You Are My Destiny – 8

YAMD – 8

Sehun | Yoona

Standard Disclaimer Applied

_o0o_

Kini Yoona sudah berada dalam pesawat yang akan membawanya terbang ke Jepang, tak ada seorangpun yang mengantarnya ke bandara tadi. Seohyun menelponnya beberapa saat yang lalu, begitu juga dengan Seunghoon.

 

Yoona tidak bertemu Sehun pagi ini, entah ke mana perginya lelaki itu. Mengenai ibunya, sudah pasti wanita itu tidak  menelepon apalagi mengantarnya.

 

_o0o_

 

Yoona menatap langit kota Tokyo yang cerah, gadis itu tersenyum-senyum hingga membuat beberapa orang menatapnya aneh.Tiba-tiba ponsel di dalam sakunya bergetar.

 

“Halo, oppa.” Kris yang menelepon.

 

“Kau sudah sampai?”

 

Daebak! Dari mana oppa tau?”

 

“Hanya menebak.”

 

“Dan tebakan oppa benar.”

 

“Kau sedang apa sekarang?”

 

“Menunggu bis.”

 

“Baiklah, aku tutup dulu. Kabari aku kalau sudah sampai di tempat tinggalmu.”

 

“Iya, akan kukabari.”

 

Tak lama setelah Yoona menutup teleponnya, bis yang ditunggu pun tiba. Bersama beberapa penumpang lainnya, Yoona masuk ke dalam dengan sedikit kesusahan karena harus mengangkat koper besarnya.

 

Yoona tidak terlalu khawatir mengenai bahasa, karena ia bisa berbahasa Jepang walau tidak fasih. Melalui komik dan anime yang ditontonnya, Yoona sedikit banyak mengerti dengan bahasa negeri matahari terbit itu.

 

_o0o_

 

Seorang lelaki duduk termenung di bawah pohon, entah sudah berapa kali ia menghela nafas. Di sampingnya tergeletak sebuah benda tipis yang jika diperhatikan lebih dekat, di layarnya terdapat video yang dipause. Di tangan lelaki iitu terdapat selembar kertas kusam dengan beberapa garis-garis bekas lipatan.

 

“Sehun oppa.”

 

Seorang gadis dengan tubuh tinggi semampai berdiri di samping lelaki itu. Merasa tak direspon, gadis itu ikut duduk.

 

“Aku mencarimu sejak tadi.”

 

“Ada apa kau mencariku?”

 

“Sehun oppa!.”

 

Seohyun merebut kertas di tangan Sehun, dan itu berhasil membuat Sehun menoleh padanya. Lelaki itu menatap Seohyun tajam kemudian merebut kembali kertas itu, namun cepat-cepat Seohyun menyembunyikan kertas itu di belakangnya.

 

“Kembalikan padaku!.”

 

“Tidak sebelum oppa menceritakannya padaku.”

 

“Menceritakan apa?”

 

“Lukisan ini pemberian Yoona unnie kan?”

 

“Bukan urusanmu.”

 

“Tapi ini buatan Yoona unnie waktu masih kecil. Jadi, bagaimana bisa Yoona unnie memberikannya padamu waktu kecil?”

 

Sehun menghela nafas pelan sebelum akhirnya lelaki itu menceritakan tentang hubungannya dengan Yoona yang sudah ada sejak mereka masih belia. Tanpa sadar lelaki itu bercerita sambil tersenyum ketika mengingat masa-masa itu. Mereka hanya bersama selama dua hari, namun tak disangka sejak hari itu benang merah mulai terbentuk dan menghubungkan mereka hingga dipertemukan kembali.

 

_o0o_

 

Hari ini adalah hari pertama Yoona mulai belajar di sekolah khusus yang mempelajari tentang dunia animasi, mulai dari hal paling dasar hingga bisa memproduksi suatu hasil karya.

 

Gadis itu menatap bangunan di depannya dengan rasa kagum. Yoona sangat bersemangat,sejak memasuki gedung ia tak hentinya berdecak kagum melihat interior dalam gedung yang sangat animatis.

 

Saking asiknya, Yoona tak sengaja bertabrakan dengan seseorang. Semua benda-benda di tangannya jatuh ke lantai, buru-buru gadis itu berjongkok dan memungut semua benda miliknya.

