You Are My Destiny – 7

You Are My Destiny – 7

Yoona | Sehun

-OoO-

Sebuah gundukan besar di atas tempat tidur tampak bergerak-gerak, tepatnya seseorang membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut. Sesekali terdengar suara-suara seperti menggerutu, kesal, dan suara aneh/? lainnya.

“Dasar menyebalkan!.” Sebuah bantal guling menjadi korban penganiayaan. “Dia selalu berbuat seenaknya.” Wajah seseorang muncul dari balik selimut. “Pertama dia mengacak-acak isi koperku, kemudian—“ Wajahnya kembali terbenam dalam selimut.

“Ya Tuhan. Aku malu sekali.”

_o0o_

Sehun menatap pantulan wajahnya yang basah pada sebuah cermin besar di kamar mandi. Ia sedang bingung dengan keadaannya sekarang, lebih tepatnya ia merasa aneh dengan hatinya.

“Apa yang sudah kau lakukan padaku Im Yoona?” Tanyanya entah pada siapa.

Kemudian lelaki itu berjalan keluar dari kamar mandi, ia menuju sebuah meja di kamarnya, membuka salah satu laci dan mengambil segulung kertas yang ia simpan selama ini. Sehun menatap lekat kertas usang di tangannya.

“Jangan bercanda. Ini tidak mungkin ‘kan?”

_o0o_

Di hari terakhirnya di Korea, Yoona memutuskan untuk mengunjungi tempat-tempat yang mungkin akan ia rindukan nanti. Sekarang gadis itu sedang berdiri di halte bis, rencananya ia akan ke Namsan Tower. Kenapa? Karena ia belum pernah ke tempat itu sama sekali.

Yoona menjulurkan telapak tangannya, dan setitik salju jatuh mengenainya. Gadis itu menatap langit, dan tersenyum ketika menyadari bahwa musim salju akan segera tiba.

“Sepertinya aku akan membutuhkan beberapa syal dan jaket tebal.” Ucapnya.

Tak lama berselang, bis yang ditunggupun datang. Belum sempat ia melangkahkan kakinya hendak masuk ke dalam bis, sebuah lengan melingkari lehernya dari belakang.

Yak! Yak! Siapa kau?” Yoona panik, orang itu menyeretnya dari belakang dan membuatnya kesulitan untuk mengenali si pelaku.

Dengan sekuat tenaga Yoona melepas lengan itu dari lehernya. Selain membuatnya kesulitan bernafas, ia juga tidak ingin dipandang aneh oleh orang-orang. Sungguh, ia bukan sapi yang ditarik-tarik seperti itu.

Yak! Apa tidak ada cara yang lebih buruk lagi, hah?” Tanya Yoona sarkastis, sembari mengusap-usap lehernya. “Ya Tuhan, kau membuatku ketinggalan bis.” Ujar Yoona ketika melihat bis yang hendak ditumpanginya tadi sudah pergi.

“Masuk!.”

“M-Mwo?”

“Aku bilang masuk!.” Ucap Sehun tak sabaran.

“Ke-ke mobil?” Tunjuk Yoona ragu-ragu.

“Ke penjara.” Lelaki itu berdecak pelan. “Tentu saja ke mobil, bodoh.”

Yoona menatap Sehun tajam, lelaki itu sering sekali menyebutnya bodoh. Tak ingin berdebat lebih lama, ia pun menuruti perintah Sehun dan masuk ke mobil. Dalam hati ia bertanya-tanya dalam rangka apa Sehun menemuinya di sini.

Di dalam mobil, keduanya hanya diam. Sejujurnya Yoona masih merasa malu karena kejadian tak terduga semalam. Jangan kira Sehun tidak, ia hanya terlalu pintar menyembunyikan perasaannya di balik wajahnya yang datar.

“Kau mau ke mana?” Sehun membuka suara.

“Namsan Tower.”

“Yang banyak gemboknya? Itu tempat untuk pasangan kekasih.”

“Siapa yang membuat peraturan seperti itu?”

