You Are My Destiny – 6

You Are My Destiny – 6

Yoona | Sehun

-OoO-

 

Oh Seunghoon menutup tirai kamarnya, ia berjalan menjauh dari jendela dan mendudukkan tubuhnya di kursi. Lelaki paruh baya itu menyeruput teh hangatnya dengan pelan, sementara kejadian di halaman depan rumahnya terus memenuhi pikirannya.

 

“Hmm.” Ia bergumam pelan.

 

_o0o_

 

Sehun tidak bisa tidur, bahkan ketika matanya baru saja terpejam langsung terbuka lagi. Berkali-kali ia mengubah posisi tubuhnya, tapi tidak mendapatkan posisi yang menurutnya nyaman. Lelaki itu bangun dan duduk, ia mengacak rambutnya frsutrasi.

 

“Apa yang sudah kulakukan?” Ucapnya.

 

Hal yang membuatnya tidak bisa tidur malam ini tidak lain adalah karena kejadian di mana ia memeluk Yoona. Entah kenapa Sehun merasa khawatir dan tidak tenang, berbagai pemikiran aneh muncul di kepalanya. Dan malam itu, Sehun harus merelakan waktu tidurnya terbuang.

 

_o0o_

 

Sehun bergabung di meja untuk sarapan dengan wajah kusut, kantung matanya menghitam menandakan ia tidak tidur semalaman. Oh Seunghoon mempertanyakan kondisinya, namun ia menjawab bahwa dirinya baik-baik saja. Tentu saja tak ada yang percaya.

 

Seperti biasa, pagi ini Yoona berangkat ke kampus menggunakan bis. Sebenarnya Seunghoon selalu menyuruhnya untuk berangkat bersama Seohyun dan Sehun, tapi ia menolak dengan berbagai alasan yang anehnya diterima saja oleh Seunghoon. Lebih tepatnya, lelaki paruh baya itu tak ingin memaksa.

 

Di dalam bis, Yoona melamun, memikirkan kejadian semalam. Juga kondisi Sehun pagi ini, Yoona tahu lelaki itu tidak tidur semalam. Kemudian ia menggelengkan kepalanya, Yoona menyadarkan dirinya bahwa ia tidak seharusnya memikirkan laki-laki itu.

 

“Aku pasti sudah gila.” Gumamnya.

 

_o0o_

 

Sehun benar-benar tidak mengerti dengan dirinya belakang ini. Seperti sekarang, ia terus-terusan menghindar saat hampir bertemu Yoona. Sehun merasa tidak siap bertatap muka dengan gadis itu, ia selalu saja gugup. Dan ini benar-benar berbeda dengan dirinya yang biasanya.

 

“Sehun oppa!.”

 

Sehun terlonjak kaget ketika seseorang yang ternyata adalah Seohyun menepuk bahunya. Seohyun menatapnya bingung, buru-buru Sehun menormalkan kembali ekspresi wajahnya.

 

“Aku mencarimu dari tadi.”

 

“Benarkah?”

 

Seohyun mengangguk. “Bisakah oppa menemaniku ke suatu tempat?” Sehun berpikir sejenak, kemudian menganggukkan kepalanya.

 

Gomawo.”

 

_o0o_

 

Setelah jam kuliahnya selesai, Yoona menuju ke sebuah toko yang menjual peralatan menggambar. Yoona kehabisan beberapa alat dan bahan, sementara deadline semakin dekat dan masih ada yang harus ia selesaikan.

 

Sesampainya di toko, Yoona memilih-milih bahan dan alat yang biasa ia pakai. Jangan berpikir bahwa dia benar-benar tidak punya uang, ia menghasilkan uang dengan kemampuan menggambarnya. Tidak sedikit, juga tidak cukup banyak untuk membayar beberapa porsi makanan di restoran mahal seperti yang dikunjunginya dan Sehun beberapa saat yang lalu.

 

Saat hendak berjalan ke arah kasir, tak disangka Yoona bertemu dua orang yang sangat dikenalnya. Seohyun dan Sehun. Ketiganya sama-sama terkejut, sebenarnya hanya Seohyun karena Yoona dan Sehun kompak memasang ekspresi tak terbaca.

 

Unnie!.” Seohyun menghampiri  Yoona.

 

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Yoona bingung.

 

Sementara Sehun, lelaki itu diam saja tak berniat menginterupsi percakapan pasangan kakak adik di depannya. Namun iris purehazelnya diam-diam menatap Yoona yang sayangnya tidak meliriknya sama sekali. Padahal Sehun berharap Yoona menunjukkan suatu reaksi seperti—cemburu, mungkin?