 

“Ma-maafkan aku.” Ucap seseorang yang menabrak Yoona dalam bahasa Jepang.

 

Setelah memungut semuanya, gadis itu menegakkan kembali tubuhnya dan menatap si pelaku. Beberapa mereka hanya saling diam, si penabrak menatap Yoona intens, dan itu membuat Yoona kurang nyaman.

 

“Ada apa?” Tanya Yoona pada si pelaku ( Dalam bahasa Jepang)

 

Tapi kemudian Yoona menyadari bahwa lelaki yang menabraknya tadi terlihat tidak seperti orang Jepang, menurutnya lelaki itu lebih mirip orang Korea. Dan juga, entah kenapa Yoona merasa familiar dengan wajahnya.

 

“Aku seperti mengenalmu.” Ucap lelaki itu (bahasa Jepang)

 

“Maaf, kau terlihat tidak seperti orang Jepang. “ Sahut Yoona (Bhs. Jepang)

 

“Aku orang Korea.” Jawab lelaki itu dalam bahasa Korea.

 

Yoona tersenyum, ia bersyukur akhirnya bertemu dengan orang yang satu Negara dengannya. Yoona pun memperkenalkan dirinya dalam bahasa Korea.

 

“Tunggu, namamu Yoona?”

 

Gadis itu mengangguk. “Benar, aku Im Yoona.”

 

“Kau pernah bersekolah di SD XX?” Tebak lelaki itu tak yakin.

 

Yoona sedikit terkejut. “Bagaimana kau tau?”

 

“Im Yoona, yang suka membawa lari komikku.”

 

Yoona menatapnya bingung, setelah mencerna perkataan lelaki itu, raut wajahnya berubah dan berganti dengan senyuman

 

“Park Dobi?”

 

Lelaki itu tersenyum lebar, keduanya berpelukan erat seperti teman lama yang baru bertemu, walau memang kenyataannya seperti itu. Masih merasa tak percaya, Yoona mencubit kedua pipi lelaki itu dan meneliti penampilannya dari atas ke bawah.

 

“Ya Tuhan, bagaimana bisa kau jadi setinggi ini?” Tanya Yoona heran.

 

“Aku memang sudah tinggi sejak dulu.”

 

“Dan gendut, jangan lupa.”

 

“Hanya sedikit lebih besar dari anak seumuranku.”

 

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Yoona lagi.

 

“Memangnya apa lagi? Aku belajar di sini.”

 

“Benarkah? Waaah, kurasa ini akan menyenangkan.”

 

Keduanya pun larut dalam pembicaraan yang seru, mengenang kembali masa kecil mereka yang penuh kekonyolan, dan sampai akhirnya mereka berdua bisa bertemu di tempat ini. Yoona tidak menyangka bahwa Park-Dobi-Chanyeol memiliki keseriusan dalam bidang ini. Karena saat kecil dulu, lelaki itu hanya hobi membaca komik, tapi tidak menunjukkan minat dalam mempelajarinya pembuatannya.

 

_o0o_

 

Akhir-akhir ini Sehun semakin sibuk dengan kuliahnya, ada dua alasan. Pertama ia ingin cepat-cepat selesai dan menggantikan ayahnya, yang kedua adalah ia tidak ingin terlalu larut memikirkan seseorang yang jauh di sana.

 

Jika mau, Sehun bisa saja menghubunginya. Tapiada beberapa pertimbangan, diantaranya adalah Sehun takut tidak bisa menahan dirinya. Sehun merindukan gadis itu, dan dia tidak mengelaknya. Yang ia lakukan hanyalah melihat beberapa foto dan video di ponselnya yang ada Yoona di dalamnya.

 

_o0o_

 

Jihyun membuka pintu rumahnya, wanita itu tersenyum melihat siapa yang berdiri di hadapannya.

 

“Putriku.” Jihyun bergerak memeluk Seohyun, gadis itu pun membalas pelukan ibunya. “Eomma senang kau datang.” Keduanya berjalan masuk ke dalam rumah.

 

Seohyun menuju ke kamarnya, tinggal bersama keluarga kerajaan membuatnya merindukan kamarnya. Jihyun tersenyum kecil melihat Seohyun membaringkan tubuhnya di tempat tidur sambil memeluk boneka-bonekanya.

