?”

 

“Berhenti memperlakukan adikmu seperti itu. Kau tidak berhak memberinya harapan yang tidak pasti.”

 

Yoona tertegun sejenak, ia sangat mengerti dengan maksud perkataan Sehun.  Yoona tidak bermaksud seperti yang dikatakan Sehun, ia hanya ingin membuat adiknya bahagia. Dan kebahagiaan Seohyun ada pada Sehun.

 

“Aku akan melakukan apapun asal adikku bahagia.”

 

“Itu terserah padamu, tapi kau tidak bisa memaksaku.”

 

Meski Yoona tak pernah memperlihatkan sikap ‘memaksanya’ pada Sehun, tapi Sehun tahu gadis itu berusaha membuatnya dekat dengan Seohyun. Karena itu ia benci jika gadis itu bersikap seolah-olah tidak ada dalam hubungan yang saat ini dibangun atas dasar perjanjian ayahnya dan Tuan Im di masa lalu.

 

“Kenapa? Apa adikku tidak memenuhi standarmu?” Tanya Yoona.

 

“Adikmu memang cantik, pintar, lemah lembut, dan segala sifat keanggunannya sebagai wanita. Aku bisa bilang bahwa dia sempurna, tapi aku tidak mencari yang sempurna.”

 

“Naif sekali. Semua lelaki menyukai tipe wanita seperti adikku.”

 

Semua? Tapi aku tidak.”

 

“Kau menyukai wanita lain, huh?”

 

-OoO-

 

Seohyun menempelkan pipinya di meja kayu perpustakaan. Beberapa kali ia menghela nafas, seperti sedang memikirkan sesuatu yang sulit. Ya, ia memikirkan sikap Sehun padanya yang tidak menunjukkan tanda-tanda yang ia inginkan.

 

Seohyun tidak bisa menebak isi hati dan pikiran Oh Sehun. Dan itu membuatnya tidak percaya diri, ia khawatir Sehun menyukai wanita lain. Padahal ia sangat bahagia ketika mendengar bahwa keduanya telah dijodohkan. Bukan keduanya, tapi ada kakaknya juga dalam masalah ini. Tapi ia tidak pernah khawatir mengenai Yoona, karena yang ia tahu Yoona dekat dengan Kris.

 

“Sehun oppa, saranghae.” Ujarnya dengan nada putus asa.

 

“Mungkin sebaiknya kau menyerah.”

 

Sontak gadis itu menegakkan tubuhnya, ia mengangkat kepala dan menemukan Kris telah duduk di hadapannya sambil membaca buku. Ia bertanya-tanya sejak kapan lelaki itu berada di depannya.

 

“Menyerah? Apa maksud oppa?”

 

“Menurut pengamatanku, Sehun telah menyukai orang lain.”

 

“Be-benarkah?” Tanya Seohyun tak ingin percaya.

 

“Tapi tenang saja, kau masih punya kesempatan karena dia sendiri tidak yakin dengan perasaannya.” Kris meletakkan buku di tangannya. Ia menatap lekat gadi manis yang merupakan adik dari Im Yoona. “Pesanku, tolong jaga kakakmu dengan baik. Dia sangat menyayangimu.”

 

Seohyun masih diam, ia benar-benar tidak mengerti dengan perkataan Kris. “Oh ya, aku akan ke Amerika. Sampaikan permintaan maafku pada kakakmu karena tidak sempat pamit padanya.” Kris mengacak rambut gadis itu kemudian beranjak dari tempat duduknya.

 

Seohyun masih terbengong, tapi kemudian ia tersadar setelah Kris tak ada di depannya. Gadis itu berlari keluar dari perpustakaan dan mencari sosok kakaknya.

 

-OoO-

 

M-Mwo? Kenapa mendadak sekali?”

 

“Entahlah, aku juga tidak tahu.”