“Tidak ada, hanya saja—“

“Kau bisa turunkan aku di depan.” Potong Yoona cepat. Dan setelahnya Sehun tidak bersuara lagi, begitupun dengan Yoona.

_o0o_

“Aku bilang ke Namsan Tower, bukan—“

“Aku belum sarapan.”

Yoona menatap lelaki itu dengan tatapan sebalnya. Seperti dugaannya, Sehun selalu berbuat seenaknya. Ia bahkan tidak minta maaf setelah mengacak-acak kopernya. Dan sekarang, lelaki itu memaksanya membayar semua biaya makannya. Tentu saja Yoona menolak, tapi Sehun menunjukkan bahwa ia tidak membawa dompet dan tidak memiliki uang sama sekali.

“Kau sungguh keterlaluan.” Yoona menggerutu.

“Aku lapar sekali, jadi memesan banyak makanan.”

“Akan kupastikan ini terakhir kalinya aku membayar makananmu.”

“Tentu saja, karena besok kau sudah akan pergi.” Ucap Sehun pelan. Dan itu membuat suasana di mobil berubah hening. Tak ada pembicaraan hingga mereka sampai di tempat yang dituju, Namsan Tower.

_o0o_

“Selama ini aku hanya melihatnya dari televisi.” Ucap Yoona kagum pada salah satu  bangunan ikonik di negaranya itu.

“Kau ini orang Korea bukan sih?” Sindir Sehun, ia pikir semua orang Korea pernah ke tempat ini. Tapi gadis di sampingnya terlihat seperti turis asing yang baru pertama kali menginjakkan kaki di NT, walaupun memang benar bahwa ini adalah kunjungan pertama Yoona.

“Cepat foto aku.” Yoona menyerahkan ponselnya pada Sehun.

Mwo? Enak saja, aku tidak mau.”  Tolak lelaki itu.

Yak!  Aku minta tolong padamu.”

“Tidak mau.”

“Aish, Jinjja! Kau pulang saja sana, daripada merusak moodku.”

Yoona pun berinisiatif untuk meminta bantuan pada pengunjung lain. Namun belum sempat terlaksana, Sehun buru-buru merebut ponselnya. Gadis itu merenggut kesal, ia benar-benar tidak habis pikir dengan kepribadian Sehun yang sangat aneh dan tidak terduga.

“Cepat!”

“Apa?” Tanya Yoona tak mengerti.

“Berdiri di depan sana dan aku akan mengambil gambarmu.”

“Ah, baiklah.”

Gadis itu tersenyum senang, ia sangat bersemangat. Ia mencari-cari gaya yang menurutnya bagus, namun itu malah terlihat lucu dan aneh, sekaligus membuat Oh Sehun dongkol karena Yoona tak kunjung selesai.

“Diam di sana atau kubanting ponsel jelekmu ini.” Ancam Sehun.

Yoonapun mendadak diam, alhasil ia hanya berdiri tegak tanpa bergaya, disertai mata besarnya yang menatap tegang  ke  arah kamera dengan mulut yang sedikit terbuka. Oh Sehun mengambil gambarnya kemudian tertawa terpingkal-pingkal melihat hasil jepretannya.

Yak! Cepat hapus itu.” Yoona berusaha merebut ponselnya kembali.

“Tidak, sebelum aku mengirim foto jelek ini ke ponselku.”

“Kau tidak bisa melakukan itu.” Sehun berlari menjauhi Yoona. “Yak! Oh Sehun!” Gadis itu memekik kesal, Sehun tersenyum penuh kemenangan.

“Ayo, berdiri lagi di sana. Aku akan memotretmu lagi.”

“Tidak perlu, terima kasih.” Yoona merenggut kesal.

“Baiklah, ayo berfoto bersama.” Sehun merangkul bahu gadis itu agar mendekat, ia mencari-cari angle yang bagus dan pas.

“Aku bilang tidak mau.” Yoona berusaha melepaskan diri dari rangkulan Sehun.