 

Dan Sehun buru-buru membuang pikiran itu. Sejujurnya ia juga merasa sedikit bersalah, entah kenapa ia merasa seperti baru saja kepergok jalan dengan gadis lain. Dan Sehun juga membuang jauh pemikirannya yang tadi.

 

Ketiganya pun jalan ke kasir bersama-sama, dengan Seohyun dan Sehun berada di depan sementara Yoona di belakang mereka. Tak sengaja gadis itu melihat lengan Sehun yang digandeng mesra oleh adiknya. Buru-buru ia mengalihkan perhatiannya ke arah lain.

 

Unnie, ayo pulang bersama.” Ajak Seohyun.

 

“Kalian duluan saja, aku masih ada urusan lain.” Tanpa bicara lagi, Yoona meninggalkan Seohyun dan Sehun.

 

_o0o_

 

Yoona tidak berbohong bahwa ia ada urusan lain, gadis itu menuju ke rumahnya, rumah ibunya. Ia mendapat telepon dari ibunya agar mampir sebentar. Sesampainya di sana, ia langsung masuk ke rumah dan menemukan ibunya sedang duduk santai sambil membaca sebuah majalah.

 

“Aku datang.” Sapa Yoona.

 

“Duduklah.”

 

Gadis itu menurut, ia duduk di depan ibunya.Yoona masih bertanya-tanya kenapa ibunya memintanya untuk datang ke rumah. Dan raut wajah gadis itu bisa dibaca oleh Jihyun, wanita paruh baya itu tersenyum.

 

“Aku pikir kau tidak begitu dekat dengan Oh Sehun.”

 

“A-apa?” Yoona terkejut, tak menyangka ibunya akan berkata seperti itu.

 

“Tapi sepertinya aku salah.” Jihyun memberi jeda sejenak. “Adikmu, Seohyun. Kau tau ‘kan saat ayah kalian meninggal, dia sangat sedih dan terpukul hingga membuat kesehatannya terganggu. Dan sejak saat itu, aku selalu berusaha membuatnya melupakan kesedihannya.”

 

Yoona hanya diam dan tak ada niatan untuk berbicara, hanya duduk dan mendengarkan penuturan ibunya. Dalam hati Yoona membenarkan perkataan Jihyun, karena ia sendiri melihat bagaimana kondisi Seohyun saat itu.

 

“Aku hanya meminta padamu agar dia tidak kembali seperti dulu, di saat-saat terpuruknya. Aku ingin kau memastikan bahwa dia bahagia.”

 

Tampaknya Yoona tahu ke mana arah pembicaraan ibunya. Dan ia setuju untuk tidak membiarkan adiknya sedih berkepanjangan dan membuatnya down. Yoona merasa bertanggung jawab jika itu terjadi, karena ia sadar dirinyalah penyebab ayah mereka meninggal.

 

_o0o_

 

“Tuan, ada yang ingin bertemu dengan anda.”

 

“Persilahkan dia masuk.”

 

Pintu ruangan itu terbuka, seorang pria berpakaian serba hitam masuk ke dalam. Ia menaruh amplop berukuran besar ke atas meja seseorang yang dipanggil ‘Tuan’.

 

“Terima kasih. Tugasmu sudah selesai.”

 

_o0o_

 

Yoona tidak bisa fokus, sejak tadi ia hanya mencoret-coret tidak jelas dan tidak menghasilkan gambar apapun. Ia melihat kalender di dindin kamarnya, kemudian menyilang tanggal hari ini. Itu artinya tinggal seminggu lagi dan ia harus menyerahkan gambarnya.

 

“Fokus. Fokus. Fokus.” Ujar Yoona pada dirinya sendiri.

 

Gadis itu berhasil membangun konsentrasinya kembali, ia mulai larut dalam pekerjaannya. Menit demi menit berlalu, hingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Yoona menguap, ia membereskan mejanya kemudian bersiap untuk tidur.

 

Dan alangkah terkejutnya ia ketika menemukan Sehun berdiri di ambang pintu kamarnya. Yoona bertanya-tanya sejak kapan lelaki itu berdiri di sana.

 

“Tadi itu adikmu yang mengajakku ke sana.”

 

“Apa?”

 

“A-Aku hanya tidak ingin kau berpikiran yang tidak-tidak.”

