Vampire Knight [Eps.2|Season 2]

[REMAKE] Vampire Knight : Guilty

[Eps. 2 | Season 2]

Sehun | Yoona

Vampire Knight©Matsuri Hino

_o0o_

Gadis bersurai coklat itu berjalan beriringan dengan seorang teman karibnya. Gadis itu tampak murung, memikirkan kejadian beberapa hari yang lalu. 

 

Flashback On

 

“Yoona!.”

 

Gadis itu terkejut ketika lelaki yang sedang berbaring di sofa tiba-tiba terjaga sambil meneriakkan namanya.

 

“Chanyeol?” Ucapnya sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, ia baru saja membersihkan diri di kamar mandi.

 

Lelaki itu—Chanyeol—mengusap wajahnya, menggeram pelan. “Ada apa?” Tanya Yoona heran. Namun tidak dijawab, lelaki itu mengubah posisinya menjadi duduk, ia merengkuh tubuh kecil gadis yang sedang duduk di lantai.

 

“Kau hidup.” Gumam Chanyeol. “Aku pikir, aku sudah membunuhmu.” Lelaki itu mempererat pelukannya, membuat Yoona sedikit sesak.

 

“A-Aku tidak bisa bernafas.”

 

Chanyeol pun melepas pelukannya, ia menatap raut wajah khawatir gadis yang sedang memegang kedua sisi wajahnya.

 

“Kau tak apa?” Tanya Yoona.

 

“Ya.” Jawabnya pendek.

 

“Syukurlah.” Senyum mengembang di bibir gadis manis itu.

 

Kedua bola mata Chanyeol tampak berkaca-kaca. “Ya,. Aku ingin kehangatan dan senyumannya.” Ujarnya dalam hati.

 

Kemudian telapak tangannya menyentuh punggung tangan Yoona yang masih setia di pipinya. Sementara tangan yang lain bergerak ke sisi kiri wajah gadis itu diikuti dengan wajahnya yang semakin mendekat. Namun ia berhenti, menjauhkan kembali wajahnya. Chanyeol menjatuhkan wajahnya di bahu gadis itu, helaan nafas berat keluar dari mulutnya.

 

“Tak apa, aku hanya bermimpi buruk.”

 

Flashback Off

 

Yoona menggelengkan kepalanya dengan keras, membuat Seohyun—sahabatnya—menatap aneh ke arahnya. Kemudian raut wajah Yoona kembali sendu. “Ya, Chanyeol hanya banyak pikiran.” Batinnya.

 

Dan kejadian lain terlintas di pikirannya, kejadian dimana nyawanya hampir melayang karena beberapa vampire yang dikirim oleh dewan hendak menyerangnya. Beruntung saat itu Chanyeol ada di sana melindunginya, dan juga. . . . . .Sehun.

 

“Ada apa?” Tanya Seohyun ketika menyadari bahwa gadis di sampingnya berhenti melangkah.

 

“Ti-tidak, sebaiknya kita bergegas sebelum senja.” Jawab Yoona sambil tersenyum aneh.

 

Seorang anak laki-laki yang entah dari mana datangnya menyentuh tangan Yoona sambil menangis, sontak saja gadis itu terlonjak kaget, begitu pula dengan Seohyun.

 

“Ibu. . .hiks. . .”

 

“Kau terpisah dari ibumu?” Yoona berjongkok, menyamakan tingginya dengan bocah itu.

 

“U-Uhm. Antarkan aku ke ibuku. .hiks. .”

 

Yoona berbalik menatap Seohyun. “Kau pulanglah duluan, aku akan mengantar anak ini.”

 

“Kau yakin sendirian?” Tanya Seohyun.

 

“Tentu saja.” Jawabnya sambil tersenyum, kemudian beralih pada bocah di depannya. “Nah, ayo kita cari ibumu.” Sambil menggenggam tangan mungil bocah itu, Yoona berjalan menjauhi Seohyun.

 

_o0o_

 

“Ada perintah dari asosiasi pemburu untuk mengawasi pesta besar vampire.”