 

Dengan terburu-buru Yoona memasukkan semua kertas-kertasnya ke dalam tas, ia beranjak dari tempatnya dan berlari keluar dari cafeteria. Sesampainya di luar kampus, ia segera menghentikan taksi. Namun belum sempat ia masuk, seseorang mencengkram pergelangan tangannya.

 

“Ada ap—“

 

“Kita pergi bersama.”

 

Yoona tak menolak ketika Sehun membawanya ke parkiran, kemudian mereka berdua menuju ke bandara. Yoona mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Kris. Teleponnya masuk, namun tidak diangkat.

 

“Seohyun tidak ikut?” Tanya Yoona ketika menyadari bahwa hanya mereka berdua yang ada di mobil.

 

“Dia ada kelas.”

 

-OoO-

 

Entah kenapa Yoona merasa tidak bersemangat, beberapa saat yang lalu Kris baru saja pergi. Untung saja ia masih sempat menemuinya, meski tidak bisa berlama-lama karena pesawat yang ditumpangi Kris akan segera lepas landas.

 

“Sampai kapan kau mau duduk di situ?” Sehun menatap malas pada perempuan di depannya. Dia saja bersaudara dengan Kris tidak sesedih Yoona.

 

Tanpa berucap apapun Yoona beranjak dari tempat duduknya dan melangkah pergi. Sehun mendesis kesal melihat gadis itu seolah tidak menganggapnya. Tak ingin terlihat seperti orang bodoh di sana, Sehun pun berlari kecil menyusul Yoona yang sudah jauh.

 

Dalam perjalanan pulang, mereka berdua tak ada pembicaraan apapun. Sesekali Sehun melirik Yoona melalui ekor matanya, gadis itu termenung menghadap ke jendela. Sehun jadi bertanya-tanya sudah seberapa dekat Yoona dan Kris sehingga gadis itu tampak sedih ditinggal Kris.

 

Terbesit rasa tidak suka melihat Yoona memikirkan pria lain, namun cepat-cepat ia menampik rasa itu. Sehun menggelengkan kepalanya dan berusaha fokus menyetir.

 

Aku tidak boleh seperti ini.” Batinnya.

 

-OoO-

 

Sehun dan Yoona langsung pulang ke rumah, tidak ada siapa-siapa di sana. Entah kemana semua pelayan di rumah super besar itu. Sehun menjatuhkan tubuh tingginya di sofa, ia menengok ke arah Yoona yang sepertinya akan ke kamar.

 

“Hey, kau!”

 

Yoona berjalan terus, ia melamun dan tidak mendengar panggilan Sehun. Lelaki itu berdecak kesal, sekali lagi ia memanggil Yoona. Akhirnya gadis itupun menoleh.

 

Mwo?”

 

“Aku lapar.” Ujar Sehun pendek, namun Yoona hanya menatapnya datar. “Kau lihat ‘kan tidak ada pelayan.” Yoona masih tidak merespon. “Kau, masakkan aku sesuatu.”

 

“A-aku tidak tahu caranya memasak.” Ucap Yoona jujur.

 

“Aku tidak mau tau, kau harus menyiapkan makanan.”

 

Tampaknya Yoona sedang malas berdebat, ia kemudian menuju dapur dan melihat bahan makanan di lemari pendingin. Yoona benar-benar tidak tahu harus memasak apa, akhirnya ia mengambil dua bungkus ramyun untuk dimasak. Yoona tidak peduli jika Sehun tak mau memakannya, ia juga lapar dan akan memakan ramyun itu kalau Sehun benar tidak mau.

 

Beberapa menit kemudian ia membawa ramyun buatannya ke ruangan di mana Sehun berada. Ia meletakkan mangkuk ramyun buatannya ke atas meja, juga segelas air putih. Sehun yang tadinya berbaring mengubah posisinya menjadi duduk, memperhatikan apa yang baru saja dibawa Yoona.

 

“Ramyun?”

 

“Aku tidak tahu harus memasak apa.” Ucap Yoona.