“Hey, ada sesuatu di atas.” Refleks Yoona melihat ke atas, ia mengernyit bingung ketika tak menemukan apapun. Sedetik kemudian, ia mendengar suara tawa lelaki di sampingnya. “Hahaha, astaga, coba lihat lubang hidungmu.”

Sehun menunjukkan foto dirinya yang sedang tersenyum tampan, sementara di sebelahnya Yoona sedang mendongak ke atas. Yoona naik pitam, ia hendak memukul Sehun tapi lelaki itu keburu menghindar.

Yak! Kenapa kau selalu menjahiliku?” Ujarnya antara kesal dan pasrah, terlebih ketika mengetahui bahwa foto tadi diambil melalui kamera ponsel Sehun.

“Habis kau ini mudah sekali dibodohi.” Ucapan Sehun membuatnya bertambah kesal.

“Itu tidak lucu.”

“Baiklah, ayo ulangi lagi.” Sehun kembali merangkul bahu gadis itu dan mengajaknya foto bersama. Yoona menurut. Keduanya menatap ke  arah kamera kemudian tersenyum, sebuah senyuman yang tulus.

_o0o_

Setelah mengunjungi beberapa tempat, mereka memutuskan untuk ke Sungai Han. Keduanya duduk di sebuah bangku sambil menikmati ice cream. Tentu saja Yoona yang traktir, Sehun tidak bawa uang.

“Jadi, kau benar-benar akan pergi?”

“Eum.” Yoona mengangguk.

“Tapi kau akan kembali ‘kan?”

“Kau mengharapkanku kembali? Untuk apa? Untuk menjahiliku lagi?”

Yak! Aku serius.”

“Tentu saja aku akan kembali, di sini ‘kan kampung halamanku.”

“Mengenai perjodohan—“

“Aku sudah mundur dari rencana itu.”

“Jangan memotong perkataanku.”

“Baiklah, lanjutkan.”

“Aku mau rencana ini tetap berjalan.” Sehun memberi jeda sejenak, ia mengumpulkan keberaniannya untuk berkata lebih jauh. “Saat kau kembali nanti, aku mau kita tidak saling mencari, biarkan takdir yang mempertemukan kita.” Lelaki itu menatap Yoona dengan penuh kesungguhan. “Dan jika takdir menghendaki pertemuan kita, aku. . .aku memilihmu.”

Yoona tertegun mendengar penuturan Sehun, ia terkejut dan tidak menyangka Sehun akan berkata seperti itu. Tanpa sadar ia menggigit bibir bawahnya gugup.

“Apa kau sedang menyatakan perasaanmu?” Tanya Yoona tak yakin.

“Jujur saja aku sedang bingung dengan perasaanku. Saat aku mengetahui kau akan pergi, aku merasa tidak rela, tidak tau kenapa.”

“Begini saja.” Yoona mencoba mengutarakan pendapatnya. “Aku tidak ingin terikat.” Sehun tampak ingin bertanya, namun buru-buru Yoona melanjutkan perkataannya. “Maksudku, tidak ada yang bisa menjamin masa depan terjadi sesuai kemauan kita. Semuanya bisa terjadi diluar prediksi, aku ingin semuanya berjalan apa adanya. Jika kita bertemu suatu saat nanti entah disengaja atau tidak, aku ingin kita membuat keputusan berdasarkan perasaan masing-masing.”

“Aku mengerti maksudmu.”

_o0o_

Sekarang mereka berdua sedang menuju ke kediaman Yoona. Sebenarnya , gadis itu telah menyuruh Sehun untuk pulang, tapi lelaki itu sangat keras kepala, ia memaksa untuk mengantar Yoona dan berjanji akan pulang setelahnya.

“Aku akan masuk, dan kau cepatlah pulang.” Ujar Yoona sebelum turun dari mobil.

Sehun menurut, ia memundurkan mobilnya dan meninggalkan pekarangan rumah Yoona. Namun, belum beberapa menit ia menemukan ponsel gadis itu tertinggal. Tanpa pikir panjang ia memutar balik mobilnya dan kembali ke rumah Yoona.