 

“Memangnya aku berpikiran seperti apa?” Tanya Yoona bingung, ia benar-benar tidak mengerti. “Aku bahkan tidak memikirkannya sama sekali.” Gadis itu menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur dan menarik selimutnya sampai menutupi seluruh tubuhnya.

 

“Oh ya.” Wajahnya muncul dari balik selimut. “Jangan lupa tutup pintunya.” Kemudian ia kembali ke posisi semula.

 

_o0o_

 

Seohyun menatap benda yang ia beli di toko tadi. Ia mengajak Sehun untuk menemaninya membeli beberapa peralatan menggambar, dengan alasan ada teman lelakinya dari jurusan arsitektur berulang tahun dan ia ingin memberinya kado.

 

Seohyun berbohong. Sebenarnya ia hanya ingin melihat reaksi lelaki itu, ia ingin melihat apakah Sehun akan menunjukkan rasa tidak suka saat ia memikirkan pria lain. Ia berpikir Sehun akan melarangnya berdekatan dengan pria lain karena mereka telah dijodohkan.

 

“Hiks . . .”

 

Gadis itu terisak pelan, ia merasa sangat sedih. Dan di saat seperti ini, biasanya ibunya akan memeluk dan menenangkan dirinya. Namun sekarang, ia hanya sendirian. Dalam tangisannya, tiba-tiba ia teringat kejadian beberapa saat yang lalu dimana Sehun memeluk kakaknya.

 

_o0o_

 

Yoona bangun terlambat pagi ini, ia melakukan semuanya serba cepat dan terburu-buru. Gadis itu bahkan hampir menabrak Oh Seunghoon yang berpapasan dengannya.

 

Mianhae.” Yoona membungkuk cepat.

 

“Ada apa?”

 

“A-Aku terlambat.”

 

“Oh, kalau begitu kau berangkat dengan paman saja.”

 

Yoona tak menolak, karena itu sekarang ia berada di dalam mobil bersama ayah Sehun.

 

“Yoona-ya.” Seunghoon membuka pembicaraan.

 

“Iya, paman?”

 

“Menurutmu Sehun itu bagaimana?”

 

“Se-Sehun?” Tanya Yoona memastikan, dan Oh Seunghoon menganggukkan kepalanya. “Dia baik, dan sedikit menyebalkan.”  Ucap Yoona dengan raut wajah tak yakin, hal itu membuat Seunghoon terkekeh pelan.

 

“Jika disuruh memilih, kau akan memilih Kris atau Sehun?”

 

“I-itu. . .A-aku. . .” Yoona kebingungan harus menjawab apa pada Seunghoon. “Keduanya sama-sama baik, Kris sudah seperti kakak bagiku, dan Sehun adalah teman yang baik. Jadi—“ Yoona tidak tahu harus mengambil kesimpulan apa dari pendapatnya tadi.

 

“Oh ya, paman. Aku ingin mundur saja dari rencana perjodohan ini.” Akhirnya Yoona mengutarakan keputusannya.

 

“Kenapa?”

 

“Aku hanya merasa tidak cocok. Lagipula, untuk sekarang ini aku memiliki sesuatu yang lebih kuinginkan daripada mencari pasangan hidup.” Ungkapnya Jujur.

 

Sebenarnya, tanpa sepengetahuan ibunya Yoona telah mengurus beasiswa ke Jepang. Tak lain adalah untuk belajar lebih serius mengenai gambar-menggambar. Ia ingin sekali memproduksi komiknya sendiri dan bekerja sama dengan mangaka-mangaka terkenal di Jepang.

 

Untuk sekarang, Yoona hanya menunggu pengumuman. Jika berkasnya dinyatakan lulus seleksi dan  mendapatkan beasiswa, maka ia akan Jepang, meski ibunya melarang. Tapi, sepertinya Im Jihyun tak akan melarang putri sulungnya itu untuk kali ini.

 

_o0o_

 

Yoona berada di kampus seharian, pagi sampai siang ia ada kelas, sore hari di jam 3 ia juga ada kelas sampai jam 6. Yoona berpisah dengan beberapa temannya di halte bis. Saat sedang menunggu bis, ponselnya bergetar.

 

Yoboseyo?” Nomor tak dikenal meneleponnya.

 

“Bagaimana kabarmu?” Suara pria. Yoona bertanya-tanya mengenai siapa yang meneleponnya, terlebih itu suara pria.

 

“Yak! Kau sudah lupa padaku?”

 

“A-Aku—“ Otaknya berpikir, berusaha mengenali suara si penelepon. Terdengar suara tawa dari si penelepon.