 

“Seharusnya kau mencontoh adikmu, dia sangat handal memasak dan makanannya pun enak.” Sehun mengangkat mangkuknya dan memperhatikan lebih dekat ramyun buatan Yoona. Namun secara tiba-tiba Yoona merebut mangkuk ramyunnya.

 

“Kau—“

 

“Kalau tidak mau ya sudah, aku juga lapar.” Yoona mengambil sumpit kemudian duduk di samping Sehun.

 

Yak! Aku tidak bilang begitu!.” Sehun berusaha merebut kembali mangkuk ramyunnya.

 

“Tidak, aku—“

 

*Byurr

 

Tanpa diduga kuah ramyun tumpah dan mengenai baju Yoona. Gadis itu memekik kepanasan, Sehun pun panik dibuatnya.

 

“Pa-panas. . .sshh. . “ Yoona mengipasi bajunya yang terkena tumpahan.

 

“A-Aku tidak sengaja—“

 

Karena terlalu panik, Sehun tak sengaja memegang breast milik Yoona. Keduanya bertatapan beberapa saat, sebelum kemudian terdengar suara benturan yang cukup keras.

 

YAK!”

 

*Brukk

 

“AWH!”

 

Yoona mendorong Sehun dengan keras hingga lelaki itu terbentur meja. Sehun meringis kesakitan, Yoona menjadi panik, ia segera menghampiri lelaki itu untuk memeriksa keadaannya. Benar saja, dahi lelaki itu mengeluarkan darah.

 

-OoO-

 

Sehun menatap perempuan yang sedang mengoleskan sesuatu di dahinya, Yoona tampak sangat serius dan itu terlihat lucu di mata Sehun. Saking seriusnya, mulut Yoona sedikit terbuka, dan itu menjadi perhatian Sehun sekarang.

 

Lelaki itu kemudian tersadar setelah merasakan lukanya ditutupi dengan band-aid. Yoona pun menjauh dari Sehun, ia membereskan kotak P3K dan berjalan hendak meninggalkan Sehun.

 

“Te-terima kasih.” Ucap Sehun sebelum Yoona pergi. “ Dan—“ Ia terlihat ragu mengatakannya. “Yang tadi itu, aku benar-benar tidak sengaja.”

 

Yoona menghela nafas pelan, sejujurnya ia masih kesal dan malu tentu saja. Tapi ia berusaha melupakannya dan bersikap seolah tak terjadi apapun. Gadis itu berbalik dan menatap wajah Sehun. “Aku juga minta maaf. Dan, yah, mari kita lupakan yang terjadi tadi.” Kemudian ia pergi.

 

Sepeninggal Yoona, Sehun masih di sana berusaha menenangkan diri. Ya, dia masih gugup dan berdebar-debar. Tapi kemudian dia tersenyum dan terkikik geli ketika membayangkan kejadian tadi. Sehun meraba dahinya yang terluka, kemudian tersenyum lagi.

 

“Kau baik-baik saja?”

 

Lelaki itu terlonjak kaget ketika mendengar suara seseorang, ia berbalik dan menemukan Seohyun baru saja masuk ke rumah. Buru-buru ia mengubah kembali ekspresi wajahnya ke mode normal.

 

“Aku—“

 

“Dahimu.” Seohyun berujar panik dan langsung menghampiri Sehun memeriksa dahi lelaki itu.

 

“I-ini, aku tidak sengaja terbentur.” Sehun berusaha menenangkan kepanikan Seohyun, lagipula menurutnya ini hanya luka kecil. “Yoona sudah menutupinya dengan band-aid, jadi jangan khawatir.” Sambungnya.

 

“Syukurlah.” Seohyun bernafas lega, begitu juga dengan Sehun karena telah berhasil meredakan kepanikan gadis itu.

 

-OoO-

 

Unnie.”