 

“Yoona unnie sudah—“

 

“Jangan menyebut nama itu.” Potong Jihyun cepat.

 

“Ada apa, eomma?” Tanya Seohyun bingung. Perlu diketahui bahwa sejak kecil hingga sekarang, Seohyun sudah mengetahui tentang hubungan kurang harmonis antara ibunya dan Yoona. Meski begitu, ia tak pernah bertanya kenapa.

 

Eomma tidak mau mendengar nama si pembunuh itu.”

 

Eomma!.” Bagaimanapun Seohyun sangat menyayangi kakaknya. Gadis itupun tau bahwa selama ini ibunya terus-terusan menyalahkan Yoona tentang kematian ayah mereka. Seohyun juga selalu memberi pengertian pada Jihyun agar tidak menyalahkan siapa-siapa, tapi wanita itu tidak pernah mendengarkan.

 

“Sudahlah, kau tidak usah membelanya lagi. Dia tidak lebih dari perempuan licik yang membunuh ayahmu dan ingin merebut Sehun darimu.”

 

“Me-Merebut Sehun? Apa maksud eomma?”

 

“Gadis tidak tau diri itu berusaha mendekati putra Yang Mulia. Kau tidak tau ‘kan? Selama ini dia hanya berpura-pura baik di hadapanmu, di hadapan kita semua.”

 

Seohyun hanya diam tak menanggapi perkataan ibunya. Gadis itu bimbang, hatinya percaya pada sosok kakak yang sangat tulus menyayanginya, namun ketika mengingat potongan-potongan kejadian antara Sehun dan Yoona—mulai dari memberi perhatian kecil hingga berciuman—Seohyun tidak bisa menampik bahwa perkataan ibunya ada benarnya.

 

“Apa benar selama ini unnie—“ Gadis itu menggelengkan kepalanya berusaha menghilangan pikiran buruk, ia mencoba untuk tetap mempercayai kata hatinya.

 

“Dia itu sangat licik dan berusaha menjerat putra Yang Mulia. Apa kau tidak menyadarinya?” Tanya Jihyun berapi-api. “Im Seohyun, ada sesuatu yang ingin eomma katakan padamu.”

 

_o0o_

 

Taburan bintang di langit Seoul menjadi pemandangan yang cukup menarik bagi seorang pria yang berbaring telentang di sebuah trampoline. Pikirannya melayang jauh pada sebuah kejadian yang terjadi di tempat ini.

 

“Apa yang sedang kau lakukan sekarang, huh?” Tanyanya entah pada siapa.

 

“Kau sangat pelupa, apa sekarang kau sudah melupakanku?”

 

“Akan kutinju kepala bodohmu itu kalau sampai kau melupakanku.”

 

Lelaki itu terus bermonolog, tak menyadari bahwa ada orang lain berada tak jauh darinya. Seunghoon menggelengkan kepala melihat tingkah putranya. Seunghoon merasa bahwa putranya menjadi sedikit lebih pendiam, mungkin karena korban kejahilannya sudah tak bersamanya.

 

Tanpa bertanyapun Seunghoon sudah tahu bahwa Sehun sedang jatuh cinta. Namun putranya itu sedikit tidak beruntung, karena disaat bersamaan putranya itu harus merelakan orang yang dicintainya pergi jauh.

 

Jujur saja Seunghoon tidak pernah mempermasalahkan perempuan mana yang harus menjadi calon pendamping putranya. Asalkan Sehun mencintai perempuan itu dan sebaliknya, maka Seunghoon akan mendukungnya.

 

Aigoo, apa yang dilakukan Oh Sehun malam-malam begini?” Tn. Oh menampakkan dirinya, ia tersenyum melihat raut keterkejutan di wajah Sehun.

 

A-Abeoji.” Sehun mengubah posisinya menjadi duduk.

 

“Kalau rindu telepon saja, daripada tersiksa begini.” Goda Tn. Oh.

 

“Rindu? Aku tidak merindukan Yoona.” Elak Sehun.

 

“Aku tidak bilang kau merindukan Yoona.” Tn. Oh tersenyum jahil.

 

“Ck! Menyebalkan.” Sehun mendengus pelan.

 

“Dua tahun lagi, Oh Sehun.”