 

“Kereta api Busan?” Si penelepon memberi clue.

 

Yoona mendapat pencerahan. “Kris?” Tebaknya.

 

“Sepertinya kau ini mudah lupa dengan sesuatu.”

 

“Bu-bukan seperti itu.” Yoona mengelak. “Aku hanya sedikit bingung dan tidak menyangka kau akan menelponku.”

 

“Bagaimana kabarmu dengan si Oh Sehun itu?”

 

“Kenapa semua orang bertanya tentang Oh Sehun padaku? Pertama paman, kemudian kau.” Bibir gadis itu mengerecut.

 

“Baiklah, jadi sudah sampai di mana hubungan kalian?”

 

Yak! Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya.” Bantah Yoona.

 

“Benarkah? Aku pikir—“

 

“Lagipula aku sudah mengundurkan diri dari rencana konyol ini.” Potong Yoona cepat.

 

“Kenapa?”

 

“Semua orang juga sudah tau hasil akhirnya seperti  apa. Jadi aku tidak mau buang-buang waktu. Rencananya, aku juga akan segera pergi dari rumah oppa.”

 

“Pergi?”

 

“Iya. . .” Yoona pun menceritakan pada Kris tentang rencananya untuk ke Jepang, meskipun belum tentu mendapat beasiswa. Tapi Yoona memiliki rencana kedua, ia akan menggunakan uang tabungannya untuk ke Jepang jika ia tidak mendapat beasiswa.

 

_o0o_

 

Hari ini  hari minggu, Yoona menuju sebuah perusahaan yang akan memproduksi komiknya. Satu minggu sebelumnya, ia berusaha keras menyelesaikan gambarnya, dan usahanya tidak sia-sia. Ia datang tepat waktu.

 

“Ceritamu sangat menarik, gambarmu juga sangat bagus.” Puji seorang director yang sedang melihat-lihat hasil karyanya.

 

“Aku juga memasukkan berkas untuk beasiswa ke Jepang, mohon diperhatikan.” Ucap Yoona sopan. Perusahaan yang ia datangi saat ini memang membuka beasiswa, dan Yoona mengikutinya. Ia sangat berharap bisa terpilih.

 

“Jika memang berhak, maka kau akan terpilih.”

 

“Terima kasih.”

 

Yoona keluar dari gedung perusahaan itu, ia mendongak menatap langit yang terlihat sangat secerah, secerah hatinya setelah mendapat bayaran setelah menyetor hasil kerjanya. Gadis itu tersenyum-senyum sendiri, namun berubah terkejut ketika mendapati seseorang berdiri di sana.

 

“Idiot!” Ucapan sinis itu.

 

“A-apa yang kau lakukan disini? Kau mengikutiku?” Tanya Yoona heran. Bagimana bisa Oh Sehun tiba-tiba ada di sana.

 

“Aku mau kau membantuku.”

 

_o0o_

 

Jika tadi Yoona sangat kesal karena ditarik secara paksa oleh Sehun, kini wajahnya kelihatan ceria. Sehun membawanya ke sebuah panti asuhan, ada banyak anak kecil di sini. Tak hanya mereka berdua, Seohyun juga ada di sana.

 

Jujur saja Yoona terkejut sekaligus kagum, ia tidak menyangka Sehun memiliki hati yang sangat baik. Yoona memang menilai Sehun adalah orang baik, tapi ia tidak menyangka bahwa laki-laki itu sangat baik.

 

Seohyun, Yoona, bersama anak-anak lainnya sedang duduk rapi,di depan mereka Sehun sedang melakukan sebuah pertunjukan. Sehun sedang mengenakan kostum badut yang sangat lucu, ia menari di depan anak-anak sampai membuat anak-anak itu tertawa dan berdecak kagum.

 

“Sehun oppa memang sangat keren.” Ucap seorang anak perempuan.

 

Yoona baru tahu bahwa lelaki itu bisa menari, walau tidak sebagus penari profesional lainnya, tapi menurutnya itu sudah sangat bagus. Dan ia juga tak menyangka bahwa Sehun memiliki sedikit bakat dalam melucu.

 

Tiba-tiba Sehun mengisyaratkan Yoona dan Seohyun untuk maju ke depan, Yoona menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan, dan Sehun mengangguk. Kemudian Yoona dan Seohyun meninggalkan tempatnya dan bergabung dengan Sehun.

 

“Pasang kepala dinosaurusmu.” Perintah Sehun.