 

Yoona yang sedang mengerjakan tugas dengan posisi tengkurap di atas tempat tidur mengangkat kepalanya dan menemukan Seohyun di ambang pintu.

 

“Kenapa berdiri di situ? Masuklah.” Seohyun pun berjalan mendekat dan bergabung dengan Yoona di tempat tidur.

 

Unnie, menurutmu Sehun oppa menyukaiku atau tidak?”

 

Yoona tertegun sejenak, tidak menyangka bahwa Seohyun akan bertanya seperti itu. Gadis itu tersenyum kemudian memeluk bahu Seohyun. “Aku tidak bisa memastikannya. “ Jawab Yoona jujur. “Tapi hanya laki-laki bodoh yang tidak jatuh cinta pada adikku yang manis ini.” Yoona mencubit gemas kedua pipi chubby Seohyun.

 

Unnie ~ “ Gadis manis itu merajuk manja.

 

Karena sedang mengerjakan tugas, Yoona pun menyuruh Seohyun untuk segera kembali ke kamarnya. Gadis berpipi chubby itu menurut, ia mengucapkan selamat malam dan memberi kecupan di pipi kakaknya sebelum.

 

Tak lama setelah kepergian Seohyun, kini ada seseorang yang lagi-lagi berdiri di ambang pintu kamar Yoona. Gadis itu menengok sebentar kemudian kembali berkutat dengan tugas-tugasnya, mengabaikan kehadiran lelaki itu.

 

Yak! Apa kau ini buta? Atau pura-pura buta?” Tegur Sehun, ia merasa diabaikan.

 

“Aku sibuk jadi sebaiknya kau pergi.” Ucap Yoona tanpa menatap Sehun.

 

“Kau ini benar-benar tidak sopan.” Sehun meninggalkan ambang pintu dan mendekat ke arah tempat tidur. Ia membungkuk memperhatikan kertas-kertas yang berserakan, juga mengintip Yoona yang mengetik sesuatu di laptop.

 

“Kau pikir menganggu orang yang sedang mengerjakan tugas itu adalah tindakan yang sopan?”

 

“Hey, ada banyak typo di sini.” Sehun menunjuk layar laptop Yoona.

 

“Apa? Tidak mungkin, aku orangnya sangat teliti.” Elak Yoona.

 

“Di sini, di sini, juga di sini.” Sehun menatap Yoona dengan pandangan tak percaya yang dibuat-buat. “Ya Tuhan, kau ini tidak bisa mengetik dengan benar ya?” Sehun merebut laptop Yoona dan berlari menjauh dari gadis itu.

 

Yak! Kembalikan laptopku.!” Yoona bangkit dan mengejar Sehun.

 

Lelaki itu mengangkat laptopnya tinggi-tinggi sehingga Yoona tak bisa mengambilnya. Gadis itu melompat-lompat untuk mendapatkan kembali laptopnya, tapi Sehun mempersulit Yoona dan berlari di kamar itu.

 

“Kembalikan laptopku, Tuan Oh Sehun yang terhormat.”

 

“Ini, ambillah.” Sehun menyodorkan laptop Yoona, tapi ketika gadis itu mendekat ia berlari lagi.

 

“OH SEHUUUUN!.”

 

Sehun berlari kencang keluar dari kamar, Yoona pun mengikutinya sambil berteriak memanggil Sehun kembali. Lelaki itu tertawa puas, tampaknya ia belum ada niat untuk menyudahi aksinya menjahili Yoona.

 

Yak! Kembalikan laptopku. “ Gadis itu terengah-engah, ia sudah kelelahan.

 

“Ambillah sendiri.”

 

Oh Seunghoon  baru saja datang, dan dia hampir saja menabrak Sehun yang berlari entah dari mana. Ia juga melihat Yoona yang tiba-tiba berhenti saat melihatnya. Gadis itu tampak ngos-ngosan dan berkeringat. Oh Seunghoon  melihat putranya yang kondisinya hampir sama dengan Yoona.