 

_o0o_

 

Waktu demi waktu berlalu, Yoona semakin sibuk menjalani aktivitasnya. Ditambah lagi beberapa hari yang lalu ia sudah mendapatkan sebuah proyek. Yoona sangat senang dan sangat bersemangat mengerjakan proyek yang dipercayakan padanya.

 

“Kau masih di sini?”

 

Gadis itu menangkat wajahnya dan menemukan sosok lelaki bertubuh tinggi di ambang pintu. “Aku masih harus menyelesaikan ini. Kau duluan saja.”

 

Yoona dan Chanyeol memang selalu pulang bersama.Namun akhir-akhir ini keduanya sedikit jarang bertemu, Chanyeol juga mendapat proyek sama seperti Yoona.

 

“Ayolah, sebentar lagi tengah malam.”

 

Gadis itu menghentikan kegiatannya, ia melihat jam digital di ponselnya dan menyadari bahwa perkataan Chanyeol benar. Sebelum pergi, ia membereskan mejanya dan tak lupa mengambil tas selempangnya.

 

_o0o_

 

Seperti biasa, Chanyeol singgah di tempat tinggal Yoona. Dalam perjalanan pulang, keduanya membeli makanan dan menyantapnya bersama-sama. Yoona dan Chanyeol selalu ribut, Chanyeol yang lucu dan konyol, serta Yoona yang saat tertawa mengeluarkan suara yang besar.

 

“. . .hahaha. . .keterlaluan sekali, bagaimana bisa dia sebodoh itu.” Yoona tertawa mendengar cerita lucu Chanyeol.

 

“Oh ya, apa kau masih ingat dengan Oh Sehun?”

 

“. . .haha—uhuk uhuk. . .” Tiba-tiba Yoona tersedak, buru-buru Chanyeol memberinya air minum. “Siapa katamu?”

 

“Oh Sehun. Si cadel itu.”

 

“Tentu saja aku mengingatnya.” Jawab Yoona, gadis itu mendadak kalem. Entah kemana tawa aligatornya yang tadi.

 

“Saat aku memberikan gambarmu padanya, si cadel itu meremasnya dan membuangnya ke tempat sampah. Keterlaluan sekali.”

 

“Be-benarkah?” Tanya Yoona tak yakin. Kemudian ia teringat akan Sehun yang berkata bahwa lelaki itu masih menyimpan lukisan pemberiannya. Tapi barusan Chanyeol mengatakan yang sebaliknya. Yoona menjadi sedikit bingung.

 

“Makanannya sudah habis. Cepat pulang sana!.”

 

“Huuu, kau ini.” Chanyeol mendorong jidat Yoona dengan telunjuknya. “Tidak bisakah kau bersikap lebih sopan padaku?”

 

“Cepat pulang! Aku lelah sekali, mau tidur.”

 

“Iya, iya. Aku pulang.”

 

_o0o_

 

Yoona memang sangat lelah, tapi matanya tak bisa tidur. Chanyeol yang menyinggung tentang Sehun menjadi alasan ia menjadi sulit tidur. Tiba-tiba Yoona bertanya-tanya mengenai apa yang dilakukan Sehun sekarang, juga bayangan tentang lelaki itu yang memeluk dan menciumnya.

 

“Aku sudah gila.” Gadis itu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Saat matanya sudah mulai terpejam, tiba-tiba ponselnya berdering.

 

“Sialan! Siapa yang berani menelepon tengah malam begini?” Dengan kesal Yoona meraih ponselnya di atas meja.

 

Yak! Ini sudah tengah malam.” Ucap Yoona tanpa basa-basi.

 

“Wow, wow. Calm down, little rascal.”

 

Yoona mengecek kembali layar ponselnya, ia baru sadar bahwa yang menelepon adalah seseorang di Amerika sana.

 

Oh, maaf. AKu lupa tentang perbedaan waktunya. “ Yoona bisa membayangkan bahwa Kris sedang cengengesan.

 

“Hum. Ada apa kau meneleponku?”

 

“Tak terasa kau sudah 6 bulan di Jepang, apa kau makan dengan baik?”

 

“Tentu saja. Aku mendapat uang bulanan yang sangat cukup.”

 

“Baguslah. Kalau begitu aku tutup dulu, jaga dirimu baik-baik.”

 

“Hmm.”