Sesampainya di sana, ia turun dari mobil sambil membawa ponsel gadis itu. Sehun langsung masuk  dan mencari keberadaan Yoona.

“Yoo—“

*PLAKK

_o0o_

Yoona menatap tak percaya pada sosok wanita yang baru saja menampar pipinya dengan keras. Sangat perih, dan tambah perih ketika melihat tatapan tajam ibunya yang ditujukan untuk dirinya. Tatapan penuh kemarahan, sama seperti dulu saat ayahnya meninggal.

“Eomma—“

*PLAKK

Lagi, telapak tangan wanita itu mendarat di pipi Yoona.

“Setelah kau membunuh suamiku, kau juga mau menghancurkan kebahagiaan putriku, hah?” Jihyun membentak gadis yang baru saja ia tampar. Bahunya naik turun, menunjukkan bahwa ia sangat marah dan meledak-ledak.

“A-Aku tidak me-membunuh appa.” Ucap Yoona dengan suara bergetar, matanya mulai berkaca-kaca.

“Kau pembunuh, kau pembawa sial! Pergi kau dari hidupku dan jangan ganggu putriku. Aku tidak mau melihatmu lagi.” Jihyun melangkah meninggalkan gadis itu di sana.

Yoona jatuh terduduk, linangan air mata membasahi pipinya. Ingatan tentang ayahnya dan perkataan ibunya muncul secara bergantian di kepalanya.

“Mi-mianhae. .hiks. .mianhae. . .”

“Kau bilang kau akan ke Jepang? Pergilah! Kalau perlu jangan kembali.” Ucap Ny. Im final. Wanita itu melangkah pergi tanpa menatap sedikitpun pada putrinya yang sedang menangis sambil terus meminta maaf.

_o0o_

Jihyun masih belum bisa meredakan amarahnya, wanita itu menuangkan minuman beralkohol di gelas kemudian meneguknya dalam satu kali teguk.

“Berani sekali dia mendekati Oh Sehun? Dia pikir dia siapa? Dia bahkan tidak berhak berdekatan dengan calon suami putriku.”

Wanita itu sangat marah ketika mengetahui bahwa Yoona dan Sehun beberapa kali pergi berdua. Terlebih ketika Seohyun memberitahunya bahwa ia ingin mundur dari perjodohan ini karena tidak melihat tanda-tanda bahwa Sehun menyukainya.

“Seharusnya aku menolaknya sejak dulu.”

_o0o_

Sehun tidak bisa berpikir dengan jernih, ia masih terkejut dan bingung setelah mengetahui fakta bahwa hubungan Yoona dan Jihyun tidak seharmonis yang kelihatannya. Tiba-tiba ingatannya melayang pada kejadian beberapa tahun lalu, tepatnya saat mereka masih kecil.

Saat itu, Sehun kecil melihat Jihyun memarahi Yoona kecil. Bahkan wanita itu membiarkan gadis kecil berusia 11 tahun itu pulang sendirian.

Tadinya, Sehun ingin menemui Yoona dan mengembalikan ponselnya. Tapi karena kejadian itu, Sehun mengurungkan niatnya dan memilih untuk menunggu gadis itu keluar. Ia tidak terang-terangan menunggunya di depan rumah, lelaki itu tetap di dalam mobilnya yang terparkir di luar pekarangan rumah Yoona.

Tak lama kemudian, retinanya menangkap sosok Yoona keluar dari rumah dengan wajah sembab. Gadis itu berjalan lurus entah ke mana, diam-diam Sehun mengikutinya dari belakang dengan berjalan kaki, ia sengaja meninggalkan mobilnya agar tidak terlalu mencolok.

Sehun berjalan tidak terlalu jauh dari belakang Yoona, dari jarak ini ia bisa mendengar gadis itu terisak kecil dengan bahu yang naik turun. Sehun ingin sekali menyapanya dan bertanya mengenai kejadian tadi, namun sepertinya gadis itu butuh waktu sendiri. Akhirnya Sehun hanya diam dan tetap mengikutinya dari belakang.