 

“Apa yang kalian lakukan?”

 

“A-Aku—“

 

“Paman, dia mengambil laptopku.” Ujar Yoona cepat sebelum Sehun menyelesaikan kalimatnya.

 

“Sehun?”

 

“Aku hanya bermain-main sebentar.” Sehun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

 

“Tapi kau membuatnya kelalahan seperti itu.” Ucap ayahnya. “Dan ini sudah malam, tapi kalian malah berbuat keributan.” Seunghoon menggelengkan kepalanya. “Sehun berikan benda itu pada Yoona dan kembalilah ke kamar kalian masing-masing.

 

“Iya, paman.” Tanpa menunggu Sehun memberikan laptonya, Yoona merebutnya duluan. Ia tersenyum penuh kemenangan, Yoona memeletkan lidahnya pada Sehun kemudian melarikan diri.

 

Yak! Kau—“

 

“Berhenti berteriak Oh Sehun.” Itu suara ayahnya.

 

-OoO-

 

“Bagaimana? Apa kau menemukan sesuatu?” Tanya Kris pada seseorang di telepon.

 

“Menurut seseorang yang pernah menjadi tetangganya, ia menyerahkannya kepada seorang perempuan.”

 

“Apa kau tahu siapa perempuan itu?”

 

“Kami akan segera mencari tahu.”

 

“Baiklah, aku menunggu.”

 

-OoO-

 

Yoona keluar dari kelas dengan wajah kesal, dosennya meminta tugas yang ia kerjakan dengan susah payah semalam. Tapi ternyata tugas yang sudah diketiknya hilang, Yoona menduga bahwa Sehun mungkin memencet sesuatu di laptopnya semalam dan membuat file tugasnya hilang.

 

Sebagai gantinya, Yoona disuruh keluar dan tidak boleh mengikuti mata kuliah dosennya hari ini. Ia juga diberi tugas tambahan yang harus dikumpul besok. Gadis itupun menuju perpustakaan, mencari buku yang berkaitan dengan tugas tambahannya.

 

Di perpustakaan, Yoona menelusuri rak-rak buku mencari buku yang ia butuhkan. Jemari lentiknya berhenti pada sebuah buku, ia hendak menarik buku tersebut dari rak, namun ada sesuatu yang menahannya. Yoona menunduk, dan ternyata ada si pelaku adalah Sehun yang berada di sisi lain dari rak buku.

 

“Lepaskan bukunya!.” Ujar Yoona memerintah.

 

“Tidak bisa, aku menemukannya duluan.”  Sungguh tidak beruntung bagi mereka berdua karena buku itu hanya ada satu.

 

“Aku yang menemukannya lebih dulu.” Yoona melototkan mata besarnya.

 

“Aku!.”

 

“Aku!.”

 

Terjadilah aksi tarik-menarik antara Sehun dan Yoona, tanpa mereka sadari wanita penjaga perpustakaan menghampiri keduanya  dengan wajah geram menahan marah. Ia memukul kepala Sehun dengan buku.

 

“Keluar dari perpustakaan!.” Ucapnya tegas.

 

Yoona tertawa keras melihat penjaga perpus mengomeli Sehun, namun gadis itupun mendapat hukuman yang sama yaitu diusir keluar dari perpustakaan.  Dengan cepat Yoona mengambil buku tadi dan berlari keluar menghindari amukan penjaga perpus.

 

-OoO-

 

“Ya ampun! Dia itu galak sekali.” Keluh Yoona, ia berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya.

 

“Sungguh malang yang menjadi suaminya.”

 

Dan ternyata Sehun mengikuti Yoona, tentu saja ia tak mau menjadi korban amukan penjaga perpustakaan. Yoona sedikit terkejut mendapati Sehun bersamanya, ia benar-benar tidak memperhatikan sekitar saat lari tadi.

 

“Kau ini selalu membuatku dalam masalah.” Ujar Yoona.