 

Well, jika Sehun memakai kostum badut yang lucu dan Seohyun dengan kostum kelincinya yang imut, maka Yoona memakai kostum dinosaurus. Gadis itu sempat protes, tapi hanya tiga kostum yang tersedia. Tapi sekarang ia tidak peduli, melihat anak-anak itu tertawa bahagia membuatnya ikut senang.

 

“Sekarang, Seohyun akan menyanyi untuk kalian semua.” Ucap Sehun yang disambut tepuk tangan oleh mereka.

 

Seohyun mulai bernyanyi untuk mereka, suara gadis itu memang sangat merdu. Anak-anak bertepuk tangan mengiringi Seohyun bernyanyi.

 

“Apa yang harus kulakukan?” Yoona membuka kembali kepala dinosaurusnya ketika bertanya pada Sehun.

 

“Hmm. .” Lelaki itu berpikir sejenak. “Kita menari saja.” Usulnya.

 

Mwo?”

 

“Aish! Kenapa kau begitu lamban.” Sehun yang gemas dengan respon telat Yoona langsung memegang tangan Yoona yang dibalut kostum hewan purba itu dan memaksanya berdansa.

 

Awalnya Yoona tampak bingung, namun ia larut dalam suasana ceria di ruangan itu dan tidak peduli lagi dengan gerakan tubuhnya, ia hanya mengikuti Sehun menari. Lama kelamaan, anak-anak mulai bergabung dengan mereka bertiga dan menari bersama.

 

Yoona dibuat kewalahan oleh beberapa anak yang berkumpul di belakang dan menarik ekor dinosaurusnya. Gadis itu melayangkan protes, tapi anak-anak itu tidak mempedulikannya.

 

Yak! Kenapa kalian menarik ekorku? TvT “ Rengek Yoona. Karena sedikit gerah, ia melepas kepala dinonya.

 

“Yoona unnie lucu sekali.”

 

“Ayo tarik lagi.”

 

Yoona pasrah, ia mengikuti kemanapun anak-anak itu menarik ekornya. Yang membuatnya kesulitan adalah ia harus berjalan mundur, dan ketika ia terjatuh anak-anak itu akan menertawakannya.

 

“Hahaha, tarik terus dinosaurus jelek itu anak-anak.” Sehun tertawa sambil menyemangati mereka menjahili Yoona. Seohyun ikut tersenyum dan terhibur melihat tingkah lucu mereka, namun senyum itu perlahan luntur ketika melihat Sehun yang ternyata merekam aksi anak-anak itu melalui kamera ponselnya.

 

“Ya Tuhan! Dia itu bodoh sekali.” Ucap Sehun.

 

Melihat wajah Yoona yang mulai berkeringat dan tampak lelah,Sehun menghampirinya. “Sudah cukup bermainnya, dinosaurus jelek ini kehabisan tenaga.” Sehun mengulurkan tangannya pada Yoona yang sedang duduk di lantai.

 

“Kau yang jelek.” Yoona menerima uluran tangan Sehun, kemudian mereka berdua menuju ke kursi dimana Seohyun berada.

 

“Sungguh keterlaluan, mereka menyeretku seperti sapi.” Keluh Yoona sambil mengusap peluh di wajahnya. Meski begitu, ia tetap senang bisa menghibur mereka.

 

“Kau memang sapi.” Sehun mencubit hidung Yoona gemas membuat gadis itu memekik kesakitan, dan Seohyun hanya tersenyum tipis.

 

_o0o_

 

Yoona menjatuhkan tubuh lelahnya di tempat tidur dengan posisi tengkurap. Tenaganya terkuras habis, dan ia butuh istirahat sekarang. Matanya terpejam, namun sesuatu yang dingin menyentuh pipinya.

 

“Apa yang kau lakukan?” Mata gadis itu terbuka kembali dan menemukan orang yang menempelkan kaleng dingin ke pipinya.

 

“Ini vitamin. Bisa membantumu pulih dengan cepat.”

 

“Simpan saja di sana, aku lelah sekali, mau tidur.” Matanya kembali terpejam, dengan cepat ia sudah berada di alam mimpi.

 

Sehun menggelengkan kepalanya melihat tingkah Yoona, ia pun melangkah mendekati meja dan meletakkan kaleng minuman di tangannya kemudian keluar dari kamar. Belum sampai di depan pintu, lelaki itu berbalik dan berjalan kembali mendekati tempat tidur.

 

Sehun membalik tubuh Yoona menjadi telentang, ia menelusupkan tangannya di leher dan di bawah lutut gadis itu kemudian memindahkannya ke posisi yang lebih nyaman. I melepas kedua sepatu Yoona kemudian menyelimutinya.