_o0o_

Yoona berusaha untuk tidak menangis, namun ia tidak bisa mencegah air matanya keluar. Perkataan ibunya bagai pisau yang menancap dalam di hatinya. Yoona sadar bahwa selama ini Jihyun selalu memperlakukannya berbeda dari adiknya. Ia tidak tahu kenapa, kemungkinan terbesar adalah karena kecelakaan beberapa tahun silam yang menewaskan ayahnya.

Tapi seingat Yoona, bahkan sebelum kematian ayahnya, Jihyun sudah lebih dulu bersikap dingin padanya. Dan sikapnya semakin menjadi-jadi saat Tn. Im meninggal, terlebih hal itu disebabkan oleh Yoona. Walau tidak sepenuhnya salah gadis itu, tapi Jihyun selalu menuduh putri sulungnya sebagai penyebab kematian suaminya.

Flashback On

 

Seorang pria dan gadis kecil berusia sekitar 5 tahun terlihat bergandengan tangan sambil melahap ice cream.

 

“Yoongie senang sekali bisa jalan-jalan bersama appa, selama ini appa selalu sibuk.”

 

“Maafkan appa, ne? Kalau begitu hari ini Yoongie boleh meminta apa saja.”

 

“Apa saja?”

 

“Iya. Apa saja untuk putri appa yang cantik.”

 

“Eumm, Yoongie ingin ke taman bermain yang ada biang lalanya, boleh tidak?”

 

“Baiklah, kita ke sana.”

 

“Gomawo, appa. Yoongie sayang appa.”

 

Gadis kecil itupun masuk ke mobil dan bersiap menuju taman bermain bersama ayahnya. Di dalam mobil, ia bernyanyi lagu anak-anak, sesekali sang ayah mengikuti. Tanpa diduga, dari arah depan muncul mobil truk besar yang melaju kencang ke arah mereka. Kecelakaan tak dapat dihindari.

 

*BRAKK

 

Mobil yang ditumpangi Yoona dan ayanya terguling ke jalanan dan berakhir dengan kondisi rusak parah. Keduanya ditolong oleh warga dan polisis setempat kemudian dibawa ke rumah sakit terdekat.  Beruntung nyawa Yoona selamat, namun tidak dengan ayahnya.

 

Flashback Off

Meningat kejadian mengerikan itu membuat tubuh Yoona mendadak lemah, ia berpegangan pada sebuah pohon untuk menopang berat tubuhnya. Perkataan ibunya dan kecelakaan yang menimpa ayahnya terus berputar di otaknya.

Appa. . hiks. .aku tidak membunuh appa. .hiks. .”

Gadis itu tidak kuat lagi, tubuhnya merosot ke bawah, namun seseorang tiba-tiba datang dan memeluknya. Yoona mengangkat kepalanya lemah, melihat seseorang yang muncul begitu saja. Tangisannya semakin menjadi ketika mengetahui bahwa seseorang itu adalah Sehun.

“Hiks. . .aku tidak membunuh siapa-siapa.”

Sehun mengangguk pelan, ia mengusap puncak kepala gadis itu dan memeluknya kembali.

_o0o_

Sesekali Sehun memperbaiki letak gadis yang sedang berada di punggungnya. Gadis itu tidak pingsan atau semacamnya, ia hanya terlalu lemah untuk berjalan. Tatapannya kosong dan pikirannya melayang entah kemana.

Sehun belum mengeluarkan suara sejak tangisan itu dimulai hingga berhenti. Ia memilih untuk menunggu Yoona menceritakan sendiri, tanpa diminta olehnya. Meski ia sangat penasaran, tapi ia menghormati apapun yang akan dilakukan gadis itu nantinya.

“Sehun ah.”

Lelaki itu menengok, memastikan bahwa yang barusan memanggilnya adalah Yoona.

“Apa benar aku. . .pembawa sial?”