 

“Apa? Kau lah yang membuatku dalam masalah.”

 

“Asal kau tahu, aku diberi tugas tambahan oleh dosen karena file tugasku hilang.”

 

“Memangnya itu salahku?”

 

“Jelas itu salahmu. Semalam kau membawa lari laptopku dan entah bagaimana caranya pagi tadi aku tidak menemukan file tugasku.”

 

“Berani sekali kau menuduhku.” Ucap Sehun tak terima. “Bisa saja laptopmu itu banyak virus, jadi data-datamu hilang.”

 

“Ya Tuhan! Bagaimana bisa ada makhluk seperti dirimu di dunia ini.” Yoona sudah lelah berdebat, ia pun mengambil langkah besar meninggalkan Sehun.

 

Tak ingin ditinggal sendiri, lagi-lagi Sehun mengikuti Yoona. Gadis itu menuju sebuah pohon di taman dekat kampus, ia meletakkan ranselnya kemudian menjatuhkan bokongnya di atas rumput yang lembut. Yoona meletakkan beberapa buku yang dibawanya dari perpustakaan, lalu mengeluarkan laptopnya dari dalam tas.

 

“Datamu benar-benar hilang?” Sehun mendudukkan tubuhnya di samping Yoona.

 

“Kenapa kau masih di sini? Sana pergi!.”

 

“Jadi datamu benar-benar hilang ya.”

 

“Kau yang pergi atau aku yang pergi?”

 

“Kau ini galak sekali, lebih galak dari penjaga perpustakaan.” Cibir Sehun.

 

“Oooh ~ Aku tahu. Kau tidak usah ke mana-mana, tugasmu sekarang adalah membantuku menyelesaikan tugas.” Yoona menyerahkan laptopnya pada Sehun, lelaki itu tampak pasrah saja menerima laptop Yoona.

 

“Ketik apa yang aku suruhkan padamu, okay? Dan jangan membantah!.”

 

Yoona membuka buku-bukunya, mencari materi yang bisa ia masukkan dalam tugasnya,  menandai beberapa kalimat dengan marker. Ia juga menginstruksikan Sehun agar menyambungkan laptopnya dengan jaringan wi-fi dan mencari bahan di internet.

 

Tak terasa mereka berdua mengerjakan tugas tanpa berdebat satu sama lain. Yoona terlihat sangat serius, begitu pula dengan Sehun. Terkadang lelaki itu juga memberi masukan dan mengutarakan pendapatnya. Yoona dan Sehun seolah lupa bahwa biasanya mereka tidak seakur ini.

 

“Menurutku ini kurang tepat, bagaimana kalau. . . .bla. .bla. .”

 

“Itu bagus, tapi. .bla. .bla. .”

 

Tak terasa hari mulai sore, tugas Yoona pun selesai, baik itu tugas pokoknya dan tugas tambahannya. Gadis itu membereskan buku-buku dan laptopnya. Ia berdiri kemudian meregangkan otot-ototnya yang sedikit kaku karena terlalu lama dalam posisi yang sama, Sehun pun demikian.

 

Lelaki itu mengecek jam tangannya, Sehun pun sadar bahwa ia telah melewatkan makan siangnya. Lelaki itu melirik Yoona yang sedang menepuk-nepuk pakaiannya yang sedikit kotor karena duduk tanpa alas di rumput. Sehun seolah baru sadar bahwa mereka baru saja menyelesaikan tugas bersama-sama dan tanpa perdebatan seperti biasanya.

 

“Terima kasih, kau sangat membantuku.”

 

Yoona menatap Sehun sambil tersenyum tulus. Lelaki itu tampak salah tingkah dan sedikit gugup, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

 

“A-Aku hanya ingin bertanggung jawab.” Dalam hati Sehun merutuki kegugupannya. “Sial. Kenapa senyumnya sangat manis.” Batinnya.

