The Devil’s Baby – 2

qq copy

The Devil’s Baby – 2

Oh Sehun | Im Yoona | Wu Shixun

Married Life

INFO! WU YIFAN DIGANTI JADI WU SHIXUN 😉

_OoO_

Kelopak mata Yoona bergerak-gerak sebelum akhirnya terbuka. Namun pandangannya buram, ia tidak bisa melihat dengan jelas, seperti ada kabut yang menghalangi pandangan matanya. Meski setengah sadar, tapi wanita itu menyadari bahwa ada seseorang yang sedang bersamanya. Di tempat tidur.  

 

“Shixun?” Tanyanya tak yakin, entah kenapa.

 

Kemudian ia merasa bibirnya dilumat dengan lembut, dan dingin yang menyergap tubuhnya membuat Yoona sadar bahwa ia tak tertutupi apapun. Wanita itu memejamkan mata ketika ciuman itu berpindah ke lehernya. Ia melenguh menikmati, jemarinya bergerak ke sisi wajah pria itu ingin memastikan siapa yang sedang bersamanya. Namun, semuanya terlalu buram dan tubuhnya terasa sangat lemas. Hingga akhirnya ia pasrah dan tak memikirkan apapun lagi selain menikmati sentuhan-sentuhan intim di tubuhnya.

 

-OoO-

 

Lelaki itu menggoyangkan gelas berisi anggur di tangannya. Iris biru lautnya menatap lurus ke depan, namun sesungguhnya pikiran lelaki itu melayang pada kejadian tadi malam. Kemudian pintu terbuka dan menampilkan seorang wanita cantik.

 

“Kau memikirkan sesuatu?”

 

“Yoona, istri Wu Shixun. Aku memikirkannya.” Jawab lelaki itu tanpa pikir panjang.

 

“Aku tidak mengerti.”Ujar Miyoung.

 

“Aku juga tidak mengerti.”

 

Wanita itu menatap Sehun dengan dahi berkerut seolah bertanya apa maksud perkataan lelaki itu barusan. Sehun menarik salah satu sudut bibirnya, ia meletakkan gelasnya di atas meja kemudian berdiri menatap Miyoung.

 

“Dia berbeda.”

 

-OoO-

 

“Bagaimana keadaanmu?”

 

Yoona meletakkan sendok yang ia gunakan untuk mengaduk kopi, kemudian berbalik dan menaruh gelas berisi kopi panas di atas meja. Wanita itu menunjukkan senyum manis kepada suaminya, namun ia merasa tak mendapat balasan yang sama.

 

“Aku baik.” Yoona berjalan mendekati Shixun kemudian memperbaiki dasi lelaki itu. “Hey, ada apa denganmu?” Tanya wanita itu ketika mendapati raut wajah kurang enak dari suaminya.

 

“A-aku hanya khawatir. A-apa semalam—“

 

*bugh

 

Yoona memukul lengan Shixun cukup keras membuat lelaki itu mengaduh. Shixun menatap bingung istrinya yang kini sedang berkacak pinggang.  “Kau—“ Yoona memicingkan matanya berusaha mengintimidasi Shixun. “—semalam kau menaruh sesuatu pada minuman itu ‘kan? Jangan mengelak.”

 

“A-aku tidak—maksudku, ya. Tapi hanya sedikit.” Ucap Shixun gelagapan, ia menduga-duga apakah Yoona menyadari kejadian semalam atau tidak.

 

“Sebenarnya kau tidak perlu melakukan itu.”

 

“Maafkan aku.” Ujar Shixun tulus, ia merasa sangat bersalah pada istrinya. Tapi ia tidak ada pilihan lain, ia telah terikat pada sesuatu.

 

“Kau juga harus minta maaf karena telah menyakitiku.”

 

“Dia menyakitimu?” Tanya Shixun cepat.

 

“Apa maksudmu ‘dia menyakitimu’ ? Kau yang menyakitiku.”