 

_o0o_

 

Jihyun mengepalkan tangannya, wanita itu menatap lurus ke depan dengan tatapan tajamnya. Baru saja ia menerima telepon dari Seohyun, gadis itu memberitahu ibunya bahwa ia ingin mundur dari perjodohan ini. Seohyun mengatakan pada ibunya bahwa Sehun tidak menunjukkan tanda-tanda suka padanya, ia juga bercerita bahwa Sehun menjadi lebih dekat dengan Yoona.

 

“Jadi dia tidak mendengarkan ucapanku.” Ucapnya geram.

 

Kekhawatirannya semakin menjadi, buru-buru ia mencari nomor kontak seseorang dan meneleponnya. Namun sayang, panggilannya tidak dijawab. Jihyun membanting ponselnya, ia sangat marah dan deru nafasnya tidak stabil.

 

“Putriku harus bahagia. Ya, Seohyun harus bahagia.”

 

_o0o_

 

Keesokan harinya Yoona terbangun karena mendengar suara ponselnya. Gadis itu meraba-raba tempat tidurnya dan menemukan benda itu.

 

“Halo?” Ucapnya dengan mata terpejam.

 

“Dengan saudari Im Yoona?”

 

“Hmm. Ini aku.”

 

“Selamat. Anda menjadi salah satu dari tiga penerima beasiswa dari LHD’s.”

 

“A-Apa?” Yoona langsung terbangun dengan mata melotot.

 

“Silahkan datang kembali untuk mengurus kelengkapan berkas.”

 

“I-iya, aku akan segera ke sana.”

 

“Terima kasih.”

 

“Iya, terima kasih. Muah, muah, muah.” Dengan konyolnya Yoona menciumi layar ponselnya, kemudian ia berdiri dan melompat-lompat kegirangan di atas tempat tidur.

 

“Yuhuuu~Hello, Japaaaaan ~ I’m comiiiiing ~ “ Gadis itu masih melompat-lompat untuk beberapa saat, tapi kemudian ia sadar bahwa seharusnya ia bersiap-siap dan mengurus kembali berkasnya di LHD’s.

 

_o0o_

 

Yoona menatap langit dengan senyuman yang tersemat di bibirnya. Hari ini adalah hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Bahkan dalam perjalanan pulangnya dari gedung LHD’s, Yoona memilih berjalan kaki. Baru kali ini ia menikmati acara jalan kakinya.

 

“Terima kasih Tuhan. Aku janji akan semakin sering ke gereja.” Ucapnya.

 

_o0o_

 

Suara tawa terdengar dari kamar seseorang, tak lain adalah Oh Sehun yang tertawa memandangi layar ponselnya. Ia mengusap sudut matanya yang berair karena tertawa terlalu keras, kemudian menyimpan ponselnya di atas meja.

 

“Benar-benar konyol.”

 

Sehun turun dari tempat tidur dan berniat untuk mandi sore, bertepatan dengan itu pintu kamarnya terbuka. Seorang gadis masuk dan langsung memeluknya, Sehun terkejut sekaligus kebingungan.

 

“Seohyun?”

 

Oppa, aku mencintaimu.”

 

Bertambah lagi keterkejutannya. Walau sebenarnya Sehun sudah tahu, tapi ia tak menyangka gadis itu tiba-tiba datang dan mengutarakan perasaannya seperti ini.

 

“A-Aku—“

 

_o0o_

 

“Paman ikut senang, tapi itu artinya kau akan meninggalkan Korea?”

 

“Iya, paman. Aku akan berangkat tiga hari lagi.”

 

“Apa kau benar-benar yakin akan meninggalkan semua ini? Ibumu, adikmu, paman, dan—Sehun?”

 

“Aku tidak punya pilihan lain. Ini adalah kesempatan yang besar, aku tidak ingin menyia-nyiakannya.”

 

Oh Seunghoon mengangguk paham, ia mengerti bahwa semua ini juga tidak mudah bagi Yoona. Terlebih Yoona akan sendirian di negeri orang dan belum memiliki satupun kenalan.

 

“Baiklah, paman hanya bisa mendukungmu.” Pria paruh baya itu memeluk Yoona.

 

“Terima kasih, paman.”