 

“Baiklah, sudah sore. Mungkin sebaiknya kita pulang.” Yoona berjalan duluan meninggalkan Sehun, ia harus cepat ke halte bis agar tidak ketinggalan.

 

“Im Yoona!.” Teriak Sehun.

 

“Iya?” Yoona berbalik.

 

“Aku lapar.”

 

_o0o_

 

Yoona mengambil tissue dan mengelap bibirnya, terakhir ia meneguk minumannya sampai habis. Gadis itu bersandar di kursi sambil menepuk-nepuk perutnya, ia benar-benar puas dan kenyang. Sehun membawanya ke sebuah restoran Jepang.

 

“Selera makanmu mengerikan.” Cibir Sehun.

 

“Terima kasih, aku menganggap itu pujian.”

 

Sehun hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Yoona, dan ia masih tidak percaya bahwa hampir seharian ini mereka sangat akur—lupakan kejadian yang diperpustakaan. Yoona yang merasa dipandangi oleh Sehun menatap balik lelaki itu.

 

“Kenapa?” Tanya Yoona ketus. “Kau mau menyuruhku membayar semua ini? Maaf saja, aku tidak punya uang.” Ujarnya enteng.

 

“Kau ini benar-benar!.” Sehun menatap sinis gadis itu.

 

Yoona menyadari tatapan sinis Sehun, pandangannya berubah tertarik. Ia mencondongkan wajahnya dan menatap Sehun lekat. Lelaki itu malah memundurkan wajahnya menjauhi Yoona.

 

“A-Apa?” Tanya Sehun.

 

“Tatapanmu itu mengingatkanku dengan seseorang.” Yoona tampak berpikir.

 

“Seseorang?”

 

“Kau ingat aku pernah menceritakan tentang teman kecilku yang cadel.” Gadis itu memundurkan kembali wajahnya sambil berpikir.

 

Sehun gelagapan, pandangannya menatap Yoona waspada. Tentu saja ia ingat penuturan Yoona saat mereka makan malam waktu itu. Dan juga, bocah cadel yang Yoona maksud adalah Sehun.

 

“Tatapanmu tadi sangat mirip dengannya.”

 

M-Mwo? Enak saja kau bicara.” Sehun mengelak.

 

“Tapi memang benar, tatapan sinismu tadi mengingatkanku padanya.” Ucap Yoona berusaha meyakinkan Sehun.

 

“Memangnya teman cadelmu itu pernah menatapmu sinis?”

 

“Selalu. Dia selalu menatapku sinis.” Jawab Yoona. “Dia sangat tidak menyukaiku karena aku selalu membuatnya kesal.”

 

“Membuatnya kesal?”

 

“Iya, aku selalu memanggilnya ‘Thehuuun, Thehuun~ ‘. “ Yoona terkikik sejenak. “Sebenarnya aku melakukan itu agar bisa lebih akrab dengannya, tapi dia malah tidak menyukaiku.” Yoona cemberut membayangkannya. “Ah, aku jadi merindukan si cadel itu.” Lagi-lagi ia terkikik.

 

Berbeda dengan Sehun, raut wajahnya terlihat masam terutama ketika Yoona menyebutnya ‘si cadel’. Tapi kemudian ia tersenyum, membayangkan betapa menggelikannya masa kecil mereka dulu.  Tidak salah kalau Yoona tertawa seperti sekarang.

 

“Tapi aku yakin dia sebenarnya orang baik.” Lanjut Yoona. “Au memberinya hadiah berupa lukisan wajahnya, aku harap itu bisa memperbaiki hubungan kami. Tapi esoknya, aku malah pindah ke Busan. Dan aku tidak pernah melihatnya lagi sampai sekarang.”

 

“Kau ingin bertemu dengannya?” Tanya Sehun.

 

“Eumm.” Yoona tampak berpikir. “Tidak juga.” Dan Sehun sweatdrop dibuatnya, ia menyeruput minumannya yang belum habis.