 

Chanyeol mengambil kertas yang disodorkan kepala sekolah untuknya kemudian membacanya dengan teliti.

 

“Banyak bangsawan di sana, kau tak akan kesulitan.” Ujar kepala sekolah sambil tersenyum.

 

“Baiklah.” Kemudian Chanyeol meninggalkan ruangan itu.

 

_o0o_

 

“Kita sudah sangat jauh, kau yakin ini jalannya?” Tanya Yoona. Entah sudah berapa jauh mereka melangkah, Yoona sudah merasa kelelahan, namun tak kunjung sampai di tempat yang dimaksud bocah itu.

 

“Ya.” Jawab bocah itu pendek.

 

Sementara di salah satu asrama di Lee’s Academy High School tepatnya di Moon Dorm, para murid Night Class sedang bersiap-siap untuk pesta besar para vampire. Beberapa sudah siap dan hendak berangkat menuju tempat dimana pesta akan dilaksanakan.

 

“Luhan, tuan rumah acara malam ini adalah keluarga Xi, ‘kan?” Tanya seorang pria bersurai orange, ia tampak gagah dengan setelan jas panjang berwarna hitam. Dan di sampingnya berdiri seorang gadis cantik berkulit putih dengan gaun yang sangat cocok di tubuhnya.

 

“Ayahmu juga akan datang, cerialah sedikit.” Ujar Jessica.

 

Luhan menghela nafas pelan, wajahnya tampak lesu. “Justru karena itu.”

 

_o0o_

 

Di sebuah limousine yang menuju tempat pesta, tampak tiga orang pria sedang berbincang kecil di dalamnya.

 

“Kami akan melupakan ‘gangguan’ yang kemarin, dan Park Chanyeol tidak akan dihukum. Asal kau ada di Lee Academy, Tuan Sehun.” Ucap seorang pria paruh baya.

 

“Terima kasih, Young Min.” Balas Sehun.

 

“Aku ingin bilang bahwa jaminan dan pembelaan yang kau berikan untuk teman sekolahmu, sangat kukagumi. Sebagai penerus keluarga Oh, kau mengemban misi perdamaian untuk masa depan.”

 

“Sebenarnya, aku ingin meminta permohonan kepada dewan.” Perkataan Sehun membuat pria di sampingnya—Kai—tertegun. “Mulai sekarang, menjauhlah dari urusan Akademi Lee.” Pria bernama lengkap Kim Young Min itu memicingkan matanya tajam sebagai respon dari perkataan pureblood di hadapannya.

 

“Seperti orang tuaku, aku tak ingin ada pertumpahan darah.” Sehun berucap seperti biasa, tanpa emosi dan minim ekspresi.

 

_o0o_

 

“Huh?”

 

Yoona menatap bangunan tinggi di hadapannya dengan raut wajah bingung. Setelah berjalan jauh, akhirnya mereka berdua sampai di tempat ini.

 

“Apa kau yakin tempatnya di sini?” Tanya Yoona, ia memperhatikan bangunan yang sudah tua dan ditumbuhi tanaman merambat ini dengan raut wajah tak yakin.

 

“Ya. Terima kasih telah mengantarku, kak.” Bocah itu menatap Yoona sambil tersenyum. “Aku sangat takut sendirian.”

 

Gadis itu ikut tersenyum, ia mencondongkan sedikit tubuhnya agar sejajar dekat dengan wajah bocah itu. “Aku akan bersamamu sampai ibumu datang.” Ujarnya.

 

“Kau sangat baik, kak.” Setelah diperhatikan, ternyata bocah itu memiliki warna bola mata yang unik. Yang satu berwarna coklat gelap, dan yang lainnya berwarna abu-abu.

 

Tanpa diduga, bocah itu mendekat ke arah Yoona dan mencium pipinya dengan lama. Gadis itu tertegun, kedua bola matanya yang tadi membulat kaget, kini perlahan-lahan sayu. Bocah itu menyudahi aksinya bersamaan dengan jatuhnya Yoona ke lantai. Gadis itu pingsan.