 

Shixun merutuki mulutnya yang kelepasan, lelaki itu kemudian memeluk istrinya erat dan bergumam maaf. Terbesit amarah dalam diri Shixun, dalam hati ia memaki Sehun. Sebelumnya ia telah mengingatkan Sehun untuk tidak menyakiti Yoona, namun lelaki itu malah berbuat sebaliknya.

 

“Aku benar-benar minta maaf.” Shixun mengecup puncak kepala istrinya.

 

“Hey, jangan menganggapnya serius.” Yoona tersenyum.”Minum kopimu dan pergilah bekerja. Kau sudah hampir terlambat.”

 

“Baiklah.”

 

“Aku menaruh bekal di tasmu.”

 

“Terima kasih.”

 

-OoO-

 

Beberapa minggu belakangan, semuanya berjalan normal seperti biasa. Hingga suatu hari, Miyoung mengajak Yoona berjalan-jalan di salah satu pusat perbelanjaan. Keduanya berbicara seputar permasalahan wanita dan juga topik lain yang sedang menjadi perbincangan masyarakat luas.

 

Tiba-tiba, Yoona merasa sesuatu mendesak keluar dari mulutnya. Dengan ditemani Miyoung, wanita itu berlari kecil mencari toilet. Yoona memuntahkan cairan bening dari mulutnya, terus berulang beberapa kali, hingga akhirnya wanita itu pingsan.

 

“Yoona?” Miyoung menepuk pipi wanita itu pelan. Tak mendapat respon,Miyoung merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang.

 

“Temui aku di rumah sakit.”

 

-OoO-

 

Indra penciumannya menangkap bau obat-obatan, pandangannya yang masih buram menatap sekelilingnya yang didominasi warna putih. Yoona memejamkan mata sejenak sebelum membuka kembali kelopak matanya.

 

“Kau sudah sadar?”

 

Wanita itu terkejut ketika mendapati seseorang yang tak ia duga berada di sana dan baru saja menanyakan keadaannya. Yoona terbayang kejadian beberapa saat lalu sebelum ia pingsan. Dan wanita itupun teringat pada Miyoung.

 

“Di mana dia?”

 

“Miyoung ada urusan mendadak.”

 

“Ba-bagaimana bisa kau ada di sini?” Tanya Yoona sambil memegang kepalanya yang masih sedikit nyeri. Wanita itu kemudian mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk.

 

“Miyoung menghubungiku saat kau pingsan.”

 

“Apa yang terjadi padaku?” Yoona menatap lelaki berparas tampan namun dingin itu.

 

“Kau hamil.”

 

“A-apa?”

 

“Kau sedang mengandung, Yoona.”

 

Lelaki itu menyentuh tangannya dengan pelan kemudian menciumnya, sama seperti saat pertemuan pertama mereka di pesta. Dengan ragu dan penuh tanya, Yoona menarik tangannya dari lelaki itu. Kemudian ia teringat akan suaminya. Ia harus menyampaikan kabar gembira ini pada Shixun.

 

“Aku harus memberitahu suamiku.” Yoona mencari tasnya.

 

Sehun mengernyit tak suka, ia merasa diacuhkan dan ia tidak menyukai hal itu. Buru-buru ia menangkap tangan Yoona yang sedang mencari-cari sesuatu di tasnya. Sontak wanita itu mendongak menatap Sehun penuh tanya.

 

“Suamimu sudah tahu.”

 

“Benarkah?”

 

“Aku akan mengantarmu pulang.”

 

“Terima kasih, aku bisa pulang sendiri.”

 

“Aku akan mengantarmu pulang.” Ujar lelaki itu dengan nada tajam dan sedikit penekanan.

 

“Tapi—“

 

“Aku hanya ingin memastikan keselamatanmu dan bayimu.”

 

Yoona tak berbicara lagi, lelaki yang sedang menggandeng tangannya sekarang memiliki aura yang sangat kuat dan begitu mengintimidasi. Sejujurnya, Yoona sangat bingung dengan sikap Sehun sejak mereka pertama bertemu.  Setelah pesta itu, mereka bertemu beberapa kali, dan lelaki itu selalu bersikap—yang menurut Yoona—aneh padanya.