 

“Tapi aku benar-benar penasaran seperti apa dia sekarang? Apa masih cadel?” Yoona tertawa membayangkan teman masa kecilnya itu masih tidak fasih menyebut huruf ‘s’ di usia mereka sekarang. “Pasti akan sangat menggemaskan.” Ucapnya gemas. “Asal kau tahu, temanku itu sangat tampan dan imut. Banyak gadis-gadis di sekolah yang menyukainya.”

 

“Apa kau juga menyukainya?” Tanya Sehun.

 

“Eumm.” Entah kenapa Sehun berdebar menunggu jawaban Yoona. “Tidak juga.” Sehun sweatdrop untuk kedua kalinya. Lelaki itupun bangkit dari kursinya dan berjalan keluar dari restoran. Buru-buru Yoona mengikutinya di belakang.

 

“Tapi kau bilang dia tampan.” Ucap Sehun.

 

“Dia memang tampan.” Yoona membenarkan. “Tapi bukan berarti aku harus menyukainya ‘kan?” Yoona membuka pintu mobil dan duduk di sebelah Sehun. Lelaki itu menstarter mobilnya meninggalkan area parkir restoran.

 

“Lalu kau suka lelaki yang seperti apa?” Sehun benar-benar lepas kendali sehingga pertanyaan tadi meluncur keluar dari mulutnya.

 

“Aku suka lelaki yang sederhana.” Yoona tersenyum menghadap jendela. “Yang seperti appa.” Perlahan pandangannya buram oleh air mata. Ia menghadap ke samping saat air matanya jatuh, ia tidak ingin Sehun melihatnya.

 

Tapi lelaki itu menyadari perubahan suara gadis di sampingnya. Sehun hendak menyentuh bahunya dan bertanya, tapi gerakannya terhenti ketika bahu gadis itu bergetar dan terdengar suara isakan kecil. Sehun tertegun, ia memastikan bahwa gadis itu menangis.

 

Ada apa dengannya?” Ucap Sehun dalam hati.

 

_o0o_

 

Sehun memberhentikan kendaraannya saat sampai di depan rumah, ia menoleh ke samping melihat gadis itu turun dari mobil lebih dulu. Buru-buru Sehun menyusulnya, ia berlari kecil menghampiri Yoona yang berjalan cepat.

 

“Ada apa denganmu?” Sehun menarik pergelangan tangan Yoona dan memaksa gadis itu menghadap ke arahnya.

 

Yak! Aku bertanya padamu.” Nada suaranya meninggi. Tapi ia mendapati tubuh gadis itu bergetar, menangis lagi. Dan kali ini isakannya terdengar lebih keras.

 

Entah dorongan dari mana, Sehun menarik Yoona dan memeluknya erat. Di matanya, Yoona saat ini terlihat sangat rapuh dan butuh perlindungan. Sehun pun membiarkan gadis itu mengeluarkan semua tangisannya. Di atas jendela sana, seseorang menatap mereka dengan nanar. Sementara seseorang lainnya menatap mereka sendu.

 

TBC

Advertisements

4 thoughts on “You Are My Destiny – 5

  1. jd kris pergi…siapa yg diselidiki kris?ap asal usull yoona??knp cma ayah yoona yg meninggal ap seo n ibunya g brsma mrk??ksian yoona…q harap sehun tetep ska ma yoona apapun yg trjd….n seo g jd jahat….cpk lht yoona klo ngalah trs siapa yg mlht mrk?seo n siapa?ayahnya atau ibunya krn kris blm kmbli kn

  2. Sebelumnya aku minta maaf thor baru komen di chapter ini..
    Keren thor ceritanya
    Aku kasian sama yoona dia ga dapet kasih sayang dari ibunya
    Aku rasa sehun suka ama yoona tapi dia belom sadar.. kris lagi nyelidikin tentang kehidupan yoona kah??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s