“Tidak.” Ucapnya. “Tapi kau menyebalkan.” Sehun mendengus, ia sedang berusaha mencairkan suasana.

“Dasar tidak tahu diri. Kau juga menyebalkan.”

“Kau lebih menyebalkan.”

“Tidak.”

“Iya. Kau adalah gadis yang pernah mengolok-olok aksen cadelku.”

“A-Apa?” Yoona menatap wajah Sehun dari samping.

Lelaki itu tersenyum, ia berhenti sejenak kemudian memperbaiki kembali tubuh Yoona di punggungnya.

“Anak lelaki cadel yang selalu menatapmu sinis adalah aku, Oh Sehun.” Jelas Sehun. Ia pikir ini saatnya Yoona mengetahui jati dirinya.

“Ba-bagaimana mungkin?”

“Kau selalu memanggilku ‘Thehuuun~ Thehuuun ~’. Dan itu sangat menyebalkan.”

“Kau berbohong.” Tuduh Yoona sambil menggoyangkan kakinya, dan itu membuat Sehun sedikit oleng.

“Aku tidak berbohong.” Elaknya. “Aku dimasukkan ke SD XX oleh ayahku, itu nama sekolahmu ‘kan?”

“I-iya, itu memang nama sekolahku.” Yoona membenarkan. “Tapi aku masih tidak percaya padamu. Kau hanya ingin menghiburku ‘kan?”

“Aku bisa menunjukkan padamu lukisan jelek itu.”

“Ka-kau memilikinya?” Tanya Yoona tak percaya. “Dan, hey! Lukisan itu tidak jelek. Untuk anak umur 11 tahun itu sangat bagus.”

“Kalau tidak jelek, kenapa wajahku yang tampan bisa jadi sangat jelek? Kau menghancurkan maha karya Tuhan.”

“Ckckckck.” Yoona berdecak.

*TUK

“Argh!”

Sehun menatap tajam Yoona yang baru saja menggetok kepalanya, tapi gadis itu membalasnya dengan pelototan mata.

“Di lihat dari sudut manapun kau tetap menyebalkan.” Yoona mendengus pelan kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain.

Setelah berjalan cukup lama, mereka berdua berhenti di sebuah kursi panjang yang berada tepat di bawah pohon. Sehun pergi membeli minuman hangat, sementara Yoona menunggu sendiri di tempat itu.

“. . . .pergi kau dari hidupku, dan jangan ganggu putriku.” Lagi, ucapan menyakitkan ibunya terngiang.

Eomma menganggapku apa?” Tanya Yoona pada dirinya sendiri begitu menyadari bahwa Jihyun menyebut kata ‘putriku’ yang dimaksudkan adalah Seohyun. Itu tidak salah, Seohyun memang putrinya. Tapi, Jihyun berkata ‘putriku’ seolah gadis itu adalah satu-satunya anak yang dimilikinya.

“Untukmu.”

Sehun telah tiba dan menyerahkan satu cup kopi hangat kepada gadis itu, kemudian ia duduk di bagian kursi yang kosong sambil menikmati kopinya. Sehun melirik Yoona, gadis itu hanya menatap kosong ke depan, sedangkan kopinya ia letakkan begitu saja tanpa berniat menyentuhnya.

“Im Yoona?”

“Aku harus pergi.” Yoona beranjak dari tempat duduknya tanpa menatap Sehun sedikitpun. ” . . . .kau juga mau menghancurkan kebahagiaan putriku. . .” Potongan kalimat ibunya membuat langkah Yoona semakin cepat dan tidak menghiraukan Sehun yang terus memanggilnya.

“Kebahagiaan Seohyun.” Gumamnya.

*Grep

Seseorang menarik pergelangan tangannya dan memaksa Yoona berbalik. Gadis itu menemukan raut wajah Sehun yang tampak kesal dan menatapnya tajam.

“Ada apa denganmu?” Tanya lelaki itu dengan nada membentak.

“A-Aku harus pergi.” Yoona berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Sehun, tapi lelaki itu terlalu kuat, cengkramannya tak mengendur sama sekali, dan itu sedikit menyakitkan bagi Yoona.