 

_o0o_

 

“Kenapa Lee Yoona bisa pingsan di sini?” Tanya Kris kepada sahabatnya, Luhan.

 

Entah sudah berapa lama gadis itu pingsan hingga akhirnya kedua pria itu menemukan tubuhnya tergeletak di tempat sepi ini. Ah tidak, ada tiga pria di sana.

 

“Sungguh gadis yang merepotkan.” Ujar seorang pria dengan wajah datar namun cenderung sedih itu.

 

_o0o_

 

Perlahan kelopak mata itu terbuka, menatap ke sekitarnya yang tampak buram. Dan ketika semuanya jelas, ia terkejut mendapati dirinya berbaring di sofa panjang yang berada di ruangan yang tampak asing baginya.

 

Yoona menoleh ke samping dan retinanya menangkap sepasang kaki panjang berada di sofa lainnya. Dan ketika mengetahui siapa pemilik kaki itu, Yoona terkejut dan mendadak gugup.

 

“Syukurlah, kau sudah sadar.” Oh Sehun—pemilik kaki panjang itu—menyapanya.

 

Gadis itu terdiam sejenak, memproses hal yang sedang terjadi. Dan dalam sekejap, ia bangun dari tidurnya dan duduk membelakangi pria itu. “Se-Sehun sunbae.” Kemudian berdiri sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

 

Pandangannya terperangkap pada bola mata coklat Sehun. Tiba-tiba perasaan itu datang, Yoona mendadak pusing dan jatuh, beruntung Sehun segera menangkapnya. Gadis itu memegang erat lengan Sehun. “Te-terima kasih. . . .”

 

“Aku pikir kau tak mau bicara denganku.” Pria itu memotong perkataan Yoona.

 

Setelah pusingnya reda, Yoona menegakkan kembali tubuhnya. “Itu karena. . . .” Ia tampak kikuk. “Sampai kau mengakui Chanyeol bukan pelakunya. . .” Yoona berbalik membelakangi Sehun.

 

“Aku sudah bilang, aku tak bermaksud menjadikannya tersangka. Tapi karena kita belum tau pelaku sebenarnya, aku tak bisa membuat pernyataan pasti. “

 

( Chanyeol dituduh membunuh seorang wanita vampire darah murni yang termasuk dalam jajaran bangsawan vampire tertinggi )

 

“Aku tau itu, tapi. . .” Yoona mendudukkan kembali tubuhnya di sofa.

 

“Di samping itu. . .” Jemari panjang itu bergerak menyentuh dagu Yoona. “. . .apa kau tak berpikir bahwa aku terluka oleh perkataanmu?”

 

( Tuduhan Sehun terhadap Chanyeol membuat Yoona marah dan berkata bahwa ia tak akan berbicara dengan Sehun sampai Sehun mencabut tuduhannya.)

 

“Ta-tapi itu salahmu, Sehun sunbae. . .”

 

“Dan kau tau karena apa?” Sehun menatap lekat manik mata coklat yang sangat disukainya itu, sementara tangannya berpindah dari dagu ke pertengahan dada gadis itu. “Jantungmu berdekat sangat cepat, mungkin kau mengerti perasaanku.” Keduanya berpandangan cukup lama, hingga suara ketukan di pintu mengalihkan perhatian mereka.

 

“Masuklah.” Perintah Sehun.

 

Seorang pria di berdiri di ambang pintu sedang tersenyum. “ Kai sunbae!.” Yoona memekik kaget.

 

“Yoong, kau sudah sadar?” Kai berjalan mendekat. “Apa yang terjadi?” Tanyanya.

 

“Aku mengantarkan anak tersesat ke gedung kosong dan. . .dia mencium pipiku, dan. . .”

 

“Dia pasti anak dari salah satu tamu di pesta ini.” Tebak Kai. “Vampire anak-anak bisa menghisap tenaga manusia.” Lanjutnya. “Ini adalah villa bawah tanah milik keluarga Xi yang dibangun di bawah gedung kosong itu, dan malam ini pesta besar seluruh vampire diadakan di sini.”