 

Yoona meninggalkan ruangan itu dengan perasaan lega. Untuk sesaat, ia merasa seperti mendapat restu dari ayahnya untuk pergi. Gadis itu pun melangkah menuju ke kamarnya, saat melihat kamar Sehun, ia menjadi sedikit gugup. Ia bimbang apakah harus memberitahu Sehun atau tidak.

 

Setelah berada tepat di depan kamar lelaki itu, Yoona terkejut melihat dua orang berpelukan di dalam sana. Tiba-tiba jantungnya berdegub cepat, tak sengaja tatapannya bertemu lelak itu.  Yoona mematung, ia kemudian tersenyum kecil ke arah Sehun kemudian meninggalkan tempat itu.

 

_o0o_

 

Lagi-lagi Sehun merasa seperti sedang ketahuan berselingkuh. Ia melihat Yoona melempar senyum kecil padanya sebelum pergi. Sesuatu dalam diri Sehun mendorong lelaki itu untuk mengejarnya, namun terhalang oleh gadis yang sedang memeluknya.

 

“Se-Seohyun ah.” Ucap Sehun hati-hati.

 

“Apa kau tidak bisa membalas perasaanku?” Seohyun menatap lelaki itu penuh harap.

 

“A-Aku—“

 

“Tidak usah dijawab. Aku sudah tahu.” Potong Seohyun. “Sayang sekali, hanya Yoona unnie dan Kris oppa yang berhasil.”

 

“Maksudmu?”

 

“Mereka bisa dekat dan tetap menjalin hubungan walau Kris oppa berada di Amerika.”

 

“Mereka berhubungan?”

 

_o0o_

 

Yoona akan berada di Jepang kurang lebih dua tahun, itu artinya ia akan cuti sejenak dari kuliahnya di Korea. Setelah mengurus beberapa hal di kampusnya, hari ini Yoona rencananya akan mengunjungi kantor imigrasi untuk mengurus paspor.

 

Selama di Jepang nanti, Yoona tidak perlu khawatir mengenai biaya hidupnya karena ia akan mendapat uang saku bulanan dari perusahaan yang memberinya beasiswa. Sebenarnya ia sedikit bingung, saat mendaftar dulu ia membaca dengan jelas ketentuan bahwa biaya tempat tinggal ditanggung oleh penerima beasiswa, juga tak ada pemberian uang saku.

 

Tapi ia tak ingin ambil pusing, ia hanya bersyukur karena hal itu sangat membantunya saat di Jepang nanti.

 

Yoona mampir ke kantin untuk mengisi perutnya, ia memesan beberapa jenis makanan. Tak lama berselang, makanan pesanannya pun tiba. Kemudian, muncul seorang gadis yang ikut bergabung dengannya.

 

Unnie ~ “ Rengekan itu, Yoona sangat mengenalnya. “Aku lelah sekali, praktikum ini praktikum itu. Tidak ada habisnya.”

 

“Siapa suruh kau memilih pendidikan dokter.”

 

“Tapi kalau aku berhasil nanti, aku bisa membantu banyak orang.”

 

Aigoo ~ mulia sekali hati dongsaengku.” Ujar Yoona gemas sambil mencubit pipi Seohyun. “Oh ya, unnie mau memberitahumu sesuatu.” Raut wajahnya berubah serius.

 

“Apa? Unnie menang lotre?”

 

“Aish! Bukan. Unnie akan pindah ke Jepang.”

 

MWO?” Pekik Seohyun.

 

“Aku mendapat beasiswa ke Jepang, aku berangkat dua hari lagi.” Jelas Yoona.

 

“Lalu, bagaimana dengan—“

 

“Seohyunnie, sejak awal unnie tidak tertarik dengan perjodohan itu. Unnie sudah menganggap Kris seperti kakak, dan—“ Yoona terlihat ragu melanjutkan. “—aku tidak mungkin bersama Sehun. Kau tahu kan kami tidak bisa akur. Jadi, aku hanya buang-buang waktu di rumah itu.” Yoona memegang tangan Seohyun. “Berbeda denganmu, unnie bisa melihat kau bahagia bersama Sehun.”

 

“Ta-tapi sepertinya Sehun oppa tidak menyukaiku.” Ujar Seohyun dengan tatapan sedihnya.

 

“Bukan seperti itu, aku yakin Sehun juga menyukaimu. Hanya saja laki-laki itu tidak terlalu pintar menunjukkan perasaannya.”

 

“Apa itu benar?”

 

“Tentu saja. Unnie yakin seiring berjalannya waktu dia akan menyatakan perasaannya padamu. Adikku yang manis ini hanya harus bersabar. Arra?”