 

Yoona menyimpan kembali ponselnya di tempat semula. Kini hal lain mengganjal pikirannya, ia merasa bahwa Kris sangat memperhatikannya.

 

“Jangan-jangan Kris menyukaiku.” Buru-buru gadis itu menggelengkan kepalanya, ia merasa sedikit geli dengan pemikirannya yang tadi.

 

Kemudian tangannya tergerak mengambil kembali ponselnya di meja, sekarang ia menatap sebuah foto dirinya dan Sehun saat berada di Namsan Tower.

 

“Ternyata si Oh Sehun itu tampan juga.” Gumamnya. Entah bagaimana gadis itu baru menyadari bahwa lelaki yang merebut ciuman pertamanya itu memiliki wajah yang sangat rupawan. Memang waktu kecil Yoona sudah menyadari bahwa Sehun tampan, tapi setelah dilihat lagi, lelaki itu menjadi lebih tampan dari sebelumnya.

 

“Tapi tetap saja dia menyebalkan.”

 

_o0o_

 

Seohyun menatap seorang lelaki yang duduk sendirian sambil menonton pertandingan baseball. Jantungnya berdegub kencang, dan itu selalu terjadi setiap ia melihat atau memikirkan lelaki itu. Seohyun merasa hamper gila dengan perasaannya. Ia sangat mencintai lelaki itu.

 

Kau adalah satu-satunya orang yang berhak mendampingi Sehun.” Seohyun teringat perkataan ibunya.

 

“Baiklah. Akan kubuat dia menjadi milikku.”

 

Seohyun berjalan mendekati Sehun, ia duduk di samping lelaki itu. Sehun melihatnya sebentar kemudian terfokus kembali pada layar televisi.

 

“Apa kau sudah makan?” Tanya Seohyun sekadar basa-basi.

 

“Aku makan di luar tadi.” Jawab Sehun.

 

“Sehun oppa.”

 

Lelaki itu sedikit terkejut saat Seohyun memegang tangannya, namun ia mencoba bersikap biasa. Dan tanpa diduga gadis itu bersandar di bahunya. Sehun tidak bereaksi, ia berpikir bahwa Seohyun mungkin sedang butuh sandaran.

 

“Aku menyayangimu, oppa.”

 

“Aku juga menyayangimu.” Sehun mengusap pelan rambut gadis itu.

 

Iya, kau menyayangiku sebagai adik. Dan aku tidak suka itu.” Batin Seohyun.

 

_o0o_

 

Keesokan harinya, Sehun bangun pagiseperti biasa. Kemudian sarapan bersama sebelum berangkat ke kampus dengan Seohyun. Namun ada yang aneh, sesampainya di kampus, Sehun merasa bahwa orang-orang memperhatikannya sambil tersenyum-senyum dan berbisik. Dan ia mencoba untuk tidak peduli.

 

“Hey, bro! Kau sudah datang rupanya.” Seorang lelaki berperawakan tinggi dan berkulit sedikit kecoklatan menghampiri Sehun.

 

“Ada apa?”

 

“Seharusnya aku yang bertanya. Ada apa denganmu? Kenapa kau menyembunyikan hubunganmu dengan Seohyun?”

 

“Hubungan apa maksudmu?”

 

“Semua orang sudah tau, kau berpacaran dengannya kan? Bahkan ada kabar yang menyebutkan bahwa kalian akan segera menikah.”

 

“Aku tidak menyangka ternyata kau seorang penggosip.”

 

Yak! Aku hanya menyampaikan apa kata orang-orang.”

 

Sehun memilih untuk tidak meladeni pria itu. Tapi, hal itu mengganggu pikiran Sehun. Hubungan antara dirinya, Seohyun, Yoona dan Kris masih dirahasiakan. Dan entah bagaimana sebuah berita yang tidak sepenuhnya benar telah tersebar.

 

_o0o_

 

“Apa benar kau berpacaran dengan putra Yang Mulia Seunghoon?” Tanya seorang perempuan pada Seohyun.

 

“I-Itu, kami—“

 

“Aigoo, betapa beruntungnya dirimu.”

 

Seohyun hanya tersenyum kecil, sejujurnya ia bingung dengan berita-berita yang tersebar mengenai dirinya dan Sehun. Tapi tak dapat dipungkiri bahwa ia merasa senang. Seohyun jadi penasaran dengan reaksi Sehun ketika mengetahui kabar-kabar itu.