 

_o0o_

 

Sementara itu, ruang tempat pesta diadakan sudah mulai ramai oleh para bangsawan. Terlihat murid-murid Lee Academy yang seluruhnya berasal dari Moon Dorm, juga bangsawan lainnya yang usianya di atas mereka.

 

“Aku berharap tak bertemu Young Min di sini.” Ucap Jessica.

 

“Ya, hal aneh akan terjadi.” Tutur Kris. “Luhan, tenanglah sedikit.” Ujarnya pada pria yang sedikit lebih pendek darinya.

 

“Pesta ini diawasi oleh pemburu. Ini perjanjian yang kita buat untuk perdamaian, ingat?” Jessica melirik keberadaan seseorang yang bersandar di dinding. Chanyeol.

 

“Tapi kenapa harus dia?” Luhan berujar kesal. Ia memang tak terlalu menyukai Chanyeol, menurutnya Chanyeol adalah lelaki yang sangat berani—bisa dibilang kurang ajar—terhadap Oh Sehun.

 

Sementara Chanyeol, ia diam mengawasi jalannya pesta. Hingga seseorang menyentuh kepalanya, lelaki itu menoleh dan mendapati gurunya di sana.

 

“Yo, murid bodoh.” Ujar lelaki yang setengah wajahnya ditutupi oleh besi.

 

“Kenapa kau disni?” Tanya Chanyeol.

 

“Aku juga mendapat perintah.”

 

“Aku bisa mengatasinya sendiri.” Chanyeol memberi jeda. “Dan berhenti mengacak rambutku.”

 

Sontak, lelaki itu—Yunho—menyudahi aksinya. “Murid yang dingin.”

 

Yunho berbohong, ia tak mendapat perintah. Namun ia bersikeras untuk menghadiri pesta ini dengan alasan ingin mendata vampire yang ingin hidup berdampingan dengan manusia, meski Lee Soo Man—kepala sekolah—melarangnya .

 

Yunho menatap seorang lelaki paruh baya yang duduk di sudut ruangan dengan segelas minuman berwarna merah di tangannya. “Itu, Young Min. Kenapa anggota dewan ada di pesta ini?” Batinnya bertanya-tanya. “Oh, pasti karena kejadian itu.”

 

_o0o_

 

Sehun berdiri di ambang pintu yang sudah hampir tertutup, menatap ke dalam ruangan di mana sosok gadis manis itu masih betah duduk di sana. “ Jangan ke mana-mana sampai aku kembali.” Ujarnya sebelum menutup rapat pintu itu.

 

Sepeninggal Sehun, tinggallah Yoona sendirian di ruangan besar itu. Ia menatap sekelilingnya, “ruangan tanpa jendela.” Gumamnya,”kenapa rasanya aku tahu ruangan ini?”

 

Dan bayangan itu muncul lagi, seorang wanita berambut panjang mencondongkan tubuh ke arahnya. Yoona tertegun, bayangan itu terasa sangat nyata baginya. Yoona memegang kepalanya, “apa itu?” batinnya.

 

Decitan pintu membuat perhatian Yoona teralihkan, ia menangkap sosok bocah kecil yang memiliki warna mata berbeda. Bocah yang tersesat, dan membuatnya pingsan beberapa saat yang lalu. Yoona beranjak dari tempatnya hendak mendekati bocah itu.

 

“Kakak manusia, maaf yang tadi.” Tatapannya sedih dan sedikit takut.

 

“Jadi kau ini vampire?” Yoona tersenyum raham ketika menyadari raut wajah bocah itu. “Ibumu sudah ketemu. . .” Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, bocah itu menutup pintu dan pergi.

 

Yoona mengikutinya, namun bocah itu menghilang dengan cepat. Pencariannya terhadap bocah itu membawa Yoona pada sebuah ruangan yang dipenuhi cahaya. Dengan ragu, Yoona mendekat, dan dari sini ia melihat ke bawah, dimana pesta vampire sedang berlangsung.