 

-OoO-

 

Berkali-kali Yoona menolak dan secara halus menyuruh lelaki itu pulang, namun lagi-lagi Sehun menunjukkan bahwa ia tak bisa dibantah, lelaki itu mengantar Yoona sampai di depan pintu apartemen. Wanita itupun mengucap terima kasih berkali-kali.

 

“Apa ada sesuatu di sini yang membuatmu tidak nyaman?” Tanya Sehun.

 

“Tidak. Apartemen ini sangat nyaman, aku suka.”

 

“Baguslah.”

 

Lelaki itupun berbalik meninggalkan Yoona yang berdiri di pintu apartemen. Sepeninggal Sehun, Yoona menghela nafas lega. Ia tak tahu kenapa, setiap bersama lelaki itu Yoona merasa sedikit sesak dan gugup. Aura lelaki itu benar-benar kuat.

 

Tak lama berselang, Shixun pun tiba dan segera berteriak memanggil istrinya. Lelaki itu langsung memeluk Yoona ketika melihatnya. Shixun sudah tahu perihal kehamilan Yoona yang membuatnya senang sekaligus sedih.

 

“Shixun, aku ingin berbicara sesuatu.”

 

Lelaki itu melepas dasinya dan bergabung dengan Yoona duduk di pinggir tempat tidur. Ia menemukan raut wajah istrinya agak serius. “ Kau ingin bicara apa?” Tanya Shixun.

 

“Ini mengenai rekanmu, Oh Sehun.”

 

Shixun meneguk salivanya dengan susah payah ketika wanita itu menyebut nama temannya. Ia meraih tangan Yoona dan menunggu wanita itu melanjutkan perkataannya.

 

“Menurutku dia agak aneh.”

 

“Apanya yang aneh?”

 

“Sikapnya.” Ujar Yoona cepat. “Menurutku dia terlalu perhatian padaku.” Wanita itu mengucapkannya dengan ragu. “Tapi bisa saja dia bersikap seperti itu pada wanita lain. Entahlah, bisa saja seperti itu.” Sambungnya cepat.

 

“Aku yakin dia yang memberitahumu tentang kehamilanku.” Ucap Yoona lagi.

 

“Itu benar, dia meneleponku.”

 

“Ya, dia mengatakannya padaku. Dan aku juga bingung dengan sikap saudaranya, Miyoung.  Kenapa dia menghubungi saudaranya? Kenapa tidak menghubungimu?”

 

“Yoong.” Shixun mengusap rambut wanita itu.

 

“Mereka benar-benar aneh.”

 

“Jangan memikirkan hal tidak penting, lebih baik pikirkan dirimu sendiri dan bayi. . . ..” Shixun berucap ragu, “. . .kita.”

 

-OoO-

 

Di kehamilannya yang ketiga, Yoona tidak mengidam yang aneh-aneh. Hanya saja ia lebih suka berjalan-jalan di luar, dan itu membuat Shixun sedikit khawatir karena tak bisa menemani istrinya. Seperti sekarang, Yoona berada di taman membaca sebuah buku sambil makan makanan ringan. Tak sengaja tangannya menyenggol botol air mineral membuat botol itu jatuh—tidak, botol itu jatuh ke tangan seseorang bahkan sebelum menyentuh tanah.

 

“Tu-Tuan Oh?.” Yoona sangat terkejut melihat pria itu tiba-tiba berada di depannya, membungkuk menangkap botol airnya.

 

Pria itu—Sehun—menegakkan kembali tubuhnya dan meletakkan botol air mineral itu ke tempat semula. Masih dengan raut wajah bingung, Yoona berdiri dari tempatnya dan menatap pria itu dengan alis berkerut.

 

“Apa yang Anda lakukan di sini?.” Tanya Yoona.