“Apa ini karena ibumu?”

Pertanyaan Sehun membuat tubuh Yoona mendadak kaku, ia menatap mata lelaki itu mencoba mencari maksud dari pertanyaan Sehun.  Yoona bertanya-tanya apakah Sehun mengetahui sesuatu mengenai hubungan buruk antara dirinya dan Jihyun.

“Kau—“

“Aku mendengar semuanya, kau tidak perlu mengelak.” Potong Sehun cepat.

Yoona menghela nafas pelan, dalam hati ia merutuki lelaki itu. “Aku sudah menyuruhmu pulang.” Ucapnya lemah.

“Ponselmu tertinggal di mobilku, jadi aku kembali.” Jelas Sehun.

“Kalau begitu kembalikan ponselku.”

“Maka kau harus pulang bersamaku.”

_o0o_

Sehun dan Yoona tak ada pembicaraan apapun selama perjalanan pulang. Keduanya sibuk dengan pemikiran masing-masing, hanya suara musik dengan volume kecil yang terdengar. Tak lama kemudian, mobil hitam itu memasuki area halaman rumah keluarga kerajaan.

“Ponselku.” Ucap Yoona. Ia ingin segera turun dan mengistirahatkan diri karena besok pagi ia sudah harus berangkat ke Jepang.

Yak! Kau tidak mendengarku?” Tanya Yoona sekali lagi ketika lelaki itu tidak meresponnya. Kemudian pandangannya tertuju pada benda tipis di dekat stir mobil. Yoona berinisitaif mengambil benda itu karena Sehun tak kunjung bereaksi.

Namun, belum sempat ia menyentuh benda itu, tangannya dipegang dan sesuatu menempel di bibirnya. Gadis itu terkejut, refleks ia hendak mendorong Sehun tetapi lelaki itu menciumnya semakin dalam. Ia tak bisa berbuat banyak ketika Sehun menyentuh tengkuknya dan tidak memberinya ruang gerak.

Akhirnya Yoona memiliih diam, membiarkan Sehun melakukan apa yang sedang ia lakukan. Ciuman Sehun sama seperti malam kemarin, sedikit kasar dan menuntut, namun sarat akan kesedihan.

Setelah cukup lama, Sehun akhirnya melepas pagutan bibirnya dari Yoona. Masih dalam jarak yang sangat dekat, lelaki itu menatap Yoona lekat. Kemudian ia memeluknya dan mendaratkan satu kecupan di kening gadis itu sebelum turun dari mobil.  Yoona menatap punggung Sehun yang berjalan lebih dulu, lelaki itu tidak berbicara padanya sama sekali.

_o0o_

“Jadi ini yang kau lakukan di belakangku?” Ujar gadis itu dengan air mata yang terus membasahi pipi putihnya.

Dengan sedikit kasar ia menutup tirai kamarnya, gadis itu berjalan ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya. Perlahan kedua matanya tertutup sementara bayangan adegan yang baru saja terjadi berputar di kepalanya sampai ia tidur.

TBC

Advertisements

6 thoughts on “You Are My Destiny – 7

  1. weh tmbn udah updet hehe….ap yoona anak tiri dr ibu seo…seo brbh jd jahat pasti….q harap endingny yoona bersatu ma sehun n biarkn yoona bahagia

  2. udah seo sehun itu utk yoona. kasian yoona menderita mulu mana eommanya kaya gitu lagi. sebenernya yoona anak siapa sih? semoga sehun selalu di samping yoona jangan pernah berpaling deh yah

  3. Kok tega banget sih nyonya im sama yoona…yoona diperlakukan seperti anak tiri…untung ada sehun…yg agak sedikit menghibur yoona….ditunggu nextnya….

  4. Aku baru tau ada blog ini, trs aku coba baca2.. Waaaahh cerita’y keren2. Aku smpe terbawa suasana.. Salam kenal buat author.. Aku akn menunggu kelanjutan ff mu.. Semangat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s