 

Pesta vampire?” Batinnya. “Tapi ada aktor dan penyanyi terkenal juga.” Ia kebingungan, ia pikir ini pesta khusus vampire. “Dan juga pengusaha. Apa mereka semua vampire?”

 

Tanpa sengaja ia menangkap keberadaan Chanyeol yang sedang berjalan-jalan di antara tamu pesta. Dengan cepat Yoona merosotkan tubuhnya hingga tersembunyi di balik pagar pembatas di lantai dua.

 

“Kenapa. . .” Ia mengintip dari balik pagar pembatas, ingin memastikan bahwa yang ia lihat adalah benar Chanyeol. “Kenapa Chanyeol ada di sini? Dia bukan undangan ‘kan? Tugas malam ini pasti mengawasi.” Yoona menatap sendu lelaki itu, hingga kejadian dimana Chanyeol hendak menciumnya kembali terlintas di kepalanya.

 

Kenapa aku terus teringat itu?” Ia menggelengkan kepalanya.

 

_o0o_

 

Sehun muncul di ruangan itu, ia tampak sangat tampan dan gagah. Bersama Kai yang berdiri di sampingnya. Perhatian terpusat kepada mereka. Para tamu undangan meletakkan tangan kanan di dada sebelah kiri sambil berlutut dengan satu kaki. Itu adalah bentuk penghormatan kepada bangsawan tertinggi.

 

Terlihat Chanyeol tetap berdiri, pandangannya bertemu dengan sosok lelaki paling dihormati. Sudah menjadi hal yang biasa melihat Chanyeol seperti itu. Chanyeol adalah pemburu vampire, dan kebenciannya terhadap ras vampire sudah mendarah daging. Meski ia juga seorang vampire, lebih tepatnya manusia yang telah digigit oleh makhluk penghisap darah.

 

“Aku minta maaf, aku tidak bermaksud menganggu.” Ucap Sehun. “Lanjutkan saja pestanya.”

 

“Tuan Sehun, apa benar anda menentang dewan dan membela manusia?” Tanya seorang tamu.

 

“Ya, itu benar.” Bukan Sehun yang menjawab, melainkan tamu lain.

 

“Tuan Sehun sangat hebat, dia mau kita berjalan bersama.”

 

Seorang pria paruh baya mendekati Sehun, tak lupa memberi hormat padanya.” Tuan, terima kasih telah menjaga putraku.” Pria itu adalah ayah Luhan.

 

“Terima kasih atas jamuannya, Zhoumi.” Balas Sehun. “Aku tidak akan bisa menyelenggarakan pesta seperti ini.”

 

“Tidak perlu dipikirkan.” Ucap Xi Zhoumi. “Tapi aku punya permintaan special.” Pria itu menatap seorang gadis yang berdiri di sampingnya. “Jieqiong.”

 

“A-ayah!” Luhan tahu maksud ayahnya.

 

“Ini putriku, Jieqiong. Aku harap kau bisa akrab dengannya nanti”

 

“Ayah, hentikan!” Luhan terlihat gusar. Ia beralih menatap Sehun, “Tuan Sehun, maaf atas kelancangan ini.” Kemudian membungkukkan tubuhnya.

 

“Aku tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi akan kupikirkan.”

 

Dan perkataan Sehun yang terdengar bersahabat membuat para orang tua yang lain memperkenalkan putri mereka kepada bangsawan paling dihormati itu. Sementara di atas sana, Yoona melihat kejadian itu dengan raut wajah yang sulit diartikan.

 

“Tuan Sehun sudah berubah.”

 

“Benar, dulu dia akan langsung menolak.”

 

“Sekarang, dia mengerti kewajiban darah murni.”

 

Yoona tampak lesu, ia pun memilih meninggalkan tempatnya. Bertepatan dengan itu, Sehun mengangkat wajahnya melihat sosok gadis berperawakan ramping itu perlahan menghilang  dari pandangannya.