 

“Oh, dia datang. Aku pergi dulu. ” Perempuan yang duduk di sebelah Seohyun tadi berseru heboh, buru-buru ia meninggalkan tempat duduknya dan pergi menjauh.

 

“Kau sudah tau?” Tanya Sehun to the point.

 

“Y-Ya, aku baru saja mengetahuinya.”

 

“Ck! Siapa yang menyebarkan berita itu?” Sehun menggerutu.

 

“Kau tidak senang?” Tanya Seohyun hati-hati.

 

“Tentu saja. Maksudku, itu tidak terlalu bagus. Aku khawatir akan semakin banyak orang yang tahu tentang ini.”

 

Berbeda dengan Sehun, gadis itu malah berharap semakin banyak yang tau maka semakin baik. Dan apa yang diharapkannya benar-benar terjadi. Sejak berita itu muncul, mereka selalu menjadi bahan pembicaraan. Taka da statement jelas yang keluar dari mulut Sehun atau Seohyun, karena memang berita itu tidak sepenuhnya salah.Dan karena itu pulalah, keduanya kerap menampilkan skinship di depan umum, seperti bergandengan tangan saat jalan bersama.

 

_o0o_

 

Senyum terus mengembang di wajah wanita paruh baya itu. Televisi di depannya sedang menampilkan siaran gossip, namun ia tidak memperhatikan sama sekali.

 

“Berbahagialah, sayang. Ini baru permulaan.” Ujarnya.

 

Jihyun begitu senang ketika mendapat telepon dari Seohyun beberapa saat yang lalu. Seohyun bercerita tentang hubungannya dan Sehun yang menunjukkan sedikit kemajuan. Seohyun juga memberitahu ibunya tentang berita yang tersebar.

 

_o0o_

 

Yoona berhigh-five dengan Chanyeol, keduanya sangat senang karena proyek mereka mendapat tanggapan yang bagus dari produser.Sebagai perayaan, kali ini Yoona yang mentraktir Chanyeol di salah satu restoran siap saji.

 

“Aku berharap kita bisa bekerja sama di proyek yang sesungguhnya.” Ujar Yoona.

 

“Aku juga mengharapkan itu.” Chanyeol meminum minuman bersodanya. “Oh ya, aku punya berita mengejutkan.”

 

“Apa itu?”

 

“Ternyata si cadel itu adalah seorang Pangeran.”

 

“Maksudmu Oh Sehun?” Tanya Yoona memperjelas.

 

“Iya. Dan aku baru mengetahuinya beberapa saat yang lalu.”

 

“Dari mana kau tau?”

 

“Aku tidak sengaja membuka portal berita Korea.” Chanyeol merogoh ponselnya dari dalam saku. “Ah, coba kau lihat.” Lelaki itu memberikan ponselnya pada Yoona.

 

‘Pangeran Korea dikabarkan berkencan dengan seorang gadis bernama Seohyun’

 

Judul berita itu membuat Yoona berhenti mengunyah. Dengan perasaan was-was, ia mengklik judul berita itu dan membaca isi beritanya.

 

‘. . . . .Pihak kerajaan belum memberi pernyataan tentang ini. Namun banyak yang menduga bahwa keduanya memang benar telah berkencan. Beberapa kabar juga menyebutkan bahwa keduanya akan segera melangsungkan pernikahan. . .’

 

Tiba-tiba Yoona kehilangan selera makannya, di dalam berita itu ia juga melihat beberapa foto yang menunjukkan kedekatan Sehun dan Seohyun. Keduanya tertangkap sedang bergandengan tangan saat keluar dari salah satu restoran terkenal.

 

Yoona mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya. Kemudian ia mengambil tissue dan mengelap bibirnya. “Aku kenyang.” Ucapnya.

 

“Tumben makanmu sedikit.”

 

“Aku sedang tidak selera saja.” Yoona mengambil tasnya kemudian beranjak dari tempat duduknya. “Aku pulang duluan.”

 

“Yak! Tunggu aku!.” Chanyeol berteriak memanggil Yoona, namun gadis itu berlari keluar dari restoran tanpa menghiraukan Chanyeol.

 

“Dasar aneh.”