 

Unnie ~ “Seohyun pindah tempat duduk di samping Yoona kemudian memeluknya. “Tapi, itu artinya unnie akan meninggalkan aku dan eomma.”

 

Yak! Aku hanya pergi dua tahun, setelah itu aku akan kembali.”

 

Unnie, aku menyayangimu.”Ucap Seohyun tulus. “Aku selalu berdoa agar unnie sukses dan bahagia, dan juga mendapatkan jodoh yang terbaik.”

 

“Iya, unnie juga selalu mendoakan kebahagiaanmu.”

 

_o0o_

 

“Ke-ke Jepang?”

 

“Iya, dia mendapat beasiswa dan akan pergi ke Jepang selama dua tahun.”

 

“Tapi rencana—“

 

“Dia memutuskan untuk meninggalkan rencana ini. Dia memiliki sesuatu yang ingin dicapai dan tak ingin buang-buang waktu di sini.”

 

“Aku pikir dia sudah memilih Kris hyung?”

 

“Tidak. Dia tidak memilih siapapun di antara kalian berdua.”

 

“Dia tidak bisa seenaknya, ini bahkan baru dimulai tapi dia sudah akan pergi.”

 

“Sehun! Oh Sehun!.” Seunghoon menghela nafas pelan melihat anak lelakinya pergi tanpa menghiraukan panggilannya.

 

_o0o_

 

Malam ini Yoona sedang menyusun pakaiannya satu persatu ke dalam koper. Hari keberangkatannya semakin dekat, ia tidak ingin ada yang tertinggal.

 

*BRAK

 

Gadis itu terlonjak kaget ketika pintunya dibuka dengan keras oleh seseorang. Yoona melihat seorang lelaki masuk tanpa permisi, dan terlihat—marah?

 

“Ap—“

 

“KAU MAU PERGI, HAH?” Lelaki itu mengguncang kedua bahunya.

 

“Se-Sehun, aku—“

 

“JADI SELAMA INI KAU HANYA BUANG-BUANG WAKTU, BEGITU?”

 

Yak! Aku—“

 

Pandangan lelaki itu tertuju pada koper yang berada di tempat tidur, tanpa diduga ia membuang koper itu ke lantai dan membuat isinya berhamburan. Yoona yang tadinya bingung dan kaget, kini mulai emosi.

 

“Apa yang kau lakukan?” Nada suara gadis itu meninggi.

 

“Kau tidak akan ke mana-mana.” Ucap Sehun tegas.

 

“Dan kau tidak berhak melarangku.” Balas Yoona tak kalah tegas.

 

Keduanya berdiri dan saling bertatapan, mereka saling menghunuskan tatapan tajam dan penuh emosi. Sehun menatap lekat wajah gadis di depannya, gadis yang dulu sangat ia benci karena menyebutnya cadel, gadis yang ia nobatkan sebagai orang no.1 yang akan ia jauhi. Tapi kenapa gadis itu malah membuatnya seperti ini.

 

“Keluar dari kamarku.” Ucap Yoona pelan, namun masih sarat emosi. Sehun tidak merespon membuat Yoona mengulang kalimatnya. “Aku bilang kel—“

 

Sehun menarik tubuh gadis itu kemudian mencium bibirnya dengan sedikit kasar. Yoona mendadak bungkam dan tubuhnya menegang, ia hendak mendorong Sehun namun lelaki itu mendekapnya lebih erat dan memperdalam ciumannya.

 

TBC

Advertisements

6 thoughts on “You Are My Destiny – 6

  1. baru nemu ni ff , sumpah keren abiss.Itu sehunnya kok tiba2 agresif gitu wkwkwk :v
    lanjut ya thor jangan berhenti gitu aja :)) semangat thor 😀

  2. Sekali kekanakan tetap kekanakan.. coba sehun masukin kepalanya ke kulkas dulu biar dingin.. jadi maslahnya bisa lebih cepat dan lebih gampang selesainya.. kalo gini.. kalo ada yg liat kan berabe.. kalo bapaknya yg liat dia ga masalah.. nah kalo ibunya seohyun atau malah seohyun sendiri kan bisa jadi perang dunia ketiga.. ya kalo yoona mau maapin kamu. Kalo ga? Ini kelemahannya si sehun..

    Aku ga tau udah pernah bilang ini atau belum.. yang pasti aku lebih suka yoonwook.. eh maaf maksutnya yoonkris..

    Pssst : aku kelupaan ceritanya di awal aku ngira mereka bertiga bersaudara.. 😂😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s