 

_o0o_

 

Yoona kembali ke ruangan tadi, ia menutup pintu dengan pelan, kemudian bersandar di sana. Perlahan tubuhnya merosot hingga terduduk di lantai.

 

Aku tau ada perbedaan besar di antara kita.” Ia memeluk lututnya. “Tapi, aku berharap aku tak tahu.” Kedua matanya terpejam.

 

*ceklek

 

Seseorang membuka pintu dari luar, membuat Yoona segera berdiri dari tempatnya. Dia adalah Sehun, lelaki  meminta izin untuk masuk dan Yoona mengizinkannya. Gadis itu memperhatikan Sehun yang sedang menutup pintu.

 

“Sudah kubilang jangan ke mana-mana.” Ucap lelaki bertubuh tinggi itu.

 

“Ma-maaf.” Yoona menatap lelaki itu sejenak, kemudian menundukkan kepalanya ketika Sehun mendekat.

 

Yoona mengangkat kembali wajahnya, dan ia mendadak gugup ketika melihat Sehun semakin mendekat, hingga akhirnya ia berhadapan dengan dada lelaki itu. Yoona hanya diam ketika tubuh kecilnya direngkuh dengan hati-hati, dan ia merasa puncak kepalanya diberi beban. Lelaki itu menumpukkan dagunya di sana.

 

“Tidak. Tak akan kumaafkan hanya dengan kata maaf.” Ujar Sehun pelan.

 

“Huh? Oh. . .” Yoona memekik pelan ketika merasakan tubuhnya tak lagi berpijak di lantai.

 

Masih dengan memeluk Yoona, Sehun mengangkat gadis itu dan membaringkannya di sofa. Sehun duduk di dekat kaki gadis itu dan meletakkan kedua tangannya di sisi tubuh Yoona, mengurungnya.

 

“Kenapa kau pergi?” Tanya Sehun sambil menatap lekat wajah cantik gadis itu.

 

Berada dalam posisi yang cukup intim ini membuat pipi Yoona memerah, ia bahkan tak sanggup membalas pandangan Sehun yang sangat intens kepadanya.

 

“Anak. . .anak yang tersesat. . .” Ia bahkan tidak berbicara dengan benar. “. . .aku hanya penasaran. . .”

 

_o0o_

 

“Begitu, ya.” Gumam Yunho. “Tapi jangan lakukan hal yang ceroboh.” Ia menyentuh rambut Chanyeol. “Itu akan membuat anggota kedisiplinan kecil itu khawatir.”

 

“Dia tidak kecil.” Bantah Chanyeol. “Bagiku, keberadaannya sangat besar.” Ucapnya dengan yakin.

 

Sementara anggota kedisiplinan yang dimaksud sedang berusaha menenangkan dirinya ketika Sehun merendahkan tubuh ke arahnya, hingga akhirnya lelaki itu mengistirahatkan kepalanya di dada Yoona.

 

“Se-Sehun sunbae.”

 

“Sampai kumaafkan, tetaplah seperti ini sebentar saja.” Kedua mata Sehun berkaca-kaca. “Aku lelah.” Dan pria itu memejamkan matanya.

 

Kegugupan Yoona mulai hilang, ia tersenyum lembut. “Tentu, akan kulakukan apapun untukmu, Sehun sunbae.” Kedua tangannya memeluk leher Sehun dan ikut memejamkan mata. Keduanya tampak nyaman berlama-lama dalam posisi seperti itu.

 

Aku menyukaimu, Sehun sunbae. Kau adalah awal hidupku. Walaupun masa laluku hanyalah tempat kosong, aku tak peduli.” Batin Yoona.

 

Salah satu tangan gadis itu terangkat dan berpindah ke wajahnya, tepatnya di kedua matanya. Sehun yang menyadari itu langsung mengangkat wajahnya.

 

“Yoona. . .”