 

_o0o_

 

Sehun benar-benar tak menyangka bahwa berita yang awalnya hanya tersebar di kalangan kampus, kini sudah diendus media. Beberapa media cetak dan televisi bahkan telah menyiarkan berita tentang dirinya dan Seohyun.

 

Saat sedang melihat-lihat perkembangan berita itu di media sosial, seseorang masuk ke kamar Sehun. Lelaki itu mendongakkan kepalanya melihat siapa yang datang.

 

“Sehun ah.” Dia adalah Seunghoon, ayahnya. Lelaki itu masuk dan duduk di pinggir tempat tidur.

 

“Bagaimana bisa mereka membuat berita seperti itu? Aku dan Seohyun masih dalam tahap pendekatan, tidak pacaran apalagi menikah.” Sehun mengutarakan kekesalannya. “Mereka benar-benar gila.” Ia merujuk pada si pembuat berita.

 

“Aku pikir kita harus segera membuat pernyataan yang jelas.” Ucap Seunghoon.

 

“Itu benar. Aku akan segera mengklarifikasi bahwa aku dan Seohyun tidak berpacaran.”

 

“Tidak seperti itu. Maksudku—“Seunghoon menatap putranya. “Mungkin sebaiknya kita membenarkan berita itu.”

 

“A-Apa?” Sehun menatap tak percaya pada ayahnya.

 

“Ini demi menjaga citra keluarga kerajaan. Lagi pula, banyak yang setuju jika kalian bersama. Masyarakat memiliki penilaian yang bagus tentang Seohyun.” Ucap Seunghoon dengan hati-hati.

 

“Tidak.” Sehun menggelengkan kepalanya. “Aku tidak akan melakukan itu. Aku hanya menginginkan—“ Kalimat Sehun terputus. Raut wajahnya berubah panik, ia hampir saja melupakan seseorang yang berada di Jepang. Sekarang ia merasa sangat khawatir, bagaimana jika orang itu mendengar atau melihat berita tentang dirinya.

 

Buru-buru Sehun mengambil ponselnya dan mencari kontak seseorang. Namun ia baru ingat bahwa di ponselnya tidak tersimpan kontak orang yang hendak ia hubungi.

 

“Berikan aku nomor ponselnya.” Sehun menatap ayahnya.

 

“Maksudmu—“

 

“Im Yoona. Aku harus meneleponnya.”

 

Sehun mengacak rambutnya kesal, entah sudah berapa kali ia menghubungi nomor itu namun yang ada hanya suara operator. Sehun benar-benar tidak tenang, bahkan sempat terlintas di pikirannya untuk terbang ke Jepang sekarang juga. Tapi itu tidak mungkin.

 

_o0o_

 

“Dasar pembohong.” Ucap Yoona sambil menatap layar ponselnya. “Kau berbicara tentang takdir padaku, tapi sekarang kau bersama adikku. Dasar menyebalkan.” Gadis itu mematikan ponselnya kemudian menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.

 

“Ck! Kenapa juga aku harus marah?” Tanyanya pada dirinya sendiri. “Ini adalah yang kuinginkan. Ini adalah yang terbaik.” Yoona mencoba meyakinkan dirinya.

 

Dan sejak hari itu, Yoona menjadi lebih fokus. Ia tak lagi memikirkan siapa-siapa, ibunya, Sehun, bahkan Seohyun. Yoona mengganti nomor ponselnya sejak ia menginjakkan kaki di Jepang. Alasannya, ia tak ingin dihubungi siapapun.

 

Kabar terakhir yang ia dengar adalah, pihak Kerajaan membenarkan tentang berita yang tersebar. Mereka menyatakan bahwa hubungan Pangeran dan kekasihnya berjalan sangat baik. Dan ada kemungkinan bahwa pernikahan akan dilakukan setelah Pangeran selesai dengan studinya.

 

Waktu terus berjalan, Yoona semakin menunjukkan eksistensinya. Setelah kurang lebih satu setengah tahun, Yoona sudah dipercaya untuk memproduksi komiknya sendiri. Kemampuannya juga berkembang pesat di dunia digital. Gadis itupun mulai mencoba untuk membuat karya animasi hidup.

 

“Hebat!. Kau benar-benar menemukan duniamu.” Puji Chanyeol.

 

“Terima kasih.”Yoona tersenyum.

 

“Tak terasa sudah hampir dua tahun kita di sini.”

 

“Kau benar. Sebentar lagi aku akan kembali ke Korea. Bagaimana denganmu?” Tanya Yoona.

 

“Aku juga, aku merindukan orang tuaku.”

 

Raut wajah Yoona berubah sendu, memikirkan orang tua membuatnya teringat pada ayahnya yang sudah meninggal dan ibunya yang membencinya. Saat kembali ke Korea nanti, Yoona berencana akan membeli apartemen dan tinggal sendiri. Ia tidak yakin ibunya akan menerimanya kembali ke rumah.

 

_o0o_

 

Tepuk tangan mengakhiri sambutan Yoona. Gadis itu baru saja selesai menyampaikan beberapa kalimat dan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang selama ini membantunya sehingga bisa seperti sekarang.  Hari ini Yoona mengadakan launching  animasi pertamanya.

 

“Bagaimana perasaanmu?” Tanya Chanyeol.

 

“Kata senang dan bahagia tidak cukup untuk menggambarkan perasaanku.” Jawab Yoona dengan mata berkaca-kaca.

 

“Selamat. Kau berhasil.” Chanyeol memeluk gadis itu sembari mengusap rambutnya.

 

“Jadi, apa sekarang?”

 

“Apa lagi? Ayo kita pulang.”

 

_o0o_

 

“Kau berhasil.”

 

Sehun tersenyum kepada sesuatu di layar ponselnya. Kemudian ia mendengar pintu kamarnya terbuka. Lelaki itu menoleh dan mendapati seorang lelaki berperawakan tinggi masuk ke kamarnya.

 

“Kenapa masih disini?” Tanya Kris.

 

Sehun hanya tersenyum tipis kemudian mematikan ponselnya. Lelaki berkulit pucat itu menatap sosok hyungnya.Kris terkejut ketika Sehun tiba-tiba memeluknya, ia bisa merasakan bahwa lelaki yang lebih muda itu menghela nafas berat.

 

“Aku tidak bisa, hyung.” Ucapnya putus asa.

 

Kris mengerti perasaan Sehun, ia tahu lelaki itu sangat tertekan. Terlebih beberapa saat lagi Sehun akan segera bertunangan dengan Seohyun. Ya, beberapa saat lagi, tinggal menghitung menit.

 

“Percayalah, jika berjodoh, kalian akan dipersatukan bagaimanapun caranya.” Kris berusaha memberi semangat. “Lagipula ini hanya pertunangan, belum sampai tahap menikah.” Lanjutnya.

 

“Aku mengerti.”

 

“Turunlah, orang-orang sudah menunggumu.”

 

Sehun mengangguk lesu, sebelum pergi ia mengecek kembali penampilannya di cermin. Di lihat dari manapun ia tetap terlihat tampan, hanya saja wajahnya tidak bersemangat.

 

Kris menatap punggung adik laki-lakinya yang mulai menjauh. Kris sangat menyesal karena tak bisa berbuat apa-apa. Tiba-tiba ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk.

 

From : Lil’ Sister

Aku sudah sampai di Korea.

 

Kris mengangkat kepalanya dan melihat Sehun yang semakin menjauh. Lelaki itu berpikir sejenak, kemudian berlari menghampiri Sehun.

 

“Ada apa, hyung?”

 

“Dia kembali.”

 

TBC

Advertisements

9 thoughts on “You Are My Destiny – 8

  1. Waaaahhhhh…. Aku ga berkomentar gimana alur ceritanya atau penyusunan kata2nya… Buatku sebagai pembaca adalah feelnya… Sebagus apapun penyusunan kata2nya kalo si pembaca ga menikmati sama aja blank… Aku jadi gemes sendiri… Ini salah satu cerita untuk pairing YoonHun yg aku ikutin dan ga sabar nunggu kelanjutannya… Next nya di tunggu…

      • Damn…!!! Aku mencium part yang menyakitkan selanjutnya… Apakah mereka akan bertemu seperti takdir yang mereka inginkan..? The answer is NO… Right..!! Sementara seohyun akan bersenang2 dengan sehun dan yoona akan mencoba mengabaikannya… This my mind… 🙂
        Whatever… Aku menunggu part selanjutnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s