 

Namun raut wajah Sehun tidak menunjukkan tanda-tanda akan menjawab pertanyaan Yoona. Lelaki itu justru melakukan sesuatu yang membuat Yoona lebih terkejut lagi. Tampaknya Sehun selalu melakukan hal-hal mengejutkan bagi wanita itu.

 

“Bagaimana keadaannya?” Tanya Sehun sambil memegang perut Yoona yang mulai membuncit.

 

“D-Dia baik.” Jawab Yoona seadanya.

 

“Bagus.” Sehun  tersenyum tipis, sangat tipis dan hanya sepersekian detik.

 

-OoO-

 

Dengan terburu-buru Yoona masuk ke apartemen kemudian menguncinya. Pertemuannya dengan Sehun tadi berserta tindakan pria itu membuatnya tidak tenang. Jantungnya berdegub sangat cepat, ditambah keringat dingin di wajahnya.

 

Siapa sebenarnya pria itu?” Batin Yoona. Ia menunduk menatap perutnya sambil membayangkan kejadian beberapa saat yang lalu dimana Sehun menyentuh perutnya.

 

Yoona mengusap peluh di wajahnya, detak jantungnyapun perlahan normal kembali. Wanita itu berjalan menuju kamar mandi, ia ingin berendam untuk menenangkan pikirannya.

 

Yoona menyalakan keran air hangat untuk berendam, tak lupa aroma terapi yang akan memanjakan indera penciumannya. Wanita itu menanggalkan pakaiannya kemudian menggulung rambutnya ke atas. Kaki jenjangnya melangkah masuk ke dalam bath up kemudian wanita itu memposisikan dirinya senyaman mungkin. Perlahan wanita itu memejamkan kedua kelopak matanya.

 

-OoO-

 

Pintu itu terbuka dengan sangat pelan, bahkan udara  di sekitarnya tampak tak terganggu sama sekali. Sepasang mata biru menatap lekat sosok wanita yang sedang berendam nyaman di dalam bak mandi dengan kelopak mata tertutup.

 

Pemilik mata biru itu bergerak melangkahkan kakinya tanpa menimbulkan bunyi apapun. Ia berjongkok dan memperhatikan wanita yang berjarak kurang dari 1 meter darinya. Lengannya terangkat ke depan dengan jemari panjangnya yang bergerak hendak menyentuh pipi wanita di depannya.

 

Dan sentuhan lembut itu membuat si wanita bereaksi, tubunya tersentak kaget dibarengi dengan kelopak matanya yang terbuka. Namun saatitu juga, si wanita merasakan suatu ketidakberdayaan yang luar biasa. Kelopak matanya sayu dan pandangannya kabur, tak bisa melihat dengan jelas. Ia merasakan suatu kecupan lembut di pelipisnya seiring dengan tubuhnya yang  diterpa udara dingin karena keluar dari rendaman air hangat.

 

“Sh-Shixun?” Ucapnya ragu dan lemah, sangat lemah.

 

Hingga ia merasakan punggungnya bersentuhan dengan kain, terasa empuk dan nyaman. Ia tahu dirinya berada di tempat tidur.

 

“Shi—“

 

Ucapannya terpotong ketika bibirnya dipagut dengan mesra oleh seseorang yang kini berada di atasnya. Untuk ke sekian kalinya Yoona berusaha memperjelas pandangannya, namun kabut yang menghalangi tak kunjung hilang.

 

“Mmhhh. .  .”

 

Ia merasakan kecupan itu turun ke rahangnya, kemudian berlanjut ke leher. Selama beberapa saat kecupan itu tertahan di sana, sebelum akhirnya semakin turun dan melingkupi puncak dada sebelah kirinya, sementara dada sebelah kanannya diremas dengan lembut.  Hal itu terus berlanjut hingga tahap penyatuan.

 

-OoO-

 

“Kau dari mana saja, hah? Kau hampir membuat perusahaan kita kehilangan partner penting.”

 

“Percayalah, kita tak akan kehilangan apapun, merekalah yang akan kehilangan kita.”

 

Well, baiklah. Tapi jawab pertanyaanku.”

 

Sehun menatap Miyoung, keduanya bertatapan cukup lama. Hingga akhirnya raut wajah Miyoung berubah. Dan ketika itu terjadi, Sehun langsung meninggalkan wanita itu.

 

“Oh Sehun!.” Wanta itu sedikit berteriak. “Usia kandungannya masih terlalu muda, kau bisa mencelakainya dan bayinya.”

 

Lelaki itu berhenti kemudian menoleh. “Bayinya? Itu keturunanku .”

 

“Terserah, tapi kumohon, tahan dirimu.” Ucap Miyoung dengan tatapan memohon.

 

-OoO-

 

Shixun memeluk tubuh istrinya dengan erat , berkali-kali ia mendaratkan kecupan lembut di keningnya seraya bergumam ‘maaf’. Tak berapa lama kemudian, wanita dalam pelukannya menunjukkan tanda-tanda akan terjaga.

 

“Enghh, Shixun?” Gumam Yoona. Kelopak matanya mengerjap pelan, sebelum akhirnya terbuka dan memicing menatap laki-laki yang sedang memeluknya.

 

“Iya, sayang?”

 

Yoona tak menjawab, ia sedang mengumpulkan kesadarannya. Wanita itu bergerak-gerak dan melepaskan diri dari pelukan suaminya.  Kemudian ia menyadari bahwa dalam balutan selimut tubuhnya tak tertutupi sehelai benangpun. Otaknya langsung mengingat kejadian beberapa saat lalu dimana ia sedang berendam air hangat dan—

 

“Akh!” Shixun meringis ketika lengannya mendapat cubitan manis.

 

“Kau keterlaluan, usia kandunganku masih terlalu dini untuk itu.” Ucap Yoona dengan wajah kesal dan cemberut. Meski begitu, ia kembali merapatkan diri ke tubuh suaminya untuk dipeluk. Shixun hanya tersenyum—miris—dan balas memeluk Yoona.

 

“Maafkan aku.” Ucapnya.

 

“Akhir-akhir ini kau sering minta maaf, seolah telah melakukan dosa besar.” Yoona berujar dengan nada sinis namun raut wajahnya sedang tersenyum, menggoda pria itu. Tak menyadari bahwa Shixun menegang dengan ucapannya barusan.

 

“Ya,aku memang telah melakukan dosa besar, istriku.”

 

-OoO-

 

Hari demi hari berlalu, tak terasa usia kandungan Yoona sudah menginjak 7 bulan. Perut buncitnya sudah sangat terlihat.  Yoona sangat berhati-hati dalam bergerak, karena tak ingin kejadian buruk itu terulang kembali.

 

Saat ini, ia sedang berbelanja di supermarket yang berada tak jauh dari apartemennya. Bahan makanan di kulkas mulai menipis dan mengharuskannya berbelanja. Yoona berbelanja sayuran, buah, daging, dan beberapa makanan lainnya. Setelah dirasa cukup, ia mendorong troli belanjaan menuju antrean di kasir. Tapi sebelum itu, ia teringat akan sesuatu.

 

“Ah, susu ibu hamilku sudah habis.”

 

Terpaksa Yoona kembali mendorong trolinya menuju rak yang menyediakan susu untuk ibu hamil.  Sampai di sana, ia mencari merk susu ibu hamil yang selama ini dikonsumsinya. Sayang sekali, merk yang dimaksud berada di rak atas yang tak terjangkau olehnya.

 

“Sepertinya aku harus meminta bantuan.”

 

Bertepatan dengan itu, seseorang datang dari belakang dan menghadang Yoona yang hendak meninggalkan tempatnya untuk mencari pertolongan. Wanita itu terlonjak kaget, entah kenapa udara di sekitarnya terasa menipis dan membuatnya susah bernapas. Setelah beberapa bulan belakangan tak pernah terlihat, kini laki-laki itu muncul di hadapannya sambil meletakkan kotak susu ke dalam troli.

 

“Apa kabar?” Tanyanya.

 

Yoona tak menjawab, ia hanya mengencangkan pegangannya pada troli belanjanya. Namun perlahan pegangannya terlepas ketika lelaki itu menarik trolinya menjauh, dan lelaki itu mendekat, berdiri tepat di depannya.

 

“Bagaimana keadaannya?” Lagi, lelaki itu menyentuh perut buncitnya dengan tatapan yang terus mengarah kepada Yoona.

 

“Ba-bayiku baik-baik saja.” Jawab Yoona seadanya.

 

“Senang mendengarnya.” Sehun tersenyum tipis.

 

“Hey, troliku—“ Yoona berseru ketika melihat seseorang mendorong trolinya pergi.

 

“Dia membawa trolimu ke kasir. Ayo kita menunggu di luar.”

 

Untuk beberapa saat Yoona merasa kebingungan, sebelum akhirnya ia mengikuti lelaki yang berjalan tenang di depannya. Diam-diam Yoona menatap punggung lebar pria bertubuh tinggi itu, dalam hati ia bertanya-tanya ada urusan apa lelaki itu tiba-tiba muncul di sana tanpa membeli apapun. Sungguh aneh.

 

Keduanya menunggu di luar, sebelum akhirnya seorang pria keluar dari supermarket membawa beberapa kantong plastil berisi barang-barang belanjaan Yoona.

 

“Masukkan ke bagasi.” Ucap Sehun.

 

“Tidak perlu, aku—“

 

“Masuklah.”

 

Yoona terdiam, sejujurnya ia agak kesal dengan pria itu yang berbuat sesuatu tanpa meminta persetujuannya. Cukup lama mereka bertatapan, sebelum akhirnya Yoona menyerah. Ia membuka pintu mobil dan duduk di jok belakang, diikuti Sehun yang duduk di sampingnya.

 

Sehun menatap kaca di depan, ia bertemu pandang dengan lelaki yang akan mengemudikan kendaraannya. Dan hal itu luput dari perhatian Yoona, wanita itu sibuk dengan pikirannya  mengenai segala keanehan yang ada pada Sehun. Tapi kemudian ia menyadari bahwa ia tidak dalam perjalanan pulang menuju apartemennya.

 

Yoona yang tadinya menghadap jendela, kini menolehkan kepalanya hendak bertanya pada pria di sampingnya. “Ini bukan—“

 

Ketidakberdayaan itu lagi-lagi menghampirinya, dimana penglihatannya dipenuhi kabut tebal dan tubuhnya yang melemah. Sehun merapatkan tubuhnya kepada wanita itu, iris biru lautnya menatap mata yang sekarang dipenuhi kekosongan, kemudian mengecup pelan bibir merah mudanya.

 

“Kau membuat rencanya berubah.”

 

TBC

Cuma mau ngasih tau kalo gue lebih aktif di wattpad.

Advertisements

7 thoughts on “The Devil’s Baby – 2

  1. Ceritanya bikin penasaran, kayaknya Sehun bener2 udah terobsesi banget deh sama Yoona, publishnya lebih cepet lagi dong Eonni, jangan lama lagi ya Plissss….

  2. wah joha, neomu2 joha *_*. gua pkir author gk bkal lnjutin lgi ff nya. v skali update mlh kependkn, but it’s ok. asalkan author updte, itu udh ckup kok. btw ff ini author publish kgk diwattpad?? keep writing y thor fighting ^_^V

  3. Nunggu ini….sumpah….
    Tp knp wu yi fan nya ganti??? Padahal kemarin udah dapat feelnya…di poster mereka kembar ya??? Jgn dibuat kembar dong??? Hehehe…

  4. akhirnya update juga ak udh lama nungguinya kirain gk akn diterusin lg… but knapa harus diganti wu yifanya?. bukanya mendingy orangnya beda kalau sama wajahnya yg ngebayangin agak bingung y…trus yoona mau dibawa kemana tuh
    pliss jangan lama2 dong updatenya bikin penasaran nih semanagat nulisnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s