 

“Aku putuskan untuk tidak memanggilmu ‘Tuan Sehun’ karena kupikir kita dekat.” Yoona menyingkirkan lengannya hingga menampakkan kedua matanya yang terpejam. “Tapi sekarang sudah tak sama.” Kedua ujung matanya tampak basah. “Saat aku menyadarinya, aku malah membohongi diriku sendiri.” Ucapnya masih dengan mata tertutup.

 

Sementara Sehun tak terlalu fokus mendengarkan, pandangannya terkunci pada leher jenjang putih yang tampak sangat menggiurkan. Tanpa sadar, kedua bola mata coklatnya berubah menjadi semerah darah.

 

“. . .aku tak pernah melupakan kebaikanmu. . .” Yoona terus berbicara. “Dan juga. . . .” Kedua mata gadis itu terbuka ketika merasakan rambut Sehun di sekitar pipi dan lehernya. Barulah ia menyadari bahwa kini lelaki itu berhadapan tepat dengan lehernya.

 

“Sehun sunbae. . .”

 

Tubuh gadis itu menegang, dengan refleks ia menjenjangkan lehernya ketika merasakan jilatan halus di kulit lehernya. Kepalanya mendongak, sedikit tertekuk ke belakang. Sehun mengangkat wajahnya, kedua bola mata merahnya menatap Yoona, dan ia merasakan lengannya dicengkram oleh gadis itu. Kesadaran Sehun kembali, lelaki itu mengepalkan tangannya. Dengan segera ia menegakkan kembali tubuhnya.

 

“Bagi ‘kami’, kalian hanyalah makhluk yang cepat berlalu, yang hanya lewat dalam hidup kami.” Bola matanya masih berwarna merah, terlihat mengerikan, namun tatapannya sendu, menunjukkan kesedihan yang teramat sangat.

 

“Kau mau jadi vampire?” Tanya Sehun. “Kau mau jadi monster penghisap darah sepertiku. . .” Lelaki itu kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Yoona. “. . .dan hidup abadi selamanya?”

 

Yoona seperti terhipnotis, sementara wajah lelaki itu kini berada di lehernya. “Y-Ya. . .” Jawab Yoona. Tanpa diminta ia menjengjangkan lehernya, mempermudah Sehun yang sudah memunculkan taringnya.

 

Tinggal sedikit lagi hingga taring itu menembus kulitnya, namun Sehun berhenti. Isakan kecil gadis itu membuat Sehun berhenti. Jemari panjangnya menyentuh pipi Yoona dan menghapus air matanya. Pergerakan lelaki itu membuat mata Yoona yang tadinya terpejam, kini menatap lelaki itu penuh tanya.

 

“Maaf.” Tak ada lagi bola mata berwarna merah. “Hukuman ini sudah kelewatan.” Sehun menatapnya lembut.

 

Yoona mengubah posisinya menjadi duduk. “Maaf menakutimu.” Sehun menyentuh belakang kepala gadis itu dan mencium rambutnya.

 

“Sehun sunbae, aku. . .”

 

“Kenapa wajahmu seperti itu?” Ada senyuman tipis di wajah memikat itu. “Lain kali, jangan pergi ke tempat berbahaya sendirian. Dan sekarang, waktunya kau pulang.”

 

_o0o_

 

Kepala sekolah sekaligus ayah angkat Yoona—Lee Soo Man—berdiri di halaman menyambut kepulangan Yoona. Juga ada sahabat karib Yoona di sana, Seohyun.

 

“Selamat datang, Yoona.” Seohyun memegang tangan gadis itu.

 

“Maaf membuatmu khawatir.”

 

Butiran salju kecil turun dengan sangat banyak, Yoona mendongakkan wajahnya ke langit gelap.

 

Salju yang putih mengingatkanku tentang darah yang merah. 10 tahun lalu, percikan darah itu dan laki-laki yang berlumuran darah meraih tanganku. Selama ada Tuan Sehun, aku tak takut apapun. Akan kulakukan apapun untuknya.

 

Fin.

Advertisements

5 thoughts on “Vampire Knight [Eps.2|Season